Sebagian Pedagang Tidak Tahu Jual BBM Subsidi Melanggar Hukum

Penjualan BBM subsidi ilegal di pinggir-pinggir jalan di Merauke yang marak dan mulai ditertibkan dengan keluarnya imbauan dari Kepolisian Resor Merauke. Tampak salah satu kios di pinggir jalan Pemuda yang jual BBM premium subsidi tersebut.  ( FOTO:  Sulo/Cepos)

MERAUKE –Maraknya penjualan BBM  bersubsidi seperti premium dan minyak bahkan  solar, ternyata karena banyak pedagang yang tidak tahu bahwa menjual BBM subsidi secara ilegal  tersebut adalah pelanggaran hukum.

   Hj. Norsia, salah satu  pedagang kios  di Jalan Pemuda Merauke  saat ditemui terkait dengan surat  edaran dari Kasat Reskrim Polres Merauke terkait dengan larangan menjual  BBM  subsidi  secara ilegal tersebut mengaku belum  menerima. Namun  jika ada larangan, lanjut Hj. Norsia, dirinya tidak akan menjual  lagi. “Yang penting  pedagang lain tidak ikut jual lagi,’’ katanya.

  Hj. Norsia mengaku tidak tahu  kalau menjual BBM subsidi tersebut adalah sebuah pelanggaran hukum. “Kita tidak  tahu  kalau menjual BBM subsidi itu suatu pelanggaran. Karena banyak orang yang jual, makanya kita ikut jual,’’ terangnya.

   Untuk  BBM premium, kata  Hj. Norsia, dibelinya dengan harga Rp 7.500 perliter  dan jual  antara Rp 9.000-10.000  perliter. ‘’Kalau belinya di sekitar Lampu Satu. Kita pakai  jerigen ke sana,’’ terangnya.

   Sementara itu, pedagang kios lainnya yang menjual  premium, minyak tanah sampai solar  juga mengaku belum  mendapat surat edaran dari Kepolisian tersebut.’’Tapi teman-teman lain sudah  diberikan. Mungkin karena  terbatas, sehingga ada yang dapat dan ada yang tidak,’’ katanya.

   Jumiati   mengaku bahwa BBM premium, minyak tanah dan solar  yang dijual tersebut  dibawakan oleh orang lain. “Ada orang yang tiap hari datang tawarkan ke kita dan kita beli lalu jual lagi,” katanya  memberi alasan.

    Untuk premium, kata  Jumiati, dibelinya dengan harga Rp 7.500/liter kemudian dijual dengan harga Rp 9.000, lalu  minyak tanah dengan harga Rp 5.000/liter  kemudian dijualnya  dengan harga Rp 6.000/liter dan solar dibelinya dengan harga Rp 6.000 kemudian dijual dengan harga Rp 7.000. Jumiati juga mengaku  apa yang dilakukan tersebut sebagai sebuah pelanggaran hukum karena menjual BBM tanpa  izin dari pemerintah.

  “Tahunya karena orang lain jual makanya kita ikut jual juga. Dapat untung sedikit-sedikit,’’ katanya memberi alasan lagi.

  Untuk diketahui, akibat permainan  BBM subsidi tersebut, masyarakat  menjadi  korban. Pasalnya, untuk BBM premium hampir  tidak ditemukan lagi di SPBU. Kalaupun masih ada,  justru masyarakat yang punya  mobil  yang dapatkan sementara yang baru mampu beli motor dikasih  petralite atau pertamax.

   Sementara  minyak  tanah dengan harga eceran tertinggi yang ditetapka pemerintah daerah Kabupaten Merauke sebesar Rp 3.500 sulit didapatkan di pangkalan, karena sebagian pangkalan ikut mainkan  minyak tanah subsidi tersebut. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *