Tingginya Jam Terbang ”Wolverine”, Kenangan Flypast ”Rabbit”

Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb Agus Dwi Aryanto (kiri) bersama Mayor Pnb Ferry Rahcman (kanan) saat ditemui di Skadron Udara 3 Lanud Iswahjud saat ditemui di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Selasa (16/2/2021). FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

Cerita dari Kokpit dan Hanggar Jet Tempur F-16 (1)

SAHRUL YUNIZAR, Madiun, Jawa Pos

GAWAT!

Dari balik kokpit F-16, Agus ”Wolverine” Dwi Aryanto merasakan ada gangguan rem pada jet tempur. Padahal, posisinya tengah landing di Lanud (Lapangan Pangkalan Udara) TNI Angkatan Udara (TNI-AU) Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Taruhannya nyawa!

Dengan segala keterampilan dan pengetahuannya, alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) angkatan 2002 itu berusaha mengendalikan pesawat tempur yang diterbangkannya dari Medan, Sumatera Utara, dengan tujuan akhir Lanud TNI-AU Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur, tersebut. Dan, berhasil. Dia selamat, pesawat juga selamat.

”Alhamdulillah, waktu itu unsaved condition (kondisi yang tidak bisa diselamatkan) bisa follow save action (diikuti aksi penyelamatan),” ujar Agus yang kini berpangkat letkol penerbang.

Tujuh tahun berselang dari kejadian menegangkan yang dialami Agus pada 2007 itu, sebuah objek tak dikenal terdeteksi radar AU. Objek tersebut mengudara pada ketinggian 11 ribu kaki dengan kecepatan mencapai 400 kilometer per jam.

Guna mengidentifikasi dan menghalau objek itu, TNI-AU mengeluarkan perintah scramble. Dua unit pesawat F-16 Fighting Falcon yang salah satunya diawaki Ferry ”Rabbit” Rachman bergerak mengejar.

Tidak butuh waktu lama, objek tersebut teridentifikasi sebagai Swearingen SX-300 dengan nomor registrasi N54JX. Pesawat itu terbang dari Sri Lanka menuju Thailand, tetapi akhirnya dipaksa turun di Lanud Soewondo.

”Dicari tahu objek yang melanggar, pesawat apa, dipersenjatai atau tidak,” kenang Ferry, lulusan AAU angkatan 2007 yang kini berpangkat mayor penerbang, tentang perisiwa tersebut.

Meski terpisah tujuh tahun, dua kejadian itu turut membentuk Agus dan Ferry hingga menjadi seperti sekarang. Penerbang-penerbang andal berjam terbang tinggi yang berada di balik kokpit alutsista (alat utama sistem persenjataan) canggih milik TNI-AU: F-16.

*

Agus tidak akan pernah lupa harapan sang bunda yang diucapkan 25 tahun lalu di balik tembok ujung Lanud TNI-AU Iswahjudi. ”Iku Le F-16. Mbok menowo suatu saat kamu bisa jadi pilotnya. Kowe kudu sregep sinau. (Itu Nak F-16. Mudah-mudahan suatu saat kamu bisa jadi pilotnya. Kamu harus rajin belajar),” kenang Agus.

Kini, tidak hanya menjadi pilot jet tempur andalan TNI-AU, Agus bahkan mengomandani Skadron Udara 3, sarang para pemburu yang sehari-hari bertugas menggunakan pesawat tempur F-16.

Pesawat tempur F-16 kali pertama didatangkan ke Indonesia pada 1989 melalui program yang dinamai Peace Bima Sena II. Program tersebut merupakan lanjutan Peace Bima Sena I. F-16 yang juga dipakai puluhan negara selain Indonesia dan AS datang ke tanah air secara bertahap.

Bukan hanya Skadron Udara 3 di Lanud Iswahjudi, TNI-AU juga memperkuat Skadron Udara 16 yang bermarkas di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, dengan pesawat F-16. Setiap lanud itu dibekali satu skuadron tempur F-16 yang setiap hari aktif menjalankan latihan maupun misi-misi operasi di berbagai wilayah udara Indonesia.

Pekan lalu, dengan setelan pilot lengkap, pria yang memiliki call sign Wolverine itu menunjukkan deretan F-16 kepada Jawa Pos di Skadron Udara 3. Skuadron di bawah Wing Udara 3 Tempur Lanud TNI-AU Iswahjudi itu memang punya sejarah panjang sebagai salah satu skuadron tertua di Republik Indonesia.

Pemburu yang menjadi semboyan skuadron tersebut ada sejak 1951. Menjadi penanda bahwa alutsista di skuadron itu bukan sembarang alutsista. Begitu pula penggawanya. Terbaik di antara yang terbaik.

Agus berhasil mewujudkan impian yang dulu dipeluknya erat bersama komik Elang Biru yang memopulerkan F-16 di Indonesia. Juga, mencapai doa yang diucap ibunya sambil melihat siluet-siluet F-16 seperempat abad silam.

Jam terbang Agus sudah berada di antara 3.200 sampai 3.300.  Namanya bersanding dengan pilot-pilot legendaris F-16. Mulai M. Anjar Legowo, Gusti Made Yoga A, sampai Nur ’Alimi.

Raihan 3.000 jam terbang diperoleh Agus tahun lalu. Tepatnya pada 5 Februari 2020. Sejak itu dia resmi menjadi penerbang tempur F-16 ke-4 di Indonesia yang bisa mencapai 3.000 jam terbang. Raihan tersebut diabadikan Marsekal Pertama TNI Widyargo Ikoputra yang kala itu menjabat komandan Lanud Iswahjudi. Widyargo yang menempelkan badge 3.000 jam terbang di setelan Agus.

”Kalau dibilang berat (mencapai 3.000 jam terbang), menurut saya, itu seperti hobi. Jadi, enjoy-enjoy aja,” kata pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 39 tahun lalu, tersebut.

Dia masuk Skadron Udara 3 pada 2005. Satu tahun setelah itu, dia langsung dipercaya mengawaki F-16. Total, ada 155 personel TNI-AU yang kini berada di bawah komando Agus. Sebanyak 21 personel di antaranya adalah penerbang F-16 Fighting Falcon.

Agus bersama pilot-pilot F-16 di Lanud Iswahjudi bisa terbang dua kali dalam sehari. Lama terbang masing-masing sortie sekitar 1,5 jam. Itu dijalani untuk latihan rutin maupun operasi atau misi-misi khusus. Mulai patroli udara sampai menjaga daerah-daerah rawan seperti wilayah perbatasan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Termasuk tugas di Blok Ambalat.

Bagi Agus, 155 personel Skadron Udara 3 bukan sekadar rekan kerja, tetapi juga sudah menjadi keluarga. Itu dia buktikan dengan menyambangi semua rumah prajurit TNI-AU yang bertugas di skuadron tersebut. Satu per satu. ”Untuk kenal dengan keluarga mereka,” kata dia. ”Jadi, kalau saya ditanya A rumahnya di mana, saya tahu. Yang jauh-jauh sudah saya datangi,” tambahnya.

Agus mengakui, sebagai penerbang tempur dengan single-seater atau fighter, di udara dia adalah ”Wolverine” dengan cakar tajam sesuai call sign-nya. Siap menerkam siapa pun yang berani mengganggu kedaulatan dirgantara Indonesia.

Pengalaman juga mengajari dia bahwa menjadi seorang penerbang tempur tidak cukup hanya dengan mengandalkan skill (keterampilan). ”Tapi, knowledge (pengetahuan) juga penting, pemahaman tentang sistem juga penting,” tegasnya.

Nilai-nilai yang ditanamkan Agus menjalar kepada seluruh jajarannya. Termasuk Mayor Penerbang Ferry ”Rabbit” Rachman yang sudah meraih 2.500 jam terbang. Ferry yang bertugas sebagai kepala seksi operasi Skadron Udara 3 bergabung dengan para pemburu sejak 2009. Belasan tahun bertugas, pria 35 tahun itu juga sudah melalui banyak hal. Dia merupakan salah seorang penerbang tempur yang kali pertama mendapat izin melakukan flypast di atas Istana Negara, Jakarta. ”Dilihat langsung oleh Bapak Presiden merupakan suatu kebanggaan bagi saya pribadi,” kata penerbang dengan call sign ”Rabbit” karena kelincahan dalam menerbangkan jet tempur tersebut.

Sejarah itu dicetak pada 2011, tepat pada peringatan HUT Ke-66 RI. Sebelumnya, flypast di atas Istana Negara tidak diperbolehkan.

Semua  yang telah dia capai kini tidak pernah dibayangkannya. ”Diberi kepercayaan untuk mengoperasikan alutsista yang sungguh mahal ini,” ucapnya.

Dalam setahun, Ferry bisa menambah lebih dari 300 jam terbang. Untuk ukuran penerbang tempur, angka itu termasuk tinggi. Kesiapan pesawat yang tinggi dan kemampuan penerbang di Skadron Udara 3 saat ini, lanjut Ferry, memungkinkan dirinya terus berkembang.

Bukan hanya F-16 lama, Skadron Udara 3 juga dilengkapi F-16 yang sudah di-upgrade melalui program Falcon Star-eMLU. Jadi, pilot-pilotnya bisa merasakan teknologi paling anyar di pesawat tempur tersebut.

*

Di Skadron Udara 3, wall of fame untuk pilot dengan 4.000 jam terbang masih kosong.

Who will be the first??? Are you?

Tulisan itu disandingkan dengan seekor naga (dragon) yang juga menjadi nama lain Skadron Udara 3. Yang menjadi pemacu semangat bagi semua yang berada di skuadron tersebut.

Tidak terkecuali Ferry. Saat ini dia tidak hanya bertugas sebagai penerbang. Pria asal Banjar, Jawa Barat, itu juga diberi kepercayaan sebagai instruktur penerbang.

Dia bertugas membina penerbang-penerbang baru agar semakin andal di medan tugas. ”Satu yang belum tercapai, menjadi fighter weapon,” ungkapnya.

Begitu pula Agus. ”Selama masih dianggap bisa, saya masih ingin terbang,” tegasnya.

Karena itu, kebugaran, kesehatan, dan kemampuan tempurnya terus dia asah. Dengan kesempatan yang ada, Agus bisa mencatatkan namanya sebagai penerbang F-16 dengan 4.000 jam terbang. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *