Meski Sudah Minta Maaf, Dianggap Tak Tunjukkan Iktikad Baik

BATAL TERBIT: Cover buku kumcer buatan tim Gong Publishing yang diunggah R. Sutandya Yudha Khaidar di Facebook dengan mencatut logo Buku Mojok. Foto atas, R. Sutandya Yudha Khaidar.

Di Balik Skandal Buku Kumpulan Cerpen yang Semua Isinya Plagiasi (2-Habis)

Rahmat Sutandya Yudhanto tidak hanya menjiplak karya-karya orang lain untuk dimasukkan ke kumpulan cerpennya. Dia juga mencatut nama penerbit. Sempat ada rencana melaporkan kasus itu ke polisi.

KHAFIDLUL ULUM, Serang, Jawa Pos

BACALAH paragraf yang ditulis Rahmat Sutandya Yudhanto alias R. Sutandya Yudha Khaidar di akun Facebook pribadinya pada 13 Mei 2020 pukul 09.17 dengan judul Kitab yang Tak Suci:

”Sebuah kitab yang hilang dari catatan para sejarawan terkemuka Kerajaan Sriwijaya. Yang gagal ditemukan Gillespie, sekalipun dia telah bersusah payah menerapkan politik ’Divide et Impera’-nya di Pulau Bangka. Yang bersampul dua puluh empat warna. Yang beratnya harus diangkut seekor kerbau. Sebuah kitab yang ingin kucatat ulang jika Tuhan menghendaki, dan hatiku tergerak untuk membocorkan sedikit isinya di sini.”

Dan, sekarang bandingkan dengan paragraf pembuka cerpen Ida Fitri, Kitab Tipu Muslihat, yang dimuat sebuah media nasional pada 25 November 2018. Ida mengunggahnya kembali pada 14 Februari lalu setelah seorang teman penulis mengirimkan tangkapan layar status Yudha:

”Yang hilang dari catatan sejarawan terkemuka Kutaraja yang gagal ditemukan Snouck Hurgronje –meskipun dia telah bersusah payah untuk menyaru di dayah-dayah dengan menggunakan nama Abdul Ghaffar– yang bersampul dua puluh empat yang beratnya harus diangkat seekor kerbau, sebuah kitab yang ingin kucatat ulang jika Tuhan menghendaki, dan hatiku tergerak untuk membocorkan sedikit isinya di sini.”

Kentara sekali jejak plagiasi yang dilakukan Yudha, bukan? Itulah yang ditemukan tim Gong Publishing, Serang: ke-22 cerpen di dalam draf kumpulan cerpen (kumcer) yang diserahkan Yudha ke mereka hasil jiplakan semua. Dan, begitu ketahuan, penerbit dengan sastrawan Gol A Gong sebagai direktur itu pun batal menerbitkannya.

Karena itu, Gong Publishing kaget ketika di cover buku yang diunggah Yudha berbarengan dengan status di atas ada logo Buku Mojok.

Manajer Gong Publishing Abdul Salam pun menghubungi temannya yang bekerja di penerbit yang berbasis di Jogjakarta itu. ”Saya lega ketika mendengar bahwa Mojok tidak pernah menerima naskah dari Yudha. Jadi, Yudha sendiri yang menempatkan logo itu di cover, seolah-olah Mojok yang akan menerbitkan,” kata Salam ketika ditemui Jawa Pos di Rumah Dunia, Serang, Jumat dua pekan lalu (19/2).

Gol A Gong yang juga pendiri Rumah Dunia pun mendapat banyak pesan singkat dari sejumlah sastrawan terkait persoalan itu. Sebab, cover buku yang diunggah Yudha mencantumkan ISBN Gong Publishing. ”Itu kesalahan kami karena kami belum membatalkan ISBN,” terang dia.

Terkait cover, Gong mengatakan, seperti penyusunan buku yang biasa dilakukan, penerbit selalu menunjukkan cover kepada penulisnya sebelum pencetakan. Pihaknya melakukan hal yang sama kepada Yudha.

Pihak Mojok juga langsung merespons pencatutan nama mereka. Apalagi, menurut Pemred Mojok Prima Sulistya, ada dua pencatutan yang dilakukan Yudha.

Pertama, menulis di bionya bahwa dia bekerja di Mojok. Kedua, dia mengunggah sampul berlogo Buku Mojok. ”Kedua-duanya tidak betul,” kata Prima ketika dihubungi Jawa Pos secara terpisah.

Pada 14 Februari 2021, Prima menulis status di Facebook untuk mengklarifikasi persoalan tersebut. Dia juga mencari akun Facebook Yudha dan menumpahkan amarah dalam akun tersebut.

Namun, tidak ada jawaban dari Yudha.

Dia pun terus mencari nomor telepon yang bisa dihubungi. Akhirnya, ketemulah nomor ibu pemuda asal Toboali, Bangka Selatan, itu.

Dikontak, tapi tidak ada jawaban. Baru esoknya, sang ibu yang bernama Yuni Astuti menjawab telepon Prima.

Yuni menyatakan bahwa dirinya tidak berhubungan dengan anaknya sejak Desember 2020. ”Nah, itu agak janggal. Mereka kan tinggal di Bangka, sedangkan anak itu kuliah di Solo. Tidak mungkin orang tua yang anaknya kuliah di Solo terus lost contact, tapi tidak dicari,” ucapnya.

Selanjutnya, Prima mencari informasi dari temannya yang menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta karena Yudha kabarnya kuliah di kampus tersebut. Yudha diketahui sebagai mahasiswa angkatan 2018.

Namun, sejak semester pertama, dia tidak pernah masuk kuliah. Jadi, banyak yang tidak kenal Yudha. Tapi, para mahasiswa mengetahui masalah plagiasi yang diramai menjadi perbincangan di media sosial.

Para penulis dan pihak yang dirugikan pun berembuk di Facebook dan berencana melaporkan ke polisi. Tapi, Mojok belum mengambil keputusan soal itu.

Prima kemudian kembali menghubungi ibu Yudha dan menyampaikan bahwa para pihak yang dirugikan akan menempuh jalur hukum. Jadi, dia meminta Yuni untuk mengabarkan keberadaan Yudha. Tiba-tiba, Yudha menjawab melalui nomor ibunya.

Prima pun menelepon Yudha dan meminta penjelasan terkait persoalan itu.

Yudha melakukan pembelaan. Dia mengaku tidak tahu telah dicari banyak orang melalui akun Facebook-nya. Pada 15 Februari 2021, Yudha pun mengunggah permintaan maaf di akun media sosialnya.

Walaupun Yudha meminta maaf secara terbuka, Prima menilai dia tidak mempunyai iktikad baik. Dia berupaya menghindar. ”Saya nebaknya dia di rumah. Mungkin karena khawatir, akhirnya dia bohong,” urai Prima.

Rusmin Toboali sebagai pihak yang mengenalkan Yudha dengan Rumah Dunia mengaku kenal Yudha karena berteman baik dengan ayahnya. ”Teman ngopi, teman ngobrol,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos.

Pada akhir 2019, Yudha mengaku mulai menulis cerpen. Rusmin pun terus memberikan dorongan.

Dia memberikan saran agar Yudha belajar banyak dari penulis di Jawa karena kuliah di Solo. Rusmin pun menghubungi temannya yang bekerja di rakyatpos.com dan meminta agar membantu pemuatan cerpen Yudha.

Akhirnya, beberapa karya Yudha dimuat di media online lokal di Bangka itu. Setelah menulis 10 cerpen, Yudha berencana membuat buku kumcer (kumpulan cerpen). Rusmin semakin senang mendengar rencana tersebut. ”Saya beri motivasi, ayo maju terus,” paparnya.

Rusmin lantas menyarankan Yudha agar menerbitkan buku di Gong Publishing. Dia berjanji ke Rumah Dunia untuk mengantar Yudha, tapi batal ikut karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Yudha pun datang sendiri ke Rumah Dunia dan bertemu dengan Gong serta para relawan Rumah Dunia sekitar setahun lalu.

Ketika buku hendak dicetak, Salam menghubunginya dan mengabarkan bahwa karya itu hasil plagiasi. Bahkan, karya Rusmin juga diplagiasi. Rusmin pun dengan tegas meminta rencana penerbitan buku itu dibatalkan.

”Jadi, buku itu tidak pernah dicetak selembar pun. Saya tidak pernah lagi mengontak. Saya anggap dia melakukan pelanggaran berat,” kata Rusmin.

Sunlie Thomas Alexander, salah seorang sastrawan yang karyanya dijiplak, mengatakan, kali pertama dirinya mengetahui bahwa karyanya diplagiasi Yudha dari Jemi Batin Tikal, penulis muda yang sedaerah dengan Yudha dan kuliah di Jogjakarta.

Dia tidak mengetahui pasti berapa karyanya yang diplagiasi Yudha. ”Yang jelas, semua cerpen yang dia publikasikan di Rakyat Pos, baik cetak maupun online, adalah hasil plagiat. Termasuk artikel dan opini,” tegasnya.

Sulie menyatakan, dirinya dan Prima menawari para pihak yang menjadi korban untuk bersama-sama melaporkan kasus itu ke polisi. Namun, tampaknya, ajakan tersebut tidak mendapat respons positif. Kebanyakan hanya marah-marah di Facebook.

Sementara itu, saat dihubungi Jawa Pos, Yuni Astuti mengatakan bahwa anaknya tidak berada di rumah. Menurut dia, pikiran anaknya belum dewasa.

Terkait penerbitan buku di Gong Publishing, dia memang mengetahui, namun kejadian itu sudah lama. Anaknya memang pernah meminta uang untuk menerbitkan buku, tapi tidak jadi diterbitkan.

Terkait rencana pelaporan ke polisi, Yuni meminta maaf atas kesalahan anaknya. Dia berharap tidak ada pihak yang melaporkan kasus tersebut ke polisi.

”Saya sedih. Anak saya juga putus kuliah. Sebagai orang tua, kami minta maaf,” tutur Yuni. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *