Gol A Gong Terkejut Ada Endorsement Andrea Hirata

IKUT REPOT: Gol A Gong di Museum Balada Si Roy di Rumah Dunia, Serang (19/2).

Di Balik Skandal Buku Kumpulan Cerpen yang Semua Isinya Plagiasi (1)

Si calon penerbit menemukan bahwa 20 cerpen dalam draf yang diserahkan R. Sutandya Yudha Khaidar mirip dengan karya-karya penulis lain. Ketika dua naskah tambahan dikirim, dua-duanya jiplakan juga.

KHAFIDLUL ULUM, Serang, Jawa Pos

GOL A Gong terkejut ketika sampai di bagian belakang naskah kumpulan cerpen (kumcer) itu. Ada nama tenar di sana, sang penulis Laskar Pelangi. ”(Ada) endorsement (sorongan) dari Andrea Hirata,” tutur penulis Balada si Roy itu.

Dia kaget karena sama sekali tak mengenal pemilik kumcer tersebut, Rahmat Sutandya Yudhanto alias R. Sutandya Yudha Khaidar, yang siang itu, sekira setahun lalu, bertamu ke Rumah Dunia. Padepokan sastra di Serang, Banten, yang didirikan Gong itu menaungi penerbitan Gong Publishing. Dan, Yudha, nama panggilan si tamu, seorang pemuda 21 tahun, ke sana karena hendak menerbitkan buku berisi 20 cerpen tersebut.

Yudha meminta penyusunan dan pencetakan buku bisa selesai dalam tiga minggu. Sebab, akan diluncurkan dalam perayaan hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Belitung.

Sebagai syarat, Abdul Salam, manajer Gong Publishing, meminta Yudha menyerahkan Rp 1 juta sebagai biaya operasional awal. Yudha menyanggupi akan mentransfer.

Sekira pukul 14.00, Yudha yang datang sendirian itu pamit. Salam mengantarnya ke  pangkalan bus antarkota. ”Sudah jadi kebiasaan kami. Kalau ada tamu, kami antar ke tempat bus,” ungkap Salam.

Yang tak dia sangka, tamu yang diantarkannya itu justru meninggalkan ”bom waktu” yang mengguncang jagat sastra dan perbukuan. Kumcer yang ternyata, mengutip sastrawan cum kritikus sastra Sunlie Thomas Alexander, menjadi skandal plagiasi terbesar di tanah air.

*

Yudha mengeluarkan sesuatu dari tas dan menyerahkan kepada Salam. Ternyata naskah kumcer.

Salam pun membolak-balik naskah setebal sekitar 100 halaman itu. Draf buku yang berisi 20 cerpen tersebut diberi judul Kitab yang Tak Suci.

Judul yang langsung mengingatkan Salam pada buku yang ditulis Puthut EA. ”Saya langsung konfirmasi ke dia, kok ini sudah pernah ditulis Puthut EA,” kenang Salam saat menceritakan kembali peristiwa itu kepada Jawa Pos Jumat dua pekan lalu (19/2).

Yudha menjawab bahwa ada perbedaan di antara keduanya. Buku Puthut EA berjudul Sebuah Kitab yang Tak Suci, sedangkan naskahnya bertajuk Kitab yang Tak Suci.

Hanya dibedakan kata ”sebuah”. Tapi, Yudha buru-buru menambahkan, dirinya sudah meminta izin kepada Puthut terkait dengan penggunaan judul tersebut. Yudha juga mengaku dekat dengan Puthut dan sering ngopi bareng di Jogjakarta.

Di bagian belakang, Salam menemukan apa yang nantinya membuat kaget Gol A Gong. Sorongan dari Andrea Hirata, penulis asal Belitung. ”Dengan nama-nama besar yang disebutkan, kami pun percaya,” tutur Salam.

Apalagi, Yudha kenal dengan Rumah Dunia melalui Rusmin Toboali yang sudah lama menjalin kerja sama dengan komunitas yang digagas sastrawan Gol A Gong itu. Rusmin semula juga akan ikut datang, tapi, seperti disebut Yudha dan ditirukan Salam, batal karena suatu halangan.

Sepeninggal Yudha, editor Gong Publishing Hilman Lemri mulai membaca naskah tersebut. Cover buku pun mulai dibuat.

Setelah empat hari proses, mereka pun mengurus international standard book number (ISBN). Ketika cover sudah jadi, Salam mengirimkannya kepada Yudha untuk mendapatkan persetujuan. ”Sudah cocok, Bang, bagus, keren,” kata Yudha seperti ditirukan Salam.

Yang menjadi masalah justru naskahnya. Hilman Lemri merasakan kejanggalan. Kepada Salam, dia menyebut antara cerpen satu dan lainnya punya napas yang berbeda. Padahal, penulisnya sama.

Salam pun akhirnya ikut membaca secara mendalam. Dan, benar, dia menemukan kemiripan semua ”karya” Yudha di kumcer itu dengan cerpen-cerpen yang ditulis pengarang lain.

Dia berusaha mengeceknya di Google. Caranya, mengopi satu paragraf dari cerpen Yudha, kemudian memasukkan ke mesin pencari. Dalam waktu singkat, paragraf serupa muncul di beberapa website. Misalnya, rakyatpos.com dan lakonhidup.com.

Ternyata, semua cerpen di dalam kumcer itu sama dengan karya sejumlah penulis yang telah tayang di berbagai media. Di antaranya, karya Sunlie Thomas Alexander, Ida Fitri, dan M. Nanda Fauzan.

Ribuan kilometer dari Serang, di rumahnya di Idi, Aceh Timur, Ida Fitri menuliskan paragraf pembuka cerpennya, Kitab Tipu Muslihat, yang terbit di koran Tempo pada 25 November 2018. Dan, betapa paragraf itu sama persis dengan yang diunggah Yudha di laman Facebook-nya pada 13 Mei 2020 dan diklaim sebagai karyanya dengan judul Kitab yang Tak Suci. ”Saya tahu karena dikirimi tangkapan layar dari status Facebook si Yudha oleh seorang teman penulis,” kata Ida kepada Jawa Pos Selasa lalu (2/3).

*

Salam lantas menghubungi Yudha dan menyampaikan bahwa banyak kesamaan antara karya dia dan penulis lain. Salam tidak langsung menyebutnya sebagai hasil plagiasi. Demi menghormati dan menjaga psikologis Yudha.

Dengan enteng Yudha mengatakan akan mengganti cerpen yang punya kesamaan dengan karya lain. Berselang sehari, dia mengirim dua cerpen lagi. Tapi, setelah diperiksa, dua cerpen itu juga sama dengan karya lain alias plagiasi atau jiplakan.

Salam pun tegas menyatakan, pihaknya tidak bisa menerbitkan kumcer tersebut karena diduga plagiasi. ”Pertama, berbahaya buat kami. Kedua, berbahaya juga buat kamu,” tutur Salam kepada Yudha.

Tapi, Yudha malah meminta kembali uang Rp 1 juta yang diserahkan ke Gong Publishing. Salam pun marah. Sudah merasa ditipu, sekarang malah diminta mengembalikan uang yang telah digunakan untuk penyusunan buku.

Seharusnya, kata Salam, Yudha membayar lebih mahal. Sebab, pihaknya sudah melakukan editing, layout, dan mengurus ISBN. Beruntung dugaan plagiasi itu terbongkar sebelum naskah kumcer diterbitkan. ”Kami justru sebagai pihak yang dirugikan,” kata Gol A Gong. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *