Tujuh ABK Kapal Cumi Melarikan Diri

Ketujuh ABK KM Jaya Utama, kapal cumi saat bertemu dengan Kasatpolair AKP Burhanuddin dan Kepala KSOP Pelabuhan Nusantara Merauke Susanto Masita di Kantor Satpolair Merauke, Rabu (10/3). (FOTO:Sulo/Cepos)

MERAUKE- Tujuh anak buah Kapal Motor (KM) Jaya Utama, melarikan diri. Ketujuh ABK tersebut melarikan diri karena tidak tahan dengan kerja paksa yang diterapkan di atas kapal tempat mereka kerja. Ketujuh ABK yang memarikan diri tersebut adalah Syahri dan kedua anak kandungnya Cahyana dan Andriansyah. Aris Setiawan, Wasim dan Andre Rizqi Pratama.
Wasim, salah satu ABK tersebut saat diterima Kasat Polair AKP Burhanuddin dan Kepala KSOP Pelabuhan Nusantara Merauke Susanto Masita di Kantor Satpolair Merauke bahwa mereka turun dan meninggalkan kapal tersebut saat berlabuh di Kali Kumbe pada tanggal 5 Maret 2021 lalu.
‘Kami turun dan tidak mau lagi ikut dengan kapal, karena kita sangat menderita. Kita sakit tetap dipaksa untuk bekerja,” kata Wasim.
Padahal, kata Wasim, untuk ikut kapal cumi tersebut dirinya telah menjual 2 sepeda motor dan menggadaikan 1 unit motor lainnya. Selain dipaksa tetap bekerja saat sakit, Wasim menjelaskan bahwa untuk makan juga cukup memprihatinkan. Menurutnya, dalam sehari hanya 2 kali makan yakni pagi dan sore hari. Sementara untuk siang hari tidak makan.
Sementara untuk makan, hampir setiap hari berupa mie instan. “Tapi mie instannya tidak dimasak. Dimakan mentah langsung. Kalau mau dimasak, tekong (kapten,red) marah,’’ kata ABK lainnya.
Menurutnya, sebanyak 19 orang yang naik dari Sorong tanpa dilengkapi jaminan kesehatan dan jaminan kecelakaan maupun kematian. Yang ada saat ditandatangani kontrak kerja tersebut hanya berupa pembagian hasil tangkapan cumi yakni diberi gaji pokok sehari Rp 30.000 dan untuk hasil tangkapan cumi diberi fee atau bonus sebesar Rp 8.000 perkilo.
Namun hasil tangkapan selama 3 bulan ikut dengan kapal tersebut, sama sekali tidak dibayarkan oleh pihak kapal. “Ada satu teman yang sakit di atas tapi dia tetap bertahan. Kami tidak tahan sehingga kami turun,” kata Wasim.
KM Jaya Utama tambah Wasim saat ini sudah berlayar kembali ke tengah laut untuk mencari cumi tersebut. “Kemarin itu datang di sana untuk berlindung,” terangnya.
Wasim mengaku pihaknya ingin pulang ke kampung halaman di Cirebon, Jawa Barat, namun pihaknya tidak memiliki uang untuk balik. ‘’Karena sama sekali kami tidak dikasih uang,’’ tambahnya.
Kasat Polair Burhanuddin menjelaskan bahwa pihaknya memanggil ke-7 ABK ini karena informasinya bahwa mereka ditelantarkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Merauke. ‘’Tapi, setelah kita panggil dan dengar apa yang mereka alami di atas kapal, kita cukup sedih dan prihatin juga,’’ tandas Kasat Polair. (ulo/tri)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *