Dulu Ribuan Pengunjung, Kini Bisa Dihitung Sebelah Tangan

MENJAGA EKSISTENSI: Sejumlah seniman berlatih di tempat pertunjukan Saung Angklung Udjo, Bandung, Jumat (19/2). Pihak pengelola melakukan berbagai cara agar Saung Angklung Udjo bisa terus bertahan.

Saung Angklung Udjo Menolak Mati!

Tentang upaya sang penjaga budaya melawan hantaman pandemi: pertunjukan daring, konten YouTube, konser hybrid, dan kepedulian dari dunia maya.

SAHRUL YUNIZAR, Bandung, Jawa Pos

JUMAT siang. Menjelang akhir pekan. Waktu panen bagi destinasi wisata. Itu dulu. Sebelum pandemi. Kini, mau Jumat, Sabtu, Minggu, atau hari-hari lainnya, yang ada adalah keprihatinan. Saung Angklung Udjo, Kota Bandung, salah satu contohnya.
Dari 1.000–2.000 ribu pengunjung, terutama pada akhir pekan, kini seperti yang dilihat Jawa Pos pada Jumat siang tiga pekan lalu (19/2), jumlah pengunjung bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan. Di area parkir cuma ada beberapa kendaraan. Itu pun kebanyakan milik warga yang titip. Masuk ke samping loket karcis, hanya ada tiga pegawai. Mereka sedang membuat angklung. Pesanan beberapa orang. ”Memang sepi, mirip bulan puasa. Biasanya (selama pandemi, Red) begini,” kata Rian, pegawai bagian operasional Saung Angklung Udjo.
Padahal, Saung Angklung Udjo boleh dibilang salah satu penjaga tradisi dan kebudayaan masyarakat Sunda. Namun, pagebluk virus korona sejak Maret tahun lalu menghadapkannya pada ketidakpastian. Hantaman paling keras datang dari kebijakan yang membatasi ruang gerak masyarakat sebagai efek pandemi.
”Objek wisata seperti Saung Angklung Udjo mengajak orang berkumpul untuk berinteraksi dengan kami, tidak hanya menonton. Sekarang orang tidak boleh berkumpul, kan jadi sangat sulit bagi kami,” jelas Direktur Utama Saung Angklung Udjo Taufik Hidayat.
Di rumah angklung di kawasan Cicaheum yang didirikan Udjo Ngalagena itu, yang datang –yang tidak hanya berlatar belakang etnis Sunda, bahkan banyak yang dari luar negeri– memang bisa menyaksikan langsung pertunjukan dan belajar membuat angklung. Juga, menapaki jejak sejarah alat musik khas Sunda tersebut.
Ibarat petinju, Kang Opik –sapaan akrab Taufik Hidayat– sebenarnya sudah berusaha selincah-lincahnya menghindari hantaman pandemi. Setiap hari dia menemui banyak pihak. Baik sesama pengusaha di industri pariwisata maupun pejabat pemerintah.
Namun, kondisi memang tengah sulit sekali. Orang-orang takut bepergian. Bukan hanya karena faktor kesehatan, tetapi juga karena tekanan finansial. Jadinya, demi mempertahankan diri, Saung Angklung Udjo harus mengambil langkah seperti yang dilakukan banyak pihak: terpaksa merumahkan banyak pegawai.
Sebelum pandemi, saung yang berdiri sejak 1966 itu memiliki ratusan pegawai dengan tugas berbeda-beda untuk melayani pengunjung. Namun, setelah pandemi terjadi, jumlah pegawai yang bisa dipertahankan hanya 20–25 orang. Saung Angklung Udjo lebih sering tutup. Kalaupun saung buka di sela-sela perubahan kebijakan, yang datang tetap tidak ada. Memang, sesekali ada yang berkunjung. Namun, jumlahnya hanya tiga sampai lima orang.
Padahal, Opik bercerita, pihaknya sudah berusaha menyesuaikan diri. Seperti di semua tempat publik, Saung Angklung Udjo juga menerapkan protokol kesehatan. Namun, tetap saja tidak ada pengunjung yang datang. Pernah ada sebuah pertunjukan pada suatu waktu, tetapi yang menonton hanya tiga orang. Apa boleh buat, pertunjukan tetap dihelat. Rugi secara finansial tentu saja. Namun, langkah itu terpaksa diambil demi esensi edukasi.
*
Kisah Romantis mengalun. Sebentar kemudian berhenti. Mengalun lagi. Berhenti lagi. Setiap ada kesalahan, mereka memang mengulanginya lagi dari awal. Tak apa. Pada Jumat siang yang sepi tiga pekan lalu di Saung Angklung Udjo, para seniman angklung yang sedang berlatih memainkan hit milik (mendiang) Glenn Fredly tersebut menjadi intermeso berharga. Para seniman itu pula yang turut merawat roh eksistensi Saung Angklung Udjo. Meski, jadwal latihan mereka tidak tetap.
Konser daring (dalam jaringan/online) merupakan salah satu langkah yang ditempuh pengelola Saung Angklung Udjo. ”Kami tampilkan via Zoom,” ujarnya.
Tentu saja konser itu tidak gratis. Setiap penonton harus membayar. Dan, sambutan publik ternyata positif. Walau, tentu pendapatan yang dikantongi Opik dan tim tidak sebesar konser luring (luar jaringan/offline).
Mereka juga memproduksi konten YouTube dan menyiapkan konser hybrid yang berisi pertunjukkan online dan offline. Berkolaborasi dengan sejumlah seniman dari Bandung dan beberapa daerah lain. ”Dengan penonton offline yang sedikit, online-nya yang jauh lebih banyak. Insya Allah Maret ini,” tutur Kang Opik tanpa menyebut tanggal pasti.
Kepedulian juga datang dari dunia maya. Begitu ada kabar bahwa Saung Angklung Udjo megap-megap, penggalangan dana lewat Kitabisa.com dilakukan. Dan, hingga kemarin (8/3), ada 3.961 orang yang ikut menyumbang. Total dana yang terkumpul lebih dari Rp 190 juta.
Ditambah rencana membuat living museum dan taman angklung, semua ”nyala lilin” di tengah terowongan gelap itu menumbuhkan harapan. ”Tempat ini tidak boleh kehilangan rohnya,” tandas Kang Opik. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *