Dit Pol Air Main di Laut, Pemuda Jayapura Singgung Pernah Sekolah Kok Masih Nyampah

BANGKITKAN KEPEDULIAN - Para  anggota komunitas di Jayapura yang tergabung dana Forum Komunitas Jayapura menggelar aksi Street Campaign memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari kemarin. Foto ini diambil Sabtu (20/2) lalu. ( FOTO: Gamel/Cepos)

Hari Sampah Nasional yang Diragap Sedemikian Rupa untuk Melawan Sampah

Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) menggerakkan banyak  kelompok dan instansi di Jayapura untuk peduli. Meski ada yang terkesan dadakan namun HPSN 2019 ini jauh lebih semarak dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Laporan : Abdel Gamel Naser

Status Indonesia sebagai penghasil sampah terbesar kedua di  dunia setelah China tentu tak mengenakkan di dengar. Apalagi di kalangan kelompok peduli lingkungan yang selama ini terus mengadvokasi isu-isu kekinian, salah satunya sampah plastik. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari kemarin menjadi momentum untuk mengingatkan publik untuk lebih peduli. Tak harus sampah umum tetapi bagaimana bertanggungjawab dengan sampah sendiri lebih dulu.

Berbagai kegiatan juga dilakukan dalam HPSN ini. Judulnya adalah peduli sampah. Apakah diajak atau keharusan karena perintas dinas yang penting ikut berpartisipasi mengangkat atau memungut sampah tanpa berpikir lain-lain. Di wilayah Jayapura Utara sendiri ada beberapa kegiatan yang dilakukan salah satunya oleh Dit Pol Air Polda Papua yang ‘memunguti’ sampah di laut. Kapolda Papua, Irjend Pol Martuani Sormin turun langsung memimpin pasukan dan mengail sampah bersama jajarannya. Ia terlihat enjoy dan sesekali ia mengeluarkan tubuhnya dari perahu boat untuk  menggapai sampah dengan tangan satu sementara satunya lagi menahan di tiang perahu.

Laut selama ini masih kerap digunakan warga sebagai tempat sampah yang sangat luas. Pemikiran jika sampah yang terbuang tak akan mendapat konsekwensi dari siapapun yang membuat warga seenaknya nyampah. Yang ditemukan dari kegiatan hampir 3 jam ini mulai dari kantor plastik kresek, kantor plastik es batu, botol oli, botol air mineral, sandal jepit,  tas hingga saringan AC. “Banyak ragam dan yang jelas ada sampah-sampah yang tak bisa diurai di laut. Banyak sekali plastik,” kata Koordinator Earth Hour Jayapura, Ros Delince Inserpan Weyai yang ikut dalam kegiatan tersebut.

  Kapolda sendiri secara tegas mengingatkan anggotanya untuk memahami bahaya sampah plastik. Ia sependapat bahwa laut bukanlah tempat sampah. “Sampah plastik menjadi ancaman karena tak bisa terurai dengan waktu singkat. Karenanya harus bijak dan  saya meminta disamping pekerjaan sehari-hari memberikan pelayanan kepada masyarakat, persoalan kebersihan lingkungan juga harus dipikirkan,” kata Sormin. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura, Ir Ketty Kailola menyampaikan bahwa volume sampah yang paling banyak berada di kawasan pemukiman. Pihaknya sendiri telah menyiapkan 80 tempat pembuangan sampah di kota namun masyarakat yang dianggao tidak tertib.

“Sampah terlihat banyak karena masyarakat di pemukiman tidak membuang pada jam yang sudah ditentukan,” kata Ketty. Iapun berniat akan menggeser staf kebersihan ke RT RW  agar lebih efektif dan pihaknya tinggal fokus pada jalur protokol. Soal penegakan hukum, Ketty menyebut  bahwa tahun ini akan dilakukan operasi yustisi untuk skala pemukiman. “Itu yang akan kami lakukan dan konsekwensinya adalah kurungan badan,” jelas Ketty. Sementara untuk data yang diperoleh terkait sampah diketahui jika dalam sehari Kota Jayapura bisa menghasilkan 5,1 ton sampah.

Sementara untuk jumlah sampah terbanyak dari lima distrik untuk tahun 2018 adalah Distrik Abepura dengan 23.288 ton, yang kedua Distrik Jayapura Selatan dengan 19.661 ton, Jayapura Utara sebanyak 18.306 ton, Distrik Heram sebanyak 12.082 ton dan Distrik Muara Tami 3.488 ton. Lalu total timbulan sampah untuk tahun 2018 adalah 76.826 ton dimana yang terolah sebanyak 54.498,15 ton  dan yang tak terkelola 15.413,56 ton. “Peningkatan pengelolaan sampah di tahun 2017 sebanyak 71,96 persen sedangkan di 2018 sebesar 80,12 persen atau ada peningkatan 7,16 persen,” jelasnya. Ditempat lain Forum Komunitas Jayapura (FKJ) juga melakukan aksi dalam HPSN. Bentuknya adalah street campaign. Dengan peserta  aksi yang jumlahnya hampir 100 orang ini seluruhnya memegang papan yang berisi pesan  mobil  moril untuk mengingatkan warga tentang sampah dan bahasa sampah plastik.

Dari papan yang dipamerkan banyak juga kalimat yang pedas namun menggelitik, diantaranya adalah mantan boleh berserakan namun sampah jangan. Lalu kalimat lainnya adalah ngaku pernah  sekolah tapi kok masih nyampah.  Termasuk kalimat sampah adalah benda mati tapi bisa membunuh. Sampah akan tetap ada meski kita telah mati. “Kami sengaja menampilkan pesan yang tidak kaku tapi tetap cerdas dan menggelitik. Kami ingin publik memahami bahwa ada perilaku yang harus dirubah. Tidak bisa hidup dengan model yang sama, yang tak peduli,” kata Ketua FKJ, Fredy Edi.

Ia melihat respon masyarakat sangat baik dan menganggap aksi yang mirip demo damai ini masih jarang di Jayapura. “Banyak yang memberi apresiasi, ucapan terima kasih tapi ada juga yang sempat mengatakan aksi kami menyebabkan kemacetan tapi menurut kami orang tersebut mungkin belum paham pentingnya peringatan-peringatan seperti ini,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *