Baru Klarifikasi, Belum Tahap Penyelidikan

Dua ABK Cumi KM Sinar Prima saat sandar dan berlabuh di Pelabuhan Perikanan Nudantara Merauke dalam rangka pemeriksaan oleh Satuan Polair Resor Merauke sejak Senin (8/3) ( FOTO:  Sulo/Cepos)

Terkaitnya Meningalnya 3 ABK KM Usaha Maju dan KM Sinar Prima 

MERAUKE-Satuan Polair Polres Merauke saat ini  tengah melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda dan ABK KM Usaha Maju dan KM Sinar Prima.   Kapolres Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum melalui Kasat Polair AKP Burhanuddin, ditemui Cenderawasih Pos  mengungkapkan bahwa  pemeriksaan yang dilakukan terhadap  Nahkoda dan ABK  kedua kapal  tersebut saat ini masih sifatnya  klarifikasi. Belum masuk  dalam ranah penyelidikan.

   “Ranahnya masih  bersifat klarifikasi terkait meninggalnya 3 Anak Buah kapal dari kedua kapal  ini,” tandas Kasat Polair.

   Menurut dia,  untuk KM Usaha Maju sebanyak 15 orang dimintai keterangan dan KM Sinar Prima sebanyak 27 orang. Sudah termasuk Nahkoda kedua kapal.  Klarifikasi ini, jelas dia, terkait dengan adanya informasi yang sempat beredar di masyarakat jika ketiga ABK tersebut meninggal  karena minum oplosan Miras.

  “Kami sudah ke kapal dan tidak menemukan bukti-bukti  itu atau minuman keras di atas kapal yang diminum para ABK tersebut sehingga meninggal  dunia.  Tapi  untuk lebih memperjelas meninggalnya para korban  ini sehingga kita melakukan  pemeriksaan atau klarifikasi,’’ terangnya.

    Dikatakan, yang ditemukan  dari pemeriksaan ini  adalah  para ABK  cumi tersebut   tidak memiliki istirahat yang cukup. Karena setiap harinya,  mereka bekerja  mulai dari  jam 6 sore sampai  pukul 05.00 pagi.  Para ABK  ini  baru tidur ketika  siang harinya.  Mereka di dalam laut  berbulan-bulan.

    Untuk KM Usaha Maju sudah sekitar 9 bulan berada di tengah laut dengan irama pekerjaan tersebut. Sementara untuk KM Sinar Prima baru 6 bulan berada di tengah laut  dan keluar dari tengah laut tersebut hanya untuk berlindung ketika gelombang di laut sangat tinggi.      

   “Sebenarnya KM Sinar Prima ini mau kembali  untuk mencari cumi di laut. Tapi, karena  ada pemeriksaan untuk klarifikasi, sehingga mereka masih tertahan,” katanya.

   Untuk  6 bulan di laut tersebut, cumi yang ditangkap baru sekitar 3,5 ton dengan jumlah 27 ABK termasuk Nahkoda. “Kalau dilihat jam kerja dan pola hidup di kapal memang sangat  memprihatinkan,” jelasnya.

   Ditambahkan, untuk gaji pokok, rata-rata Rp 35.000 perhari dan diberikan  bonus atau fee sebesar Rp 6.000 setiap kilogram  cumi ditangkap. ‘’Tidurnya juga di kapal  di tempat terbuka  tanpa kasur dan bantal.  Ini juga harus diperhatikan oleh pemberi kerja di atas kapal tersebut,’’ pungkas AKP Burhanuddin. (ulo/tri)    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *