Jual Rumah dan Motor, di Kapal Hanya Makan Mie Instan Mentah

Ketujuh ABK KM Jaya Utama saat diterima Kasat Polair AKP Baharuddin dan Kepala KSOP Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke Susanto Masita di Kantor Satpolair Merauke di areal Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke, Rabu (10/3). (FOTO :Sulo/Cepos )

Pengakuan ABK Kapal Cumi yang Melarikan Diri Karena Tidak Tahan Kerja Paksa

Sejumlah cerita yang memprihatinkan dialami oleh para Anak Buah Kapal (ABK) kapal penangkap cumi. Karena tidak tahan, tujuh ABK kabur saat KM Jaya Utama tempatnya bekerja, sandar di Merauke. Seperti apa pengalaman pahit yang mereka alami?

Laporan: Yulius Sulo, Cepos Merauke

Siang itu, Rabu (10/3) sekitar pukul 12.00 WIT, 7 laki-laki duduk diatas kursi plastik warna hijau di ruang tamu Kantor Satuan Polair Resor Merauke. Wajah mereka tampak lesu, mungkin karena kurang istirahat. Dari 7 laki-laki tersebut, rata-rata berumur antara 20-30 tahun. Hanya satu orang yang berumur di atas 40 tahun bernama Syahri.
Wasim, salah satu ABK tersebut mengaku bahwa jika pergi berlayar sebagai ABK Kapal Cumi tersebut merupakan pengalaman pertama dan tak mengenakan. Menurut Wasim, bahwa melalui calo di kampung halamannya, mereka diberi iming-iming akan mendapatkan penghasilan antara 4-5 juta perbulannya.
Karena tertarik dengan gaji yang cukup besar tersebut, membuat Wasim tak berpikir panjang. Iapun menjual 2 sepeda motor miliknya sedangkan 1 uit lainnya ia gadaikan dengan harapan akan mendapatkan uang yang lebih besar lagi. ‘’Tapi kalau pak Syahri dia menjual rumahnya. Karena selain dia, 2 anaknya ikut sama-sama, Cahyana dan Andriansyah,’’ katanya.
Wasim mengaku rela menjual dan menggadaikan motornya tersebut karena tertarik dengan iming-iming yang disampaikan oleh calo. Tapi ternyata yang didapatkan zonk dan penderitaan. Setelah mendaftar, selanjutnya mereka berangkat dari Jakarta menuju Sorong dengan menggunakan kapal putih dengan biaya sendiri, hasil jual motor dan rumah.
Kapal yang mereka akan tempati bekerja tersebut (KM Jaya Utama) berada di Sorong. Sampai di Sorong, Wasim mengaku masih menunggu sekitar 2 minggu baru berlayar. “Sebelum kami melaut, kami hanya menandatangani satu lembar kertas yang berkaitan perjanjian pembagian hasil tangkapan,’’ kata Aris Setiawan.
Saat pihak Satpolair menunjukkan contoh perjanjian kerjsama (PKS) yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban ABK yang didalamnya terkait jaminan kesehatan dan jaminan tenaga kerja yang ditandatangani juga oleh Syahbandar Pelabuhan, para ABK ini mengaku tidak ada surat tersebut.
Kemudian saat mulai berlayar, para ABK tersebut menceritakan penderitaan yang dialami di laut. Andre Rizqi Pratama, ABK lainnya menjelaskan bahwa waktu istirahat mereka hanya sedikit saja. Karena mereka bekerja memancing cumi mulai pukul 19.00 malam sampai pukul 05.00 pagi.
“Setelah selesai mancing, kita tidak langsung istirahat tapi Tekong (Nahkoda) suruh kita perbaiki pancing katanya supaya bisa dapat Cumi banyak. Dan itu dilakukan setiap harinya,’’ kata Andre Rizqi Pratama.
Kemudian soal makan, Wasim mengaku hanya 2 kali sehari yakni pagi dan malam. Tapi, lebih banyak makan mie instan dari pada makan nasi. ‘’Tapi mie instannya tidak di masak. Kalau dimasak tekong marah. Ya, terpaksa kita makan mentah saja dan itu hampir dilakukan setiap harinya,’’ lanjut Wasim.
Yang membuat semakin tidak betah dan tersiksa di atas kapal tersebut, ketika ada yang sakit, tetap di paksa untuk kerja mancing cumi. ‘’Masih ada satu teman kami diatas kapal itu, yang kadang kakinya bengkak-bengkak, tapi tekong tetap suruh kerja. Kalau tidak kerja, dia tarik dari kamar,’’ katanya.
Karena tak tahan di atas kapal tersebut, membuat ketujuh ABK tersebut yakni Syahri dan kedua anak kandungnya Cahyana dan Andriansyah lalu Aris Setiawan, Wasim dan Andre Rizqi Pratama turun dari kapal dan tak mau lagi ikut mencari cumi tanpa mendapatkan satu rupiah.
Saat pertemuan dengan Kasat Polair Resor Merauke AKP Baharuddin dan Kepala KSOP Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke Susanto Masita, Risma mengungkapkan bahwa meski tak mengenal ketujuh nelayan ini namun karena mereka sedang kesusahan sehingga dirinya menampung di rumahnya dengan memberikan beras untuk bisa masak selama berada di Merauke. ‘’Saya hanya bisa membantu dengan menampung memberi beras untuk mereka bisa masak sendiri,’’ kata Risma.
Sementara itu, Wasim, salah satu dari 7 nelayan tersebut mengaku ingin segera pulang ke kampung halaman mereka di Cirebon. Hanya saja, mereka tidak punya uang untuk membeli tiket. Karena selama 3 bulan bekerja diatas kapal, sama sekali belum mendapatkan gaji. Bahkan masih berutang kepada tekong sebesar Rp 4 juta namun uang cash yang dikasih saat itu hanya Rp 2,5 juta. ‘’Kami pinjamnya Rp 4 juta tapi yang dikasih hanya Rp 2,5 juta,’’ kata Kasim. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *