Melihat Terapi Topu Bara, Pengobatan Alternatif Patah Tulang di Dok 9

Suasana terapi topu bara yang dilakukan terhadap pasien di Dok 9 Rabu (24/2) lalu. ( FOTO:Wenny firmansyah/cenderawasih pos)

Pengobatan Turun Temurun, Pernah diajak ke Berbagai Daerah untuk Obati Pasien

Sebelum dunia kedokteran berkembang seperti saat ini, banyak terapi, atau pengobatan alternatif di tiap negara atau daerah, yang mempunyai penanganan yang berbeda. Salah satu yang cukup ramai didatangi oleh masyarakat yakni terapi topu bara di Dok 9, Seperti apa terapi tersebut?

Laporan: Eriyanto

Di halaman rumah yang tak begitu luas, beralas tanah berjejer kursi begitu rapi yang telah dihuni para pasien yang sedang mengantri untuk mendapatkan giliran pengobatan tradisonal atau terapi tradisional yang dikenal Topu Bara.

Terapi Topu Bara ini sedikit unik, pasalnya terapi ini menggunakan bara api khusus yang mengalami patah tulang dan gangguan saraf.

Bak dokter prakter spesialis, rumah yang berada di Dok 9 Kota Jayapura itu selalu diserbu oleh masyarakat di sore harinya. Ya, mereka yang datang adalah pasien yang mengalami patah tulang.

Tak heran jika di tempat ini kita disuguhkan dengan pemandangan pasien yang didominasi oleh pasien patah tulang, ada yang harus ditopang atau di bopong oleh keluarganga yang ikut mengantar, ada yang mengalami patah kaki dan harus menggunakan tongkat.

Siapa yang lebih awal antri akan mendapatkan kesempatan lebih awal untuk mendapatkan giliran, setiap pasien akan bergantian untuk menempati kursi yang kosong sebagai tempat proses pengobatan. Bermodalkan bara api yang berbungkus lapisan daun pisang, kemudian diolesi dengan minyak kelapa, proses pengobatan pun dilakukan.

Sesuai dengan namanya, Topu Bara, berarti tepuk dengan bara api. Sehingga bara api yang telah terbungkus daun pisang itu akan ditepuk pada bagian tulang yang patah. Dengan pantangan tidak boleh bersuara panas atau sakit.

Percaya atau tidak percaya, namun terapi topu bara tersebut benar-benar ampuh. Dari sekian pasien, beberapa diantaranya dapat memperoleh kesembuhan.

“Sudah banyak yang sembuh, dari semua kalangan sudah pernah datang berobat di sini,” ungkap Ariel kepada Cenderawasih Pos saat disambangi di sela-sela melakukan terapi di depan pintu rumahnya itu, Kamis (24/2) kemarin.

Sambil membungkus bara api, Ariel menceritakan, jika setiap harinya mereka kedatangan 40-60 pasien sejak dibuka dari jam 13.00 WIT – jam 20.00 WIT. Ariel tak sendiri, ia bersama dengan sang ibu kemudian dibantu dengan 12 teman-teman sebayanya.

Pemuda berusia 27 itu berikisah, usut punya usut, Topu Bara yang kini digelutinya itu ternyata sebuah warisan dari nenek moyangnya yang berasal dari sebuah desa Waai di Pulau Ambon, Kacamatan Salahutu.

“Pengobatan ini asalnya dari Waai, Ambon. Tidak tahu persisnya, soalnya pengobatan ini sudah turun temurun. Dari kakek ke bapak, kemudian bapak ke Jayapura, kemudian bapak turunkan ke saya, dan saya di umur 9 tahun memang sudah bantu, dan usia 14 tahun baru saya ikut mengobati sendiri,” ujar Ariel.

Selain patah tulang, ternyata topu bara juga mampu mengobati beberapa penyakit seperti stroke, kolestrol dan asam urat dengan waktu pengobatan dan tak bertarif. “Kalau seperti patah satu itu hanya 3 mingguan saja, itu kalau dia rutin dan yakin. Dokter juga pernah ada, kita tidak tertutup,” ucap Ariel.

Ariel menceritakan, sebelum mengambil alih warisan terapi Topu Bara itu, Ariel lebih dulu belajar bagaimana cara membungkus bara api dengan daun pisang. Dan yang paling penting mengetahui letak tulang.

“Cara bungkusnya, ada tekniknya, kalau salah bungkus tangan bisa melepuh. Kemudian pakai minyak kelapa. Hanya itu saja tapi yang penting itu tekniknya. Kita harus tahu letak-letak tulangnya. Teman-teman yang ikut membantu juga ditrainning dahulu biar mereka paham,” ucap Ariel.

Topu Bara mulai mencuat di Kota Jayapura sejak tahun 2000-an. Tanpa perlu beriklan, Topu Bara dari mulut ke mulut akhirnya kini bisa memiliki pasien hingga 60 per hari. Bahkan tak sekali, Ariel juga harus menerima undangan dari pasien yang berada di luar Papua.

“Saya sudah beberapa kali ke kabupaten yang ada di Papua, seperti Wamena, Merauke, Lanny Jaya, Sarmi dan yang lainnya. Termasuk pernah dibawa berobat ke Jakarta. Mereka tahu dari keluarga mereka yang ada di Jayapura,” kisah Ariel.

“Pasien dari kalangan pemain bola juga ada seperti, Imanuel Wanggai pernah, Ricardo Salampessy, begitu juga dengan Cabor persiapan PON. Kami melayani dengan tulus bagi yang ingin berobat dan ingin sembuh,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu pasien yang pernah merasakan khasiat dari terapi Topu Bara, Sem Kabuare menceritakan, bahwa ia pernah mengalami gangguan pada kepala dan leher pasca mengalami musibah pada beberapa tahun lalu.

“Saya jatuh di pantai waktu itu, kepala saya kena batu, leher tidak bisa digerakan, begitu juga dengan kepala dan ada keluarga yang sarankan ke sini, dan akhirnya saya bisa sembuh,” ucap Sem.

Beranjak dari situ, Sem juga membeberkan, bahwa ia kerap merekomendasikan topu bara kepada masyarakat bila mengelami musibah pata tulang.

“Saya sering bawa orang ke sini, mereka sembuh. Sekarang anak saya ini saya bawa lagi, kakinya patah, sebenarnya sudah sembuh tapi karena salah tumpuan tadi makanya saya bawa lagi. Jadi setiap ada yang patah tulang, pasti saya sarankan ke sini, karena sudah banyak yang buktikan,” pungkasnya.

Sementara Nur Said yang ditemui mengaku ke tempat alternatif Topu Bara karena direkomendasikan teman, ia tetap beriktiar sembuh dari penyakitnya yang sudah dialami sejak 2018 lalu. “ Ya, tidak ada salahnya, kita coba saja,awalnya setelah ditempel bara rasa panas sekali dan terasa nyeri, tapi mau diapakan yang penting bisa sembuh dia harus menjalaninya,” bebernya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *