Wajah Kepolisian di Era Millenial yang Tak Lagi Melulu Kejar, Tangkap dan Tahan

Brigpol Laurens memberikan masker saat mengunjungi kediaman Tete Wondiwoy di Jl Baru Tobati Engros, Sabtu (27/2)

Ngeteh di Pinggir Hutan Mangrove Sambil Diskusi, Senyuman Tete Bikin Hati Tenang

Pasca era reformasi perlahan – lahan wajah kepolisian Republik Indonesia berubah. Tak lagi semua diselesaikan dengan rotan. Membangun sinergi dan kemitraan bisa sambil ngeteh (minum teh). Mengetuk pintu rumah warga dan menanyakan kabar juga cara ampuh menyentuh psikologi masyarakat.
Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Suara ketukan palu yang menyentuh kayu sekapan berwarna coklat tua pagi itu terdengar sayup – sayup. Sesekali meteran seadanya ditarik dari ujung dengan menengadahkan wajah untuk memastikan bahwa ukuran tidak lari. Atap seng yang menutup halaman kosong sisi samping rumah yang sebagian besar terbuat dari papan seadanya ini terlihat cukup rendah. Ini sengaja dibuat untuk menyesuaikan dengan tinggi badan penghuni rumah. Tete Maklon Wondiwoy posturnya memang tidak tinggi namun memiliki tubuh berotot.
Maklumlah, meski sudah berusia 69 tahun namun pria yang akrab disapa Tete Wondi ini masih kuat bekerja sebagai tukang. Selain bekerja bangunan, ia juga suka menangkap ikan menggunakan jaring. Di rumah yang berukuran 7 x 10 ini, ia tinggal berdua dengan sang istri dan ketika ditemui, Tete Wondi sedang membuat kusen pintu. Ia menyekap sendiri, mengergaji sendiri, memaku sendiri dan menyelesaikan kusen tersebut juga sendiri.
“Ada yang minta dibantu jadi tete coba selesaikan,” ucapnya saat ditemui di kediamannya di Jl Baru Tobati, Hamadi, Sabtu (27/2).

Tak lama terdengar suara motor dibalik ilalang yang masuk perlahan dan ternyata sosok seorang polisi lengkap sepatu PDL nya. Ekspresi tete sendiri ketika itu nampak biasa saja dan tak terkejut. “Itu anak didepan,” sambung tete Wondi menjelaskan. Setelah motor diparkir aman barulah Pak Polisi bernama Laurens Rabrageri ini turun dan mendekati arah suara ketukan palu tadi. “Jalan depan rumah tete ini nampaknya sudah harus diperbaiki, kondisinya rusak sekali dan kalau hujan saya pikir akan lebih parah,” kata Brigpol Laurens yang langsung disambut senyum simpul tete Wondi.
Keduanya nampak akrab dan ternyata menjadi kebiasaan Brigpol Laurens untuk menyambangi rumah tetangganya ini untuk sekedar ngobrol.

Pagi itu Brigpol Laurens datang membawakan masker karena selama ini ia melihat masker yang digunakan tete Wondi hanya itu – itu saja. Ia juga mengecek apa saja yang dikerjakan tete Wondi selama beberapa hari terakhir karena yang terdengar hanya bunyi palu dari kejauhan. “Rumah saya tidak jauh dari sini dan selama ini memang kami sering ngobrol tentang banyak hal dan saya sendiri suka mendengar cerita sejarah dari tete dia,” beber Laurens.

Ia senang ngobrol dengan sosok pria yang sudah berada di Jayapura sejak tahun 1962 ini dan dari tete Wondi, Brigpol Laurens mendapat kisah Jayapura dan jaman penjajahan tempo dulu. “Anak Polisi ini kadang datang lalu kita cerita – cerita tentang perjuangan di Papua dulu sambil duduk di pinggir hutan mangrove. Kami biasa duduk sambil minum teh dan itu kadang sampai sore,” ujar Tete Wondi.

Tete Wondiwoy dan tetangganya Brigpol Laurens terlihat ngobrol ringan dipinggir hutan mangrove, Entrop

Selain bertukar cerita, Brigpol Laurens kata Tete Wondi suka berbagi cerita yang berkaitan dengan situasi keamanan dan menyampaikan pesan – pesan kamtibmas yang terbaru, salah satunya terkait pembatasan aktifitas dan protokol kesehatan.
“Jadi kami juga tahu apa kabar terbaru meski tidak keluar. Anak Polisi ini (Brigpol Laurens) kadang main ke tetangga – tetangga dan kami senang karena rumahnya paling depan dan bisa ikut menjaga situasi dikompleks sini,” imbuhnya.

Bentuk kemitraan dan pembinaan masyarakat (Binmas) yang dilakukan Brigpol Laurens dianggap mampu merangkul dan memberi rasa nyaman bagi warga. Disini perlahan – lahan image polisi adalah mengayomi, polisi adalah kemitraan, polisi adalah mengamankan, polisi adalah penegakan hukum dan polisi juga adalah edukasi perlahan muncul.
“Saya pikir seperti ini yang sepatutnya hadir dalam keragaman fungsi di tubuh institusi Polri. Polisi tidak melulu harus menangkap dan memenjarakan orang namun masih ada sisi lain yang bisa diterima masyarakat,” jelas Tete Wondi.

Bahasa yang diutarakan ini terdengar diplomatis namun bisa dimaklumi mengingat Tete Wondi dulu pernah mendapat pendidikan di sekolah rakyat (SR) bahkan pernah membantu memikul senjata saat pasukan Siliwangi pertama kali masuk ke Papua. “Kalau bicara sejarah itu banyak sekali, dulu saya masih sempat pegang uang golden belanda juga. Hanya kalau ketahuan memegang 100 golden itu biasa akan ditangkap karena dianggap sebagai pencuri. Saya juga menyaksikan kapal pertama yang masuk ke Jayapura yaitu Kapal Touti termasuk ada kapal Brantas dan Tolando, jadi anak polisi ini senang dengar cerita – cerita begitu,” imbuhnya.

Yang dilakukan Brigpol Laurens sejatinya sesuai dengan pernyampaian Presiden Joko Widodo ketika memimpin upacara hari ulang tahun ke 74 Bhayangkara pada 1 Juli 2020. Pesan yang dititipkan untuk korps seragam coklat adalah bagaimana Polri ikut berperan serta mengatasi permasalahan kesehatan maupun ekonomi selain menjamin keamanan daerah. Keselamatan masyarakat dalam Pandemi Covid 19 juga menjadi hal utama. Termasuk Presiden meminta Polri bersikap humanis dan persuasif dalam mendisiplinkan warga untuk mematuhi protokol kesehatan. “Saya pikir kami tak boleh kaku, kekerabatan sangat penting untuk membangun kesepahaman tentang kamtibmas. Saya juga senang karena bisa melihat langsung keseharian warga sekaligus memantau keamanan lingkungan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *