Canda Gus Ali, ”Wong Saya Ini Masih Sering Latihan Bareng Persija”

BERI CONTOH: KH Agoes Ali Masyhuri dan KH Anwar Manshur saat menerima suntikan vaksin di kantor PW NU Jawa Timur, Surabaya, kemarin.

Teladan Vaksinasi dari Para Kiai dan Tokoh NU

Kesediaan para kiai dan tokoh NU di Jawa Timur (Jatim) divaksin seperti mengirim pesan bahwa vaksinasi aman dan merupakan bentuk ikhtiar wajib.

EDI SUSILO, Surabaya, Jawa Pos

”SEPERTI KH Anwar Manshur, beliau telah berusia 82 tahun. KH Anwar Iskandar juga sudah berusia 72 tahun. Ini bukti bahwa vaksin terbukti aman untuk tiyang (orang) sepuh,” kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jatim KH Marzuqi Mustamar.

Kemarin siang (23/2) para kiai tersebut baru saja menjalani vaksinasi Covid-19 di kantor PW NU Jatim di Surabaya. Marzuqi tengah menjelaskan manfaat dan amannya vaksin dalam jumpa pers.

”KH Agoes Ali Masyhuri itu juga sudah berusia….” Belum sempat Marzuqi meneruskan ucapannya, Gus Ali –sapaan KH Agoes Ali Masyhuri– yang berada di jumpa pers yang sama langsung menimpali. ”Saya masih 17 (tahun),” katanya disambut tawa semua yang ada di sekitarnya.

Pengasuh Ponpes Bumi Shalawat Sidoarjo yang memang dikenal humoris itu tambah membuat suasana pecah dengan guyonan lanjutannya. ”Wong saya ini masih sering latihan bareng Persija (Jakarta) dan PSM (Makassar), hehehe,” ujar wakil rais syuriah PW NU Jatim yang berusia 63 tahun dan memang seorang penggemar sepak bola tersebut, lantas tertawa.

Rais Syuriah PW NU Jatim KH Anwar Manshur menjadi yang pertama menerima vaksinasi. Kiai karismatik pengasuh utama Ponpes Lirboyo itu datang langsung dari Kediri untuk mengikuti vaksinasi. Marzuqi menjadi yang kedua disuntik vaksin. Prosesnya tidak sampai setengah menit. Ketika peserta dipanggil, dokter langsung menyuntikkan vaksin ke lengan kiri. Bekas suntikan kemudian diberi plester.

Sebelum divaksin, para kiai dan tokoh NU itu menjalani pemeriksaan awal. Mulai detak jantung, tensi darah, hingga gula di dalam tubuh. Setelah itu, mereka menuju ruang observasi dan baru dipanggil untuk menjalani vaksinasi. ”Tidak terasa sakit kok,” ucap Marzuqi.

Setelah disuntik, pengasuh Ponpes Sabilurrosyad, Malang, itu juga tidak merasakan perubahan apa-apa di dalam tubuhnya. Semua seperti semula. Bukti, katanya, bahwa vaksin dari pemerintah aman. Itu semua, menurut Marzuqi, terjadi lantaran vaksinator yang melakukan penyuntikan merupakan tenaga profesional. Mereka sudah memiliki kualifikasi dan pengalaman. Karena itu, masyarakat tidak perlu takut dan ragu untuk divaksin. ”Jadi, jangan terpengaruh dengan berita-berita yang menimbulkan fitnah,” tuturnya.

Masyarakat harus percaya. Terutama warga nahdliyin. Bahwa banyak orang NU yang menjadi nakes (tenaga kesehatan). Yang warga Muhammadiyah juga demikian. Bahwa banyak nakes yang bekerja menyuntikkan vaksin yang berasal dari kalangan Muhammadiyah. ”Juga nonmuslim. Semua harus percaya bahwa vaksin ini merupakan bagian dari ikhtiar zahir yang wajib dilakukan,” katanya.

Vaksinasi yang melibatkan kiai dan tokoh NU itu juga menjadi tonggak penting. Sebab, para kiai merupakan sosok yang sering berinteraksi dengan masyarakat, jamaah, dan santri. Diharapkan, setelah kekebalan terbentuk pasca vaksinasi kedua, mereka bisa lebih leluasa menemui santri dan jamaah.

Setelah divaksin kemarin, para kiai dan tokoh NU akan menjalani vaksinasi kedua. Yang berusia di bawah 60 tahun divaksin kedua setelah 14 hari. Untuk yang sepuh atau berusia di atas 60 tahun, vaksin kedua diberikan selang 21 hari dari penyuntikan pertama.

Selain tokoh senior NU, tokoh muda juga ikut berpartisipasi dalam vaksinasi kemarin. Salah satunya, pengasuh Ponpes Al Falah Ploso KH Abdurrohman Al Kautsar. Dia mengajak seluruh masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan vaksinasi. ”Tolong jangan mudah percaya dengan berita bohong,” tutur lelaki 36 tahun tersebut.

Gus Kautsar –sapaan akrabnya– menyebut, saat ini banyak berita simpang siur mengenai vaksinasi karena banyak orang yang asal ngomong meski tanpa keahlian. ”Kalau soal agama, ya tanya kepada ahlinya seperti kiai atau guru agama,” ujarnya.

Sama dengan vaksinasi ini, lanjutnya, seharusnya bertanya dan mencari informasi dari ahlinya. Yakni, dokter dan tenaga kesehatan.

Selain di PW NU, gerakan sosialisasi vaksin halal dan maslahah bakal dilakukan NU di pengurus cabang kabupaten dan kota di Jatim. ”Dalam program tersebut, PW NU sudah bekerja sama dengan Pemprov Jatim dan sudah disetujui,” jelas Sekretaris PW NU Jatim Prof Dr Akh Muzakki.

Gus Ali juga menggarisbawahi, lewat gerakan vaksinasi ini, kiai memberikan contoh langsung kepada masyarakat. Bahwa mereka mau dan siap divaksin, bahkan sebelum masyarakat secara luas ikut vaksinasi. ”Disuntik vaksin itu sama sekali tidak sakit. Wong, saya juga biasane nyuntik,” katanya, lalu kembali tertawa. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *