Akumulasi  Masalah Lingkungan Akibat Ketidakpedulian Warga

Banjir di Wamena yang membuat air meluap ke jalan dan mengakibatkan kemacetan di jalan Hom-hom Wamena, Senin (22/2). ( FOTO: Denny/Cepos)

Mencermati Penyebab Terjadinya Bencana Banjir di 3 Wilayah Kota  Wamena

Meski berada di dataran tinggi, namun Wamena tidak luput dari musibah banjir. Musibah kali ini terbilang lebih besar, dari banjir sebelumnya. Dimana ada tiga wilayah yang terendam banjir. Lantas apa yang menyebabkan banjir ini terjadi?

Laporan: Denny Tonjauw-Wamena

Fenomena La Nina, dengan itensitas curah hujan tinggi, tidak hanya terjadi di daerah Jawa dan daerah lainnya. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika  di Wamena, beberapa kali telah memberikan peringatan dampak La Nina ini. Dimana akibat pergerakan gelombang angin itu yang membawa banyak uap air dari lautan pasifik, menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga deras di wilayah Papua, termasuk Lapago.

   Meski curah hujan tinggi, sebenarnya musibah banjir ini bisa diminimalisir. Artinya genangan banjir tidak perlu sampai meluap jauh di pemukiman warga di sejumlah tempat, apabila ada kepedulian warga dalam menjaga lingkungan sekitarnya. Aliran air bisa mengalir, pada tempatnya, tidak perlu sampai meluap di jalan-jalan.

  Pemkab Jayawijaya sudah sering memberikan imbauan agar tidak membuaang sampah sembarangan, apalagi di drainase atau saluran air. Termasuk dalam membangun, harus berwawasan lingkungan. Memperhatikan dampak lingkungan. Andai itu ditaati, musibah banjir tentu tidak akan parah, meski harus terjadi karena hujan deras.

  Kenyataanya, warga kurang merespon. Masih banyak sampah botol bekas, plastik dan berbagai jenis lainnya ada dalam saluran drainase dalam kota Wamena. Hal ini terlihat setelah adanya hujan dengan intensitas sedang saja, maka air di jalan utama Wamena bisa meluap ke jalan karena drainase tersumbat sampah itu.

  “Dari aksi bersih -bersih yang kami lakukan, kami mendapatkan informasi dari warga sekitar jalan Trikora Wamena jika sampah yang menyumbat saluran air ini adalah sampah kiriman dari hulu, sehingga di hilir yang terkena dampak,”ungkap Dandim 1702/Jayawijaya Letkol Inf. Arif Budi Situmeang  pada saat melakukan kerja bakti bersama personilnya di sepanjang jalan Trikora belum lama ini.

  Selain masalah sampah , ada juga masalah pembangunan rumah yang menutup saluran pembuangan air seperti yang ada di wilayah Hom-Hom, Jalan SD Percobaan dan Pasar Jibama Wamena. Pertambahan penduduk dari hari ke hari membuat pembangunan rumah itu kian mulai padat, sehingga ada jalur -jalur pembuangan air ini yang di persempit untuk membangun rumah atau pagar. Hal ini yang tidak dipikirkan oleh masyarakat, bagaimana air ini bisa keluar tanpa harus terhambat.

   Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, saat mengunjungi lokasi banjir kemarin, menyebutkan jika di dalam kota Wamena ada beberapa kali-kali kecil yang pembuangannya bermuara ke Kali Baliem yang besar, dan itu sudah ada sejak dulu dan pemerintah tidak pernah ingin agar jalur kali kecil dalam kota wamena itu dipersempit. Namun karena seiring perjalanan waktu banyak pembangunan yang menutup atau memperkecil jalur air yang ada di kali dalam Kota wamena.

  “Kalau jalur kali kecil yang ada dalam Kota Wamena dipersempit dan disertai dengan penyumbatan karena sampah, kalau hujan dan debit air meningkat bagaimana air ini bisa keluar ke pembuangannya ini yang harus dipikirkan sebelum membangun,” ujar Bupati.

  Meski banjir kemarin hanya sampai selutut orang dewasa, dan tidak sampai menyebabkan korban jiwa, namun paling tidak bisa menjadi warning bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap masalah lingkungan di sekitarnya. Sering membersihkan saluran air yang tersumbat sampah, maupun tidak membangun di bantaran kali.  Hal ini penting, supaya  tidak terjadi akumulasi masalah lingkungan yang berdampak  banjir yang lebih parah lagi ke depan. Apalagi fenomena La Nina ini diprediksi sampai pada April mendatang.

   “Banjir ini peringatan dan akumulasi dari masalah lingkungan masyarakat yang kurang diperhatikan dengan baik, karena masalah lingkungan ini bukan tanggungjawab pemerintah semata tetapi juga masyarakat untuk bisa meningkatkan kesadarannya,”kata Jhon Banua. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *