Benda Peninggalan Nenek Moyang Perlu Dijaga sebagai Identitas Orang Papua

Sekretaris Dewan Adat Papua, (DAP) John NR Gobay  bersama  balai Arkeologi Papua membahas beberapa tempat keramat dan prasejarah yang perlu dilindungi  di Kantor  Balai Arkeologi Papua, Jl.Isele, Kelurahan Heram Jumat, (26/2) lalu. ( FOTO: NOEL/CEPOS)

Ketika Dewan Adat dan Balai Arkeologi Bertemu Membahas Tempat Situs Bersejarah

Setiap daerah atau wilayah memiliki adat istiadat yang berbeda-beda. Adat tersebut biasanya memuat nilai dan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat adat setempat, pekan lalu dewan adat “bertemu” bersama Balai Arkeologi  Papua, apa saja yang dibahas?

Laporan :Noel Wenda

Adat istiadat merupakan aturan atau tata krama yang dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat secara turun temurun. Fungsinya untuk mengatur masyarakat agar tercipta ketertiban di suatu daerah.

Selain itu ada juga benda-benda yang dijaga sampai saat ini masih menjadi tempat yang sakral, namun dengan berjalannya waktu banyak beberapa tempat sakral tidak lagi memiliki nilai magis dan kurang menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat untuk melindungi dan menjaganya sebagai warisan dan nilai-nilai luhur yang perlu dijaga dan dilestarikan tanpa menghilangkan makna religi dan seni khususnya di Provinsi Papua.

Dengan dasar itu, forum kerja pengelolaan Sumber daya alama  berinisiatif mengadakan Focus Group Discusion (FGD)  di Kantor  Balai Arkeologi Papua,  di Kelurahan Heram Jumat,  (26/2) lalu.

“Dalam masyarakat Papua mempunyai Tokoh-tokoh mesianis yang mempunyai kisah spritual dan mempunyai ikatan spritual dengan sebuah masyarakat adat di Papua dan terdapat sebuah peristiwa agung yang dilakukan di sebuah tempat yang sekarang diyakini  tempat sakral, ” Kata Sekretaris Dewan Adat Papua, (DAP) John Gobay.

Bahkan masyarakat diminta untuk tidak menganggap benda peninggalan nenek moyang orang Papua sebagai sesuatu yang mistis dan berbau gaib dengan hadirnya firman Tuhan tetapi dapat melihat tempat sakral dan budaya sebagai jati diri identitas orang Papua yang diberikan langsung oleh Tuhan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Gobay juga mengatakan ada juga benda sakral dan itu bukan kafir sama dengan pengalaman di Yogyakarta dan Bali, jika itu kafir apakah mereka di Bali dan Yogyakarta itu kafir, tentu tidak dan jangan orang di Papua berpikir agama paling benar,dan nilai nilai budaya dan adat salah.

“Tentu anda salah karena Yesus sendiri datang untuk menggenapi adat yang baik. Untuk itu diperlukan adanya upaya mendorong perlindungan tempat-tempat dan benda sakral tersebut sebagai bentuk perlindungan budaya dan juga dikembangkan wisata spritual dan tempatnya dikembangkan sebagai situs budaya agar ada pengaturan zonasi yang baik agar tidak merusak kesakralan tempat,” Katanya.

Makam yang menyeramkan untuk melestarikan tempat-tempat sakral tersebut perlu juga dibangun rumah ibadah agar terjadi inkulturasi agama dalam budaya sehingga masyarakat Papua menerima agama tetapi juga menerima adat sebagai kehidupan mereka yang sudah ada sebelum agama datang.

Untuk itu pemerintah provinsi dan kabupaten kota diharapkan tidak terpengaruh dan menganggap warisan budaya dan juga tempat sakral sebagai sesuatu yang berbau mistis dengan menggunakan cara pandang agama tetapi pemerintah diharapkan dapat melihat hal ini sebagai identitas kekuatan orang Papua yang mampu bertahan hidup dengan budaya dan nilai-nilai luhur dari tempat-tempat keramat yang ada di Papua yang perlu diangkat dan diceritakan.

Selain itu dalam perkembangannya juga perlu ada kesadaran dari pemilik tempat prasejarah dan juga masyarakat umum untuk menghargai beberapa tempat-tempat budaya yang memiliki nilai magis dan juga wisatawan dimana masyarakat diharapkan menghargai dan menjunjung tinggi cerita dan peninggalan yang diwariskan oleh nenek moyang yang tersebar di seluruh Papua dan Papua Barat dengan sejumlah  warisan situasi dan adat istiadat yang di tingalkan.

Sebelumnya, kepala balai Arkeologi Gusti Made Sudarmika kepada Cenderawasih Pos, mengatakan pemerintah perlu membuat tempat peninggalan sejarah menjadi pusat budaya orang Papua melalui sebuah regulasi.

“ Ya, hal ini perlu dilindungi mengingat generasi mendatang harus mengetahui identitas orang Papua terdahulu, jadi semua pihak perlu menjaga dan merawatnya,” kata Made Sumardika. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *