Tiba di Merauke, Obor Api Pantekosta Disambut Antusias dan Suka Cita

Pdt. Sony Manoa atas nama Ketua Majelis Daerah GPdI Papua menyerahkan Obor Api Pantekosta 100 tahun GPdI kepada Wakil Ketua Wakil Ketua II Majelis Daerah yang ada di Papua Selatan Ventje B. Sanger, saat tiba di Merauke, kemarin. ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Obor Api Pantekosta  dalam rangka peringatan 100 tahun Gereja Pantekosta di Indonesia  (GPdI)  tiba di Merauke, Senin (1/3), kemarin. Kirab Obor Api Pantekosta 100 tahun tersebut diserahkan Pdt. Sony Manoa, S.Th atas nama Ketua Majelis Daerah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Papua  kepada Wakil Ketua II Majelis Daerah yang ada di Papua Selatan Ventje B. Sanger.

Obor Api Pantekosta  ini tiba menggunakan pesawat Lion Air yang  dibawa langsung Pdt. Sony Manoa, S.Th bersama istri.  Majelis Wilayah GPdI  Merauke  bersama Wakil Ketua  II GPdI Papua Selatan Ventje B. Sanger, para pendeta dan umat menyambut Obor  Api Pantekosta tersebut dengan melakukan pengalungan  bunga. Tak ketinggalan tarian-tarian secara adat menyambut  Kirab  Obor Api Pantekosta  dalam  rangka 100 tahun GPdI di Indonesia.

‘’Setelah berjalan  selama 1 tahun mengelilingi Indonesia dari seluruh majelis daerah dan akhir daripada kunjungan Api Pantekosta ini di Papua. Dan hari ini saya membawa dan akan menyerahkan Obor Api Pantekosta ini, saya atas nama Majelis Daerah Papua Gereja Pantekosta di Indonesia menyerahkan Obor Api Pantekosta dalam rangka hadirnya GPdI di Indonesia 100 tahun, 73 GPdI di Tanah Papua dan 51 GPdI ada di Merauke atau Selatan Papua. Biarlah semua  untuk hormat dan kemuliaan bagi Raja dan diatas Raja, dan saya akan menyerahkan Obor Api Pantekosta ini dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus dan dalam nama Tuhan Yesus Kristus,’’ ungkap Pdt. Sony Manoa, S.Th, sambil menyerahkan Obor yang menyala kepada Ventje B. Sanger.

Sementara Vantje B. Sanger  yang menerima Obor Api Pantekosta menyatakan bahwa  atas nama majelis daerah yang ada di Selatan Papua  menerima Obor Api Pantekosta Gereja Pantekosta di Indonesia yang sudah berada di  tempat ini. ‘’Kami percaya kuasa Tuhan nyata dalam kehidupan kami semua sehingga Obor Api Pantekosta ini  akan menyala ke wilayah nusantara terutama ke wilayah Selatan Papua. Ini agar suasana damai dan terang agar kita semua menjadi terang  bagi seluruh masyarakat, dan kami terima Obor Api Pantekosta ini dalan nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, Amin,’’ ucap Ventje B.  Sanger yang merupakan Wakil Ketua II Majelis Daerah Wilayah Selatan Papua.

Setelah menerima Api Obor Pantekosta tersebut, selanjutnya kirab obor tersebut diarak dari Bandara Mopah Merauke menuju  ke tempat pelayanan pertama GPdI di Merauke di depan AURI Merauke. Selanjutnya menuju Gereja  GPdI  Bethesta  yang ada di  jalan Prajurit Merauke.

Ratusan umat GPdI dengan antusias dan suka cita menyambut  kedatangan Obor Api Pantekosta  tersebut. Dengan bendera  kecil di kedua tangan, umat GPdI sambil menyanyikan Api Pantekosta ku punya ku biarkan menyala  di hati selama-lamanya.

Obor Api Pantekosta  kemudian dibawa masuk ke dalam gereja dan dilanjutkan  dengan ibadah. Setelah Ibadah, kirab Obor Api Pantekosta dibawa ke  Sota, karena di sana juga ada gereja GPdI dan sekaligus tapal batas Indonesia-PNG.

Kemudian perjalanan Obor Api Pante dilanjutkan ke Kurik, karena  menurut Ventje  B  Sanger bahwa  di Kurik merupakan salah satu pioner GPdI di  Selatan Papua. Di Kurik, juga digelar ibadah.

Dari Kurik, Obor Api Pantekosta  100 tahun GPdI  di Indonesia kembali  ke GPdI Bethesda  untuk bermalam. Rencananya, pagi ini, Obor Api Pantekosta  akan kembali ke Jayapura    untuk selanjutnya  menuju ke Bali.   

Ventje B. Sanger menjelaskan bahwa dalam rangka  100  tahun GPdI  di Indonesia maka Majelis Pusat  GPdI  menggelar kirab Obor Api Pantekosta  yang  dimulai dari Sabang sejak Maret tahun  2020 lalu. GPdI  di Indonesia, kata dia lahir pada 21 Maret di Bali,  sehingga Kirab  Obor Api Pantekosta meski dimulai dari Sabang sampai Merauke, namun akan berakhir di  Bali, untuk puncak peringatan  100  tahun GPdI di Indonesia.

Ventje B. Sanger berharap dengan adanya Obor  Api Pantekosta ini yang membawa terang bagi seluruh manusia, hendaknya umat  GPdI di Indonesia menjadi  terang bagi seluruh manusia. ‘’Membawa damai sehingga dalam berbangsa dan  bertanah air, kita dalam suasana damai. Itu tujuan kita,’’ katanya.

Ditambahkan di 51  tahun GPdi hadir di Selatan Papua sudah 53  gereja yang tersebar  di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat.

Senada dengan itu, Ketua Panitia Pdt Jefri Rengkun  menjelaskan sejarah hadirnya  Gereja Pantekosta  di Indonesia  tersebut yang dimulai dari Amerika kemudian dengan 2 misionaris  berangkat ke Indonesia dan tiba di Bali pada 21 Maret  1921.  ‘’Pada tahun 1921, gerakan pantekosta yang disebut sekarang GPdI  menyebar ke pulau Jawa  yaitu di Jawa Timur di daerah Cepuh. Kemudian ke Betawi dan menyebar ke  seluruh Indonesia dan dari gereja pantekosta ini lahirlah gerakan-gerakan Karismatik. Jadi   cilal bakal gereja Pantekosta pertama di Indonesia  dan bersamaan dengan Muhammad dan Katolik. Dan GPdI  mendapat izin operasional pada tahun  1937 dan diperbaharui pada  tahun 1973 sampai sekarang,’’ katanya.

Ditambahkan, gereja Pantekosta di Indonesia sekarang sudah sampai ke mancanegara  termasuk di Amerika dan beberapa negara sampai ke PNG. Keberadaan Gereja Pantekosta sampai  sekarang ini ada 25.000  sidang jemaat.

Dikatakan, kehadiran GPdI  di Merauke dimulai dari Pdt. Yacob Pasau  dimana hubungan antara GPdI  dengan pemerintah cukup bagus dan posisi GPdI dari presfektif  politik tetap Indonesia, NKRI, Pancasila dan tetap mendukung seluruh program pemerintah baik pusat maupun daerah khususnya Merauke. ‘’Pembentukan  Provinsi Papua Selatan, kami dari GPdI juga turut mendukung   dengan harapan supaya masyarakat Papua khususnya saudara-saudara kita Marind diberdayakan semaksimal mungkin. Karena sudah cukup panjang perjalanan bangsa ini di tanah Papua, tentu yang menjadi agenda utama sebagai pihak gereja mendorong pemerintah  untuk pertama bagaiman masyarakat Papua bisa berdiri dan duduk sejajar  dengan saudara-saudara nusantara,” pungkasnya. (ulo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *