Beresiko, Tapi Anak-anak Harus Bisa Baca, Tulis dan Hitung

Sejumlah murid PAUD Rumah Agape saat melaksanakan KBM di sekolah dengan penerapan Prokes ketat, Selasa,(2/3). ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

Ketika PAUD Rumah Agape Memilih Laksanakan KBM di Tengah Pandemi Covid-19

RUMAH PAUD Agape, salah satu lembaga pendidikan formal yang saat ini melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah meski masih di tengah pandemi Covid-19. Apa alasan mereka tetap menjalankan kegiatan belajardi sekolah, ditengah pandemi covid 19 ini?

Laporan: Robert Mboik Sentani

Saat ini hampir dipastikan sejumlah lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Jayapura belum berani mengambil tindakan dalam melaksanakan KBM di tengah pandemi Covid-19. Bukan hanya di daerah zona merah, bahkan di daerah zona hijau pun ada beberapa sekolah yang boleh dikatakan masih was-was untuk melaksanakan KBM secara penuh karena alasan takut terpapar Covid-19.

Jika terlalu lama dalam kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin anak-anak yang  masih mengenyam pendidikan  akan merasakan dampak  yang sangat luar biasa, secara khusus mereka yang masih berada di kelas kecil.  Usia mereka terus bertambah, namun semestinya kemampuan mereka juga harus sejalan dengan pertambahan usianya, karena setiap tahun anak-anak ini akan naik ke kelas yang lebih tinggi.

Lalu bagaimana ketika mereka tidak belajar, di satu sisi usia mereka terus bertambah dan mereka dipaksakan naik kelas. Tentu guru tidak bisa disalahkan, termasuk siswa itu sendiri. Namun tidak semua guru atau pengelola lembaga pendidikan pasrah dengan kenyataan pahit ini.

Sebagian lembaga pendidikan mulai berinisiatif melaksanakan atau mengaktifkan kembali KBM di sekolah.  Salah satunya yang dilakukan oleh pihak pengelola Rumah  PAUD Agape yang terletak di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura. Meski masih di tengah pandemi Covid-19 , pihak pengelola memilih membuka kembali kegiatan belajar di sekolah.

“Kami sudah mengajukan izin kepada pemerintah sesuai dengan aturan yang sudah ada. Menyiapkan tempat cuci tangan, mengatur jarak duduk anak-anak. Semua yang berkaitan dengan protokol kesehatan kami sudah lakukan,” kata Ibu Kristin, salah satu guru PAUD Rumah Agape kepada media ini, Selasa (2/3).

Menurutnya, kebijakan ini memang sangat beresiko, tetapi mereka berusaha untuk melakukan yang terbaik dengan meminta dukungan dari orang tua siswa yang ada di lembaga tersebut.

Kebijakan ini tentu bukan tanpa alasan, menurutnya, khusus untuk anak-anak yang ada di kelas kecil  harus sudah menguasai dasar-dasar pendidikan mulai dari baca, tulis dan menghitung. Karena itu anak-anak ini harus dilatih dan terus dibimbing supaya ketika mereka menyelesaikan pendidikan di rumah Agape setidaknya  sudah mampu  membaca  menulis dan berhitung (Calistung).

“Kami mengacu pada aturan bersama 3 menteri bahwa tatap muka boleh dibuka, tetapi tetap mengacu pada peraturan protokol kesehatan yang ketat,” katanya.

Menurutnya, pandemi Covid-19 saat ini sebenarnya menguji kemampuan dan kreativitas guru untuk tetap mencerdaskan siswa di tengah situasi yang serba sulit ini. Bahkan dia  mengaku, sejak awal masa pandemi ini, dia bersama dua rekan guru  menggunakan dana pribadi dan berusaha mendatangi rumah-rumah siswanya untuk membagikan bahan belajar. Namun itu dirasa tidak cukup untuk membuka wawasan mereka.

Sehingga ketika adanya Peraturan bersama dari 3 menteri menjadi peluang bagi mereka bagaimana siswa-siswinya kembali belajar di sekolah sehingga di saat tahun ajaran baru, mereka nanti lulus dan bisa naik ke jenjang SD sudah menguasai Calistung.

Meski begitu, upaya dan kerja keras yang mereka sudah lakukan itu ternyata tidak sebanding dengan upah yang harus mereka terima. Mereka digaji sehari Rp 50 ribu. Bahkan saat awal pandemi Covid-19, mereka juga rela memotong dana SPP, separuh dari normalnya. Boleh dikatakan miris memang, tapi mereka tidak pernah berhenti untuk melayani dengan hati. Karena, mereka hanya akan bangga dan senang jika lulusan PAUD Agape selalu berprestasi di jenjang selanjutnya.

“Kami melihat dari sisi anak-anak, apalagi tahun ajaran baru ini mereka akan naik ke tingkat SD. Mereka harus dipersiapkan dengan baik,”ungkapnya ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *