Pesan Kebersamaan, Jaga Toleransi Antar Umat Beragama

IBADAH BERSAMA: Sekda Provinsi Papua, Dance Y. Flassy dan Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano saat mengikuti ibadah bersama memperingati Hari Pekabaran Injil ke-111 di Tanah Tabi di Gereja Pniel Kotaraja, Kota Jayapura, Rabu (10/3).(Foto:Gratianus Silas/Cepos)

JAYAPURA-Peringatan Hari Pekabaran Injil ke-111 di Tanah Tabi disyukuri dalam ibadah bersama yang dilakukan secara sederhana di Gereja Pniel Kotaraja, Rabu (10/3).
Mengenang perjalanan panjang sejak pertama kalinya Injil Kristus masuk di Tanah Tabi, tahun ini dimaknai di tengah pandemi Covid-19.
Untuk itu, ibadah dilakukan secara sederhana dengan undangan yang terbatas, dan tempat duduk yang diatur jaraknya sesuai standard prosedur protokol kesehatan. Selain Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., dan jajaran Pemkot Jayapura, hadir pula Sekda Provinsi Papua, Dance Y Flassy, Ketua DPRD Kota Jayapura, Abisai Rollo, dan anggota DPRD Kota Jayapura lainnya dan jemaat pada umumnya.
“Kita hanya melakukan doa syukur yang dilakukan di ruangan tertutup dan dihadiri secara terbatas. Tidak seperti biasanya yang dilakukan di tempat terbuka yang dipusatkan di pulau Metu Debi,” ungkap Wali Kota Dr. Benhur Tomi Mano, MM., Rabu (11/3).
Memaknai HPI ke-111 di Tanah Tabi, Wali Kota Mano menekankan pentingnya pesan kebersamaan bagi seluruh masyarakat yang hidup di Kota Jayapura. Terlebih masyarakat di Kota Jayapura yang datang dari berbagai latar belakang suku, ras, agama, etnis, dan budaya, sehingga harus hidup saling menghargai satu dengan yang lainnya.
“Ini kota majemuk yang ditinggali seluruh suku, agama, etnis, dan budaya. Untuk itu, kita hidup saling menghargai satu dengan yang lain. Kita hidup berdampingan satu dengan yang lain, walaupun dalam perbedaan,” tegasnya.
Oleh karena itu, sebagai ibu kota Provinsi Papua, seluruh masyarakat menyatukan hati untuk menjaga dan membangun Kota Jayapura sebagai rumah bersama.
“Mari kita satukan hati untuk jaga dan bangun kota ini sebagai rumah kita. Kalau kita bersatu dalam perbedaan, kota ini akan indah. Kalau kita bersatu, kota ini aman, tidak ada perselisihan, tidak ada amarah. Apalagi kita hidup sebagai orang beriman yang takut akan Tuhan,” jelasnya.
“Kita jaga toleransi antar umat beragama di Kota Jayapura. Jangan ada perselisihan antar umat beragama. Kita harus menjaga toleransi. Kita harus jaga persatuan dan kesatuan di Kota Jayapura, sebab kota ini dibangun dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tambahnya.
Ketua GKI Klasis Port Numbay, Pdt. Hein Carlos Mano, juga menekankan hal serupa, dimana masalah sosial menjadi persoalan di kota yang sedang berkembang.
“Dalam kota yang sedang berkembang, dengan berbagai masalah sosial, kita harus kembali kepada Injil yang menjadi kekuatan yang menyelamatkan. Injil yang menyatukan semua orang. Nilai-nilai Injil harus tertanam dalam setiap insan di Kota Jayapura,” ungkap Pdt. Hein Carlos Mano.
“Dengan demikian, terjamin kehidupan bersama yang kondusif, yang baik, yang dalam situasi aman dan tentram, kita bisa memikirkan pembangunan kota ke depan dengan lebih baik,” pungkasnya. (gr/nat)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *