Kesadaran Masyarakat Perbatasan Soal Malaria Masih Rendah

dr Ni Nyoman Sri Antari ( FOTO: DOK/Cepos)

Kolaborasi Dengan Satgas Pengamanan Perbatasan untuk Tingkatkan Kesadaran Masyarakat

JAYAPURA –  Dinas Kesehatan Kota Jayapura mengakui bahwa penanganan covid 19 saat ini masih yang menjadi prioritas pekerjaan. Meski demikian dipastikan penanganan terhadap penyakit lain semisal TB maupun malaria masih tetap dilakukan. Bahkan khusus untuk malaria, selain foging, Dinkes juga menerapkan cara alami untuk memberantas nyamuk. Caranya adalah  dengan menanam tanaman pengusir nyamuk maupun menyiapkan bibit ikan untuk di lepas di rawa – rawa.

“Untuk tahun 2021 ini harus kami akui fokus penanganan terbagi dengan covid dan pedoman untuk memadukan dengan TB sedikit terlambat sehingga cakupan kami anjlok dan standar pelayanan minimal (SPM)  tidak tercapai karena hanya 39 persen. Ini tak lepas dari situasi awal dimana masih takut-takut,” kata Kadinkes Kota Jayapura, dr Ni Nyoman Sri Antari, di halaman Pengadilan Negeri Jayapura, Jumat  (5/3). Tak hanya soal TB,  angka SPM untuk pelayanan sekolah-sekolah juga turun hanya 39 persen. Namun ini tak lepas dari anak sekolah yang belajar secara daring.

Hanya saja perlahan – lahan pelayanan di pusat layanan mulai bergerak normal dengan tatanan hidup baru dimana anggota medis juga mulai beradaptasi. Lalu untuk penanganan penyakit malaria kata Sri Antari mau tidak mau pasien harus tetap memeriksakan diri dan jika berbicara dari pemetaan penyebaran ternyata angka yang tinggi berada di Skouw Muara Tami, Yoka dan Tanjung Ria yang notabene wilayah yang berbatasan dengan daerah lain.

“Kalau di perbatasan Skouw  penanganan kami cukup komplit dimana ada kelambu, ada tanaman pengusir nyamuk dan ada juga memberikan bibit ikan untuk dirawa – rawa dan pengobatan standart. Hanya  penurunannya tidak signifikan karena kalau tetangganya tidak bergerak ya sama saja,” imbuhnya.

Namun dia menyebut juga berkolaborasi dengan satuan pengamanan daerah  perbatasan (Satgas)  untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar lebih peduli dengan penyakit malaria. “Soalnya kesadaran untuk menjaga lingkungan dari munculnya penyakit malaria ini masih rendah, masih menunggu pemerintah karena menganggap malaria ini biasa-biasa saja,” pungkasnya.  (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *