Jalan Trans Jayapura -Wamena Tutup Sementara 3 Bulan

Kepala BPJN Jayapura, Edu Sasarari (kanan) didampingi Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan (kiri) saat memberikan keterangan kepada awak media saat ditemui di Kantor Balai Jalan Nasional Jayapura, Tanah Hitam, Kota Jayapura, Rabu (24/2). ( FOTO: Erik/Cepos)

JAYAPURA-Ruas jalan trans Jayapura – Wamena dalam tiga bulan kedepan akan ditutup sementara. Mengingat adanya jembatan yang putus serta terjadinya kerusakan badan jalan di beberapa titik serta pembangunan jalan, sehingga untuk memaksimalkan pembangunan dan perbaikan, penutupan jalan sementara merupakan solusi yang tepat.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Jayapura, Edu Sasarari mengatakan bahwa penutupan jalan Jayapura – Wamena sebenarnya telah mereka dilakukan beberapa bulan lalu. Hanya saja, penutupan tersebut tidak maksimal, karena beberapa pengendara tetap memaksakan untuk melintas dan akhirnya menghambat proses pekerjaan jalan dan jembatan.

“Penutupan kami sudah lakukan beberapa bulan lalu, hanya saja ada yang tetap lewat. Dan akhirnya mereka harus bermalam sampai tiga malam di tengah hutan, dan alat pekerja yang ada di lokasi justru sibuk mendorong kendaraan yang terjebak, sehingga pekerjaan tidak maksimal,” ungkap Edu Sasarasi kepada awak media saat ditemui di Kantor Balai Jalan Nasional Jayapura, Tanah Hitam, Kota Jayapura, Rabu (24/2).

Sebab itu, agar pekerjaan benar-benar bisa berjalan dengan maksimal. Balai Jalan Nasional Jayapura akan menutup sementara selama 3 bulan. Bahkan, dalam penutupan tersebut, BPJN Jayapura akan melibatkan pihak TNI untuk menertipkan proses penutupan jalan tersebut.

“Kami lihat sepanjang jalan trans Jayapura – Wamena ada pos-pos tentara yang paling terdepan, dan kami minta kerja sama untuk merekayasa lalu lintas. Sehingga tidak ada lagi penumpukan kendaraan di sepanjang jalan. Itu tugas kita sama-sama dengan TNI,” ujar Edu Sasarari.

Kabalai Edu menjelaskan bahwa BPJN Jayapura telah melakukan sosialisasi berupa pengumuman spanduk yang ada di bebeberapa titik, lebih khusus bagi pengendara lintas Jayapura – Wamena.

Edu menyebutkan, untuk penutupan kendaraan mereka akan mulai pada Km 76 di Kabupaten Keerom.

“Saya pikir kita akan ujicoba selama 3 bulan. Tapi selama kita bekerja dalam sebulan, maka kita juga akan memberikan kesempatan bagi pegendara untuk melintas selama seminggu, begitu pun sebaliknya. Kami lakukan ini sehingga kendaraan bisa lewat tanpa kendala dan tidak bermalam lagi,” ucap Edu Sasarari.

“Penutupan kita mulai dari titik km 76, maksudnya dari titik itu kita akan menyaring, kalau ada kendaraan yang mau naik ke Wamena kita kasih tahu jangan dulu. Jangan sampai mereka sudah di tengah-tengah kemudian kita kasih tahu kembali kan jauh sekali. Saya juga berharap dengan penerapan tutup sementara ini, waktunya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh para pekerja agar bisa maksimal,” sambungnya.

Tapi kata Edu Sasarari, selama proses penutupan jalan, ada beberapa kendaraan yang mendapatkan lampu hijau, seperti kendaraan medis, serta kendaraan yang membawa logistik bagi pos-pos TNI yang ada di sepanjang ruas jalan Jayapura – Wamena.

Begitupun dengan kendaraan yang mengangkut alat-alat pekerja jalan dan jembatan.

Di tempat yang sama Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan mengatakan bahwa TNI akan mendukung penuh proses penutupan jalan sementara. Sebab dengan penutupan sementara jauh lebih efektif dalam penyelesaian pekerjaan jalan dan jembatan sepanjang ruas jalan Jayapura -Wamena.

“Dari Jayapura – Wamena, itu ada total 16 pos. Sepanjang jalan itu kami akan memaksimalkan peran kami dalam membantu Balai Jalan dalam pembangunan ini. Mulai dari Km 76, di situ kami akan tutup kemudian kami akan saring di Senggi sampai Benawa. Sedangkan dari Wamena, kami akan kendalikan dari titik Abenaho,” ungkap Danrem.

Danrem menjelaskan bahwa upaya dalam memaksimalkan penutupan ruas jalan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan para pelaku usaha yang selama ini menggunakan ruas jalan tersebut.  “Kami ini bukan mengganggu aktivitas perekonomian tapi justru kami berupaya mendukung Balai Jalan untuk memaksimalkan aktivitas ekonomi dengan menggunakan ruas jalan tersebut,” jelasnya.

Menurut Danre, , setelah ruas jalan tersebut telah terbangun dengan baik, tentu akan mendorong pertumbuhan ekonomi di Papua, khususnya daerah pegunungan.

“Karena memang jalan ini sangat dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di daerah pegunungan. Dengan ruas jalan ini terbangun, yang tadinya dari Jayapura – Wamena 3 baru sampai, namun setelah jalan ini terbangun maka sehari pun sudah bisa sampai, tentunya pertumbuhan ekonomi akan naik. Ini tentunya TNI berkomitmen untuk mendukung terus pembangunan di Papua,” pungkasnya.

Secara terpisah, Kepala Balai Jalan Nasional Jayawijaya Kementrian PUPR,  Zepnat Kambu, ST, MT., memastikan jika jembatan yang terputus di Km 63 di Distrik Abenaho, Kabupaten Yalimo, merupakan jembatan belly (jembatan sementara), sebelum dibangun jembatan permanen yang direncanakan  pada tahun 2022 mendatang.

Diakuinya, jembatan yang menghubungkan Kabupaten Jayawijaya dan Yalimo ini terputus banjir bandang. Dimana terdapat dua aliran kali yang bersamaan banjir dan menyatu ke arah bawah jembatan belly sehingga abutmen (dudukan Jembatan) di arah Yalimo, bergeser.

“Setelah kami turun ke lapangan dan melihat, ternyata bencana banjir yang disertai material itu ada dua kali yang menyatu di bawah abutmen jembatan di arah Yalimo. Karena abutmen arah Wamena itu tersumbat sehingga jembatan belly yang berdiri di atas tanah nampang maka dengan sendirinya terjatuh,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos Rabu (24/2) kemarin.

Putusnya jembatan ini diakui Zepnat Kambu murni bencana yang tidak bisa dihindari. Namun pihaknya telah menurunkan tiga alat berat, untuk melakukan normalisasi kali dan mengangkat belly yang bentangannya 40 meter. “Ini agak berat sehingga kami akan turun lagi kelapangan mempelajari bagaimana mengangkatnya,”bebernya

Zepnat Kambu mengimbau kepada masyarakat agar bisa mengerti dengan situasi ini. Dimana pihaknya masih terus berusaha menangani masalah ini sehingga jalan bisa kembali diakses.

“Kami saat ini masih kerja keras untuk menyiapkan jalan darurat. Karena jalan tersebut melalui wilayah lintas basah sehingga agak sulit kalau masih terus turun hujan. Apabila ada hujan lagi akan membawa batu dan tertimbun lagi,” ujarnya.

Lintas basah ini diakuinya bisa berfungsi dengan baik apabila curah hujan berkurang atau berhenti. “Kami terus bergerak sehingga mungkin sementara jalan darurat bisa dilalui kendaraan. Karena yang penting mobilitas manusia dan barang bisa melewati lebih dulu jalan darurat yang dibuat,” ucapnya.

“Jembatan belly yang akan diangkat ini tidak akan digunakan lagi untuk jembatan permanen. Namun akan disiagakan untuk wilayah kita yang bentang jembatannya sama tetapi belum didanai dan  ini bisa digunakan,” sambungnya.

Ditambahkan, pihaknya telah memintai kepada pemerintah dan masyarakat untuk memberikan waktu kepada tim Balai PUPR untuk menyelesaikan masalah ini. Selain menyiapkan jalan darurat pihaknya juga akan berpikir bagaimana untuk membangun jembatan belly yang baru lagi.(eri/jo/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *