Akan Terus Berkomitmen Membangun Literasi di Papua

Para  anak-anak, saat mengikuti proses belajar mengajar yang diselenggarakan oleh Gerakan Papua Mengajar (GPM) di Waena belum lama ini. ( FOTO: Yewen/Cepos)

Ketika Gerakan Papua Mengajar (GPM) Telah Berusia 8 Tahun

Gerakan Papua Mengajar (GPM) selama ini telah menjadi salah satu komunitas literasi atau pendidikan yang ikut membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak usia dini di Jayapura dan beberapa daerah lainnya di Papua? Seperti apa saja gerakan literasi yang dilakukan GPM selama 8 tahun ini?

Laporan: Roberthus Yewen

Gerakan Papua Mengajar (GPM) telah berdiri secara resmi pada tanggal 20 Februari 2013 dan pertama kali digagas oleh serang Apatur Sipil Negara (ASN) di Provinsi Papua bernama Yohana Pulalo.

Usai GPM didirikan, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan diskusi pertama yang dihadiri oleh, Agustinus Kadepa, Andi Tangihuma, Aleks Giyai, Alfonsa Wayap, Hengky Yeimo dan Arnold Belau. Usai pertemuan, maka kegiatan belajar mengajar di GPM mulai dilakukan.

Berkat gerakan yang dilakukan selama ini, maka GPM yang kininya hanya bergerak untuk mengajari anak-anak di Bumi Berkemahan (Buper) Expo, Waena, Kota Jayapura telah menyebar dibeberapa daerah yang ada di Papua, seperti di daerah adat Meepago, Lapago dan beberapa daerah lainnya di Papua.

Kini GPM menjadi salah satu komunitas yang telah bergerak selama kurang lebih 8 tahun ini untuk membangkitkan kembali literasi melalui gerakan mengajar yang dilakukan oleh para relawan yang notabene merupakan generasi muda yang peduli terhadap GPM selama ini. Salah satunya adalah Agustinus Kadepa, Alfonsa Wayap, Aleks Giyai dan beberapa lainnya.

Kehadiran GPM memang tidak begitu saja, tetapi GPM hadir karena melihat sebuah realita dan merefleksikan kondisi anak-anak Papua. Dimana anak-anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan melalui gerakan literasi yang telah dibentuk tersebut.

Hal yang patut diberikan jempol adalah GPM selalu bergerak secara mandiri dalam membangun dan mengembangkan literasi di beberapa daerah yang ada di Papua. GPM tidak pernah bersandar dari bantuan pihak manapun, apalagi dari pemerintah daerah. Hal ini merupakan komitmen dari GPM dalam membangun literasi secara mandiri.

Salah satu Pendiri GPM, Agustinus Kadepa, S.Pd mengatakan sampai di usia ini pihaknya masih berjalan secara mandiri dalam memperkenalkan literasi, terutama proses belajar mengajar kepada anak-anak yang ada di Kota Jayapura dan beberapa daerah yang ada di Papua.

“Perlu kami sampaikan bahwa GPM sampai di usia ini belum membawa diri pada pemerintah, baik pemerintah kabupaten/kota maupun provinsi,” kata alumnus Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uncen ini.

Perjuangan mengenai kemandirian dari GPM ini dari awal sudah terbentuk. Oleh karena itu, GPM selalu berkomitmen untuk tidak membawa proposal kepada pemerintah, untuk menjalin kerjasama. Namun, untuk sementara GPM ini bergerak secara mandiri dalam mendidik anak-anak Papua yang ada di beberapa daerah di Papua.

“Kami berkomitmen tidak membawa proposal ke pemerintah. Sebenarnya kami mau bekerjasama dengan pemerintah, tetapi kami (relawan)mau didik diri kami untuk menjadi mandiri,” ucap mantan Sekretaris UKM-KMK Universitas Cenderawasih ini.

“Kami merasa alamat “orang Papua bermental proposal” selalu dan sering kami rsakan, sehingga kami mau lawan itu,” tambahnya.

Sebagai salah satu pendiri, sekaligus sebagai relawan bersama teman-teman di GPM, pihaknya ingin membuktikan bahwa pihaknya melakukan sesuatu yang bermanfaat tanpa ada bantuan pemerintah dan pihaknya menginginkan bahwa ketika tindakan ini berdampak positif, maka tidak harus menunggu pemerintah.

Hal inilah yang selama 8 tahun ini telah dilakukan oleh GPM dalam menjangkau dan merangkul anak-anak Papua, untuk belajar secara mandiri melalui GPM yang telah didirikan dibeberapa daerah, seperti di Kota Jayapura, Nabire dan beberapa daerah lain di Papua.

“Kami mau buktikan bahwa kami bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat tanpa ada bantuan pemerintah dan juga kami ingin sampaikan bahwa ketika tindakan kita yang berdampak positif kita dambakan, maka kenapa harus tunggu pemerintah? Ha itu bisa kita lakukan tanpa tunggu pemerintah,” ujarnya.

GPM menyadari bahwa pendidikan dasar hampir seantero Papua belum berjalan dengan baik. Hal inilah yang membuat pihaknya ikut bergerak membangun pendidikan. Mulai dari kampung melalui kelompok-kelompok belajar guna membantu anak-anak menjadi pintar.

Hal yang dilakukan oleh GPM ini tentu untuk menyaingi sekolah formal, tetapi justru pihaknya hadir untuk membantu sekolah formal yang didirikan oleh pemerintah daerah diberbagai kabupaten/kota yang ada di Papua. Selain itu, menciptakan lingkungan belajar untuk hadir di tengah masyarakat, dimana anak kedepan bisa tumbuh dan berkembang.

Kami berharap, ada beberapa agenda yang akan kami dorong tahun ini dan selanjutnya sehingga, kepada semua yang telah membantu kami agar tidak bosan bosan untuk terus mendukung kami,” harapnya.

Mewakili GPM, Agustinus mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang selama ini telah mendukung pihaknya, baik material maupun moril, sehingga komunitas ini bisa dapat berjalan selama 8 tahun ini. Semoga dalam usia ke 8 tahun ini, GPM kedepan dapat terus melakukan aktifitas dan mengalami perubahan yang singnifikan, terutama dalam perluasan kelompok belajar, dapat terjangkau hingga ke beberapa kabupaten. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *