Fisip Uncen Kantongi Lampu Hijau untuk Pusat Studi Pasifik

Pembantu Rektor IV Uncen, Dr Frederik Sokoy (depan dua dari kanan) didampingi Dekan Fisip, Dr Septinus Saa (depan dua dari kiri) dan Ketua Pusat Studi Indo – Pasifik, Dr Melyana Pugu (depan kanan) berfoto bersama dengan dosen dan staf Fisip usai penandatanganan nota kesepahaman antara Uncen dengan pihak Kemekopolhukam dan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemenlu di ruang rektorat Uncen, Jumat (12/3). (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Fisip Universitas Cenderawasih akhirnya resmi memiliki pusat studi Indonesia – Pasifik yang dalam waktu dekat sudah mulai action. Ini setelah pada Jumat (12/3) kemarin dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman Kemenko Polhukam dan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri dengan Universitas Cendrawasih tentang pembentukan pusat studi Indonesia – Pasifik.
Penandatanganan nota kesepahaman ini disaksikan langsung oleh Dr Siswo Pramono selaku kepala BPPK dan Plt Deputi Bidang Koordinasi Pollugri, Dr Pribadi Sutiono serta perangkat dosen Fisip Uncen. Pusat studi ini nantinya bisa menjadi lab atau dapur yang banyak membahas tentang hal – hal yang sifatnya penelitia dan kerjasama. Dekan Fisip Uncen, Septinus Saa, S.Sos., M.Si menjelaskan bahwa ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan.
Mulai dari riset kolaboratif termasuk pertukaran pelajar juga bisa dilakukan. Pusat studi ini juga akan membackup pemerintah terkait pembuatan kebijakan internasional dan membahas soal isu strategis maupun soal keamanan di kawasan perbatasan. Pertukaran mahasiswa juga akan dilakukan, mahasiswa asal pasifik bisa belajar di Uncen. “Dosen kami juga bisa lakukan penelitian bersama di kawasan pasifik,” jelas Septinus Saa didampingi Ketua Pusat Studi, DR Melyana Pugu usai penandatanganan. Ia mengakui jika ini adalah perjalanan yang cukup panjang dan akhirnya disetujui.
“Nilai plus lainnya adalah bisa saling memahami dan mempererat hubungan. Ada hal-hal yang bisa dilakukan lewat riset ilmiah sebab dalam hubungan antar negara bisa terjadi kesalahpahaman karena tidak saling memahami dan kami pikir ini lebih mudah karena secara kultur ini sama – sama melanesia,” imbuhnya.
Pembantu Rektor IV, DR Frederik Sokoy mewakili Rektor Uncen, mengaku bangga karena hal ini buah kerja keras para dosen dan staf di Fisip Uncen. “Ini penting karena selama ini kita belum memiliki pusat kajian yang mengambil locus pada wilayah pasifik. Kita tinggal di pasifik namun tidak banyak menggarap wilayah pasifik dan pusat studi ini akan jadi menarik dengan tetap menjalankan tiga poin yakni pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat,” imbuh Sokoy. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *