Pasrah, Namun Tidak Putus Asa Untuk Tetap Berkebun

Lokasi perkebunan di jalan baru Youtefa yang terendam air dan nyaris gagal panen, Jumat (26/2) kemarin. (FOTO :Yohana/Cepos)

Keluh Kesah Petani di Tengah Musim Hujan

Musim Hujan nampak menjadi dilema terbesar bagi para petani baik petani sayuran maupun komoditas lainnya di Jayapura. Apa kata petani sayur di Jalan baru Youtefa?

Laporan: Yohana

Pagi itu, Jumat (26/2) hujan terus mengguyur Kota Jayapura dan sekitarnya, suhu sekitar 25֯c nampak aktivitas di lahan pertanian jalan baru Youtefa sepi.
Para petani hanya bisa menengok hasi bercocok tanamnya dari atas sebuah rumah panggung yang berada persis didepan lahan perkebunan tersebut. Sembari kecewa namun tetap bersyukur melihat ladangnya yang dipenuhi genangan air hujan.
Struktur tanah semakin becek, bahkan bekas kaki para petani membentuk kubangan-kubangan air yang menghiasi lahan perkebunan itu seperti taman di tengah-tengah rawa.
Musim hujan menjadi ancaman serius bagi para petani, bagaiman tidak, hampir seluruh tanah terendam air, kondisi lahan menjadi becek membuat tunas-tunas hijau sulit untuk bertumbuh meski umur benih sudah lebih dari masanya.
Di saat musim hujan yang terus mengguyur bumi, ada harapan dan doa dari para petani, berharap hujan yang turun tidak merusak benih maupun sayuran yang mulai mekar layaknya bunga.
Ternyata kapasitas air yang berlebihan menjadi ancaman serius bagi komoditi pertanian khususnya sayur-sayuran, sangat riskan melihat kondisi lahan yang gundul bukan karena hasil pertaniannya dicabut oleh petani karena waktu panen tetapi karena rusak dan tak bisa dijual maupun dijadikan konsumsi sendiri.
Secara otomatis stok sayur mulai terbatas, harga sayuran mulai naik dan yang paling terasa saat ini adalah komoditi cabai rawit maupun tomat yang harganya merangkak hingga Rp120 ribu/kg untuk cabai rawit, sementara tomat Rp 30 ribu/kg dari harga normal Rp 10 ribu/kg.
Sebagian orang berpikir bahwa pada momen seperti ini, petanilah yang paling diuntungkan, karena dapat menjual sayur maupun komoditi lainnya dengan harga yang mahal.
Namun pada kenyataannya, kondisi petani malah sebaliknya tetap merugi. Dalam kondisi seperti ini harga sayur yang disediakan tetap sama yakni Rp 3 ribu/ikat bahkan 2 ikat Rp 5 ribu, sama halnya dengan harga musim panas.
Harga tersebut merupakan harga paten yang sudah dipatok oleh para pengepul, entah jumlah sayur berlimpah harganya pun tak berubah.
Sementara ketika sayur-sayuran ini dilepas di pasaran harganya berbeda, bahkan saat ini naik dari Rp 5 ribu/ikat menjadi Rp 8 ribu – Rp 10 ribu/ikat. Meski merasa tidak adil namun, para petani tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau tetap harus tetap dijual, jika tidak demikian tidak ada modal yang bisa diolah kembali.
Seperti yang diungkapkan Daniel Masang seorang petani di area jalan baru Youtefa mengakui semenjak musim hujan hasil panen menjadi tidak maksimal, dari lahan yang kurang dari satu hektar ini biasanya bisa menghadilkan 200 ikat sayur dari satu beden pertanian namun kali ini jangankan 100 ikat, mencapai 50 ikat saja jarang diperolehnya.
“Semenjak musim hujan sayur kami banyak yang rusak sebelum waktu panen, sehingga hasil panen tidak memuaskan, yang paling menyediakan ladang yang kami tanami benih justru semakin banyak hujan akhirnya benih tersebut mati dan ada juga yang tumbuh tapi lambat perkembanganya,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, pihaknya tidak bisa mengharapkan lebih, meski hasil pertaniannya cukup mengecewakan, mereka hanya bisa pasrah kepada sang Pencipta.“Kami hanya berharap musim hujan bisa cepat berlalu, karena kami harus menanam beni yang baru, kalau tanah seperti ini semua benih yang kami tanam pasti masti, apa lagi untuk jenis sayuran bayam, sawi dan kangkung cabut,” terangnya.
Bahkan diakuinya, jika musim kemarau dirinya masih bisa berharap hasil panen mengembirakan karena setiap hari baik pagi maupun sore merupakan jadwal rutin untuk menyiram tanaman sehingga hasilnya lebih baik dari pada musim hujan.
“Dengan kondisi ini, belum lagi harga pupuk Rp 125 ribu/karung ditambah harga benih sayuran yang habis sementara modal yang kami keluarkan tidak bisa diganti dengan hasil penjualan sayur kami,” terangnya.
Pihaknya berharap, dengan kondisi sepert ini pemerintah bisa membantu dengan memberikan bibit maupun pupuk untuk meringankan beban petani dimusim hujan. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *