Dari Filipina dan Ambon

Irjen Pol Paulus Waterpauw ( FOTO: Elfira/Cepos)

Mengungkap Jaringan Penjualan Amunisi dan Senpi ke KKB

JAYAPURA-Pemasok senjata api ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terungkap. Mereka diantaranya yakni dua oknum Polisi dan empat warga. Enam orang tersebut ditangkap di Ambon.

 Terkait dengan hal tersebut, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Polda Papua Barat dan Polda Maluku untuk mengungkap jaringan penjualan amunisi dan senjata api oleh oknum anggota polisi ke KKB.

Dikatakan, jalur masuknya amunisi dan senjata api melalui negara Filipina dan Ambon. Kemudian amunisi dan senjata diselundupkan melalui Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, lalu ke sejumlah wilayah di Papua seperti Mimika dan Nabire.

Paulus Waterpauw menyebutkan aksi tersebut menyebabkan KKB tak pernah kehabisan stok amunisi dan senjata api. Akibatnya, KKB terus menebar teror di sejumlah kabupaten di Papua seperti Nduga, Intan Jaya dan Kabupaten Puncak.

 “Perbuatan oknum anggota yang menjual amunisi dan senjata api ke KKB tidak bisa ditolerir. Mereka mengorbankan nyawa rekan anggota dan masyarakat sipil demi kepentingan pribadi,” sesal Paulus Waterpauw.

 Lanjut Kapolda, pihaknya menggunakan teknologi yang canggih untuk mengungkap kasus penjualan amunisi dan senjata api di Papua.”Kami akan menindak tegas pihak yang terlibat dalam aksi ini. Dalam waktu dekat, kami akan mengungkap kasus yang sama,” bebernya.

Secara terpisah, Kapolres Nabire, AKBP. Kariawan Bagus menerangkan, agar senjata api tidak mengalir ke KKB yang ada di wilayah pegunungan seperti Puncak dan Intan Jaya, pihaknya sudah melakukan tindakan dengan melakukan sweeping di beberapa titik sejak Januari lalu.

Bahkan pihaknya sudah melakukan tindakan preventif serta penindakan represif. Dimana sudah ada tiga kasus yang ditangani terkait jual beli senjata dan amunisi.

“Yang berkembang saat ini terkait senjata api dari Ambon dan Bintuni, kita ikut pantau juga, untuk melakukan pengembangan sama-sama,” kata Kariawan Bagus saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Selasa (23/2).

Dikatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait senjata dari Bintuni, apakah ada indikasi aviliasinya akan didistribusikan melalui Nabire. Sebab, Nabire menjadi pintu masuk untuk  semua wilayah baik yang ke arah Waropen, Manokwari maupun menuju ke pegunungan.

Untuk itu, semua lini akan diperkuat pengawasannya mulai dari pintu masuk dari Manokwari  maupun dari Bintuni yang tepatnya di perbatasan Jarwo. Begitu juga di daerah Teluk Umar dan menuju ke Waropen serta menuju ke daerah pegunungan.

“Jalur penyelundupan senjata ke daerah pegunungan kebanyakan melalui jalur hutan dan jalan potong. Tentu kita perketat termasuk di Dogiyai, kita lakukan penyekatan karena masih wilayah hukum Polres Nabire,” jelasnya.

Kariawan mengaku mendapat informasi jika kelompok ini bermain dengan tambang tradisional. Dimana hasil tambang tersebut digunakan untuk membeli senjata dan amunisi. “Ada informasi  seperti itu tapi pendalamannya nanti kita akan lakukan dalam waktu dekat. Kita bisa kaji,” tambahnya.

Dalam pengawasan jual beli amunisi dan senjata, Polres Nabire menurut Kariawan selalu bersinergi dengan TNI. “Kami memiliki komitmen bahwa siapapun oknum yang terlibat dalam jual beli senjata api itu merupakan orang-orang yang harus ditindak,” pungkasnya. (fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *