KNPB Tuding Kapolres Merauke Lakukan Penyiksaan Hingga Kristianus Yandum Meningal Dunia

Viktor Yeimo

Kapolres Merauke: Meninggalnya Salah Satu Tahanan Karena Penyakit Bawaam

JAYAPURA – Jubir Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Viktor Yeimo secara tengas mengatakan Kapolres Merauke AKBP Untung Sangaji telah melakukan tindakan pelangaran HAM dengan melakukan penganiayaan kepada 13 Aktifis KNPB hingga mengakibatkan 1 orang tewar di dalam penjara atas nama Kristianus Yandum.

Ia mengatakan Kapolres Merauke telah melakukan tindakan pelanggaran HAM dengan melakukan penyiksaan terhadap 13 anggota knpb tanpa bukti yang jelas hingga mengakibatkan 1 orang anggota KNPB meninggal dunia sehingga menurut KNPB, Kapolres telah melakukan tindakan pembunuhan.

“Di bawah komando Kapolres Merauke, AKBP Untung Sangaji, telah melakukan tindakan penyiksaan terhadap 13 aktivis KNPB, yang menyebabkan Kristianus Yandum meninggal dunia pada 27 Februari.  Penangkapan dan penyiksaan 13 anggota KNPB dilakukan tanpa sebab, yakni ditangkap dan disiksa karena duduk-duduk di kantor KNPB,” Katanya melalui pesan WhatsApp kepada Cenderawasih Pos selulernya,Senin, (1/2).

Dikatakan, Yeimo penangkapan sewenang-wenang tanpa ada bukti yang jelas karena mereka hanya duduk di depan kantor KNPB, sehingga Kapolres dinilai  paling bertanggung jawab atas kematian salah satu anggota KNPB tersebut.

“Kapolres dalah aktor pembunuh yang bertanggung jawab terhadap kematian kawan kami, Kristianus. Kami mengutuk dengan keras tindakan Kapolres Untung Sangaji dan memanggil solidaritas kemanusiaan dan keadilan bagi korban, serta pembebasan tanpa syarat bagi ke-12 kawan kami masih mendekam di rutan Polres Merauke, ” Katanya.

Selain itu dengan melihat situasi konflik di Papua Victor Yeimo juga meminta kepada seluruh rakyat Papua meminta kepada Presiden Joko Widodo Untuk menghentikan kekerasan terhadap aktivis dan menyelesaikan persoalan politik Papua secara damai tanpa mengakibatkan korban jiwa.

“Kami mendesak semua pihak untuk mendesak Presiden Joko Widodo menhentikan kekerasan terhadap aktivis damai KNPB dan segera mengambil solusi politik secara damai bagi penyelesaian konflik politik yang terus memakan korban tiada henti diatas tanah air West Papua,” Katanya.

Sebelumnya, Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua selaku kuasa hukum 13 orang aktivis KNPB Merauke datangi Komnas HAM meminta Komnas HAM RI Pusat, dan Komnas HAM RI Perwakilan Papua segera tindaklanjuti pelanggaran HAM terhadap 13 Aktivis KNPB di Jayapura.

Meski sebelumnya Kapolres Merauke AKBP AKBP Ir Ungung Sangaji, MHum sudah menegaskan bahwa berita penganiayaan terhadap para aktifitas KNPB di sel tahanan adalah hoax atau bohong, namun dari Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua selaku kuasa hukum 13 (tiga belas) orang aktivis KNPB Merauke melapor ke Komnas HAM RI Pusat, dan Komnas HAM RI Perwakilan Papua.

“Kami minta Komnas HAM segera tindaklanjuti pelanggaran HAM terhadap 13 Aktivis KNPB.”tegas Ketua Litigitasi yang juga perwakilan Koalisi Emanuel Gobay.

Ia mengatakan Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua selaku kuasa hukum 13 (tiga belas) orang aktivis KNPB Merauke menegaskan Komnas HAM RI Pusat, dan Komnas HAM RI Perwakilan Papua segera tindaklanjuti Surat Tanda Penerimaan Pengaduan Nomor : 009/STTP-HAM/II/2021 tertanggal 17 Februari 2021 sesuai dengan perintah Pasal 89 ayat (3) huruf b, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

“Komnas HAM RI Pusat, Komnas HAM RI Perwakilan Papua segera memastikan komitmen Polres Merauke dalam menjalankan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang tentang Implementasi Standar dan Pokok Pokok Hak Asasi Manusia dalam Tugas Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia atas kasus 13 (tiga belas) orang aktivis KNPB sesuai dengan perintah Pasal 89 ayat (3) huruf a, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, ” katanya kepada Cenderawasih Pos, Jumat (19/2).

Kapolres Merauke sendiri telah membantah tudingan bahwa meninggalnya salah satu tahanan anggota KNPB karena penyiksaan oleh aparat.  Seperti diberitakan sebelumnya

Kapolres Membantah: Kristianus Meninggal Di Rumah Sakit, Bukan di Tahanan

Kapolres Merauke AKBP Ir. Untung Sangaji, M.Hum membantah dengan keras
pernyataan dari Veronica Koman di media sosial berkaitan dengan meninggalnya Kristianus Yandum,
salah satu dari 13 tersangka makar, meninggal di rumah sakit Sabtu (27/2) sekitar pukul 13.49 WIT.
Kapolres mengungkapkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena penyakit bawaan di rumah sakit.
‘’Yang bersangkutan di rawat di sana sekitar 2 minggu dan meninggal di rumah sakit, bukan di tahanan.
Yang perlu dicatat bahwa selama dirawat di rumah sakit yang bersangkutan tidak borgol, meski itu berstatus tahanan,’’ tandas Kapolres kepada wartawan, Sabtu (27/2) malam. Kapolres menjelaskan bahwa dirinya sudah menjelaskan beberapa kali bahwa semua tahanan makar yang terus melakukan
propaganda berulang-ulang pihaknya pasti tangkap. Apalagi kalau sudah sampai 3 kali. ‘’Tapi kalau mereka membuat pernyataan sikap merah putih maka saya akan keluarkan, walaupun mereka sudah kurang ajar. Saya keluarkan. Itu sudah dari awal sebelum sakit. Karena sudah ada 3 orang dari Distrik
Tabonji yang melakukan makar saya keluarkan karena langsung sadar membuat pernyataan. Karena yang dilawan bukan Kapolres tapi negara,’’ tandas Kapolres.

Kapolres menjelaskan, yang meninggal
tersebut sudah ada sakit bawaan. Bahkan sebelum dibawah ke rumah sakit, dirinya sudah memberi tahu bisa keluar. Tapi, untuk bisa keluar untuk dapat membuat pernyataan merah putih. Bukan yang lain. Pernyataan sikap terhadap Republik Indonesia, pemerintah yang sah dan meminta maaf. ‘’Kalau itu dilakukan saya keluarkan,’’ terangnya. Bahkan sebelum praperadilan, ungkap Kapolres, pihaknya
sudah menawarkan untuk kembali ke merah putih dan saat itu sudah ada 4 tersangka yang bersedia untuk menyatakan kembali ke NKRI. ‘’Tapi ternyata tidak jadi karena ada praperadilan. Mereka pikir menang. Yang dilawan negara. Akhirnya kejadian tadi,’’ katanya. Kapolres menyebut bahwa
penangguhan penahanan dilakukan dengan baik. ‘’Tidak apa-apa. Tapi mereka yang gengsi karena dia mau melwan negara dan tidak mau pusing ya terserah. Sekali lagi, yang bersangkutan sakit bawaan
dan meninggalnya di rumah sakit. Bukan kantor polisi dan bukan akibat yang lain-lain. Kalau memang akibat dari kita, semua itu sudah sakit dan berbahaya. Buktinya, mereka masih sehat-sehat semua,’’ terangnya.

Kapolres juga mengingatkan kepada siapa saja yang segaja membuat pernyataan provokasi yang tidak benar lewat media sosial atau hox maka bisa dipidana. ‘’Itu yang perlu saya
beritahu. Jangan membuat pernyataan provokasi yang tidak benar,’’ tandasnya. (ulo/oel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *