Kuning Tak lagi Terima Tamu, Merah Langsung Kunci

Wakil Wali Kota Jayapura bersama pimpinan OPD serta perwakilan DPRD Kota dan muspida berfoto bersama di depan posko PPKM Kelurahan Vim Distrik Abepura usai peresmian, Senin (1/3) lalu. (Dionisius For Cepos)

Melihat Sistem Penanganan Covid 19 di Tingkat Paling Bawah Lewat PPKM Mikro

Kota Jayapura masih bergelut dalam penanganan Covid 19. Pada Senin (1/3) kemarin ada  penambahan 29 orang yang positif dengan 1 orang meninggal. Penanganan di tingkat bawah diperketat.

Laporan: Abdel Gamel Naser

Terhitung Selasa (2/3) pemerintah telah menerapkan kebijakan baru, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPMK). Ini untuk mengendalikan Covid 19 dengan tujuan mengendalikan penularan. Pengendalian akan ditekan dari tingkat terkecil yakni RT/RW atau desa kelurahan dan yang dilakukan nanti ada empat fungsi yakni pencegahan, penanganan, pembinaan, dan mendukung operasional penanganan Covid 19.

Aturan  PPKM ini sendiri tertuang dalam instruksi Mendagri Nomor 1 tahun 2021 dan untuk Distrik Abepura, Kota Jayapura tercatat dari 8 kelurahan seluruhnya sudah memiliki PPKM dan dibentuk sesuai dengan struktur. “Keterwakilannya semua sudah. Yang kami masih tunggu adalah teknis kerja secara spesifik dan pembiayaan di cover dari DPA kampung masing – masing namun besarannya tidak semua sama,” jelas Kepala Distrik Abepura, Dionisius J.A Deda, S. STP kepada Cenderawasih Pos di Kotaraja, Selasa (2/3).

  Dijelaskan singkat soal teknisnya dimana nantinya dalam penerapan di lapangan menggunakan fokus zonasi yang dibentuk atau dilabelkan. Maksudnya adalah ketika yang terkonfirmasi positif ada pada angka 0-5 orang maka masih dikategorikan hijau, jika 6-10 orang maka mengantongi status orange namun jika 10 orang ke atas akan mendapatkan status merah. Nah data  ini dibagi per RT. “Jika sudah zona orange maka kegiatan dihentikan. Tidak lagi terima tamu dari luar namun diperketat. Warna orange sebagai penanda untuk waspada namun jika sudah berwarna merah maka akan langsung ditutup,” jelas Dionisius.

Kepala Distrik menyebut setelah Musrenbang pihaknya akan mensimulasi ini untuk mengetahui penanganan jika situasi yang disebut tadi terjadi dan peran ini akan dimainkan oleh RT/RW dan kelurahan. Namun begitu masuk zona orange para petugas yang ditempatkan di PPKM sudah harus jalan melakukan sosialisasi dan pemberitahuan. Lalu bila ternyata tetap naik menjadi merah maka seluruh akses ditutup. “Kalau sudah merah maka makanan dan obat – obatan akan didrop. Jika ada keluarga yang terpapar tim PPKM akan menyiapkan bahan makanan mentah. Dapur umum tiap kelurahan juga ada,” sebut Kadistrik Dionisius.

Menariknya di dapur ini nantinya ada ahli gizi untuk mengkaji gizi makanan secara spesifik. “Untuk hingga kini belum ada yang produksi (memasak) karena belum ada  wilayah yang  mendapatkan status merah kecuali sudah tutup semua makanan harus dipenuhi,” tambahnya. Lalu untuk pemegang komandonya dipimpin langsung oleh kepala  kelurahan sekaligus ketua posko. Disini kepala distrik hanya bagian dari Satgas Covid kota. Disinggung soal kondisi wilayah yang terbilang sulit, kata Dionisius hanya Kelurahan Yobe  yang masih sulit untuk penerapan menutup mengingat aksesnya  terbuka. Berbeda dengan kompleks melati yang sudah tertutup.

“Tapi kami menanggapi positif PPKM ini sekali sebab disini kita bisa mendapat data secara langsung ditingkat kelurahan dan RT/RW dan  lurah. Selain itu peran Babinsa bisa lebih aktif,” tambahnya.  Lalu bagaimana jika ada  warga yang bertatus orang tanpa gejala? Kata alumni STPDN ini pihaknya tetap menganjurkan dilakukan karantina di rumah sambil dipantau perkembangannya. Jika ada perubahan kesehatan lebih parah maka akan langsung dirawat di RS.  Sedangkan bila dalam kondisi sesak akan langsung diarahkan ke LPMP.

“Dalam PPKM sendiri sudah dilengkapi berbagai unsur mulai keterwakilan tokoh pemuda, PKK, Karang Taruna, Saka Bhayangkara termasuk  tokoh lainnya  dan tiga hal yang perlu ditekankan yakni tracing, treatment dan treasure,” pungkasnya. Ia juga berharap dalam penanganannya ini warga tak lagi menganggap covid 19 ini tabu dan aib sebab jika menutup nutupi maka secara tidak langsung mengancam kesehatan orang lain. “Masih ada stigma negatif soal covid, kami berharap sosialisasi diperbanyak dan yang kena harus berani menyampaikan serta tidak perlu dikucilkan,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *