Perawatan Venue PON Capai Angka 85 Miliar

Stadion Lukas Enembe yang merupakan Venue utama pergelaran PON 2021 Papua. Untuk perawatan venue PON menelan dana sebesar Rp 85 Milyar. (Foto :Erik / Cepos)

PON 2021 Papua

JAYAPURA – Pemerintah Provinsi Papua bersama Pemerintah Pusat benar-benar serius dalam mensukseskan PON XX 2021 Papua. Hal itu terbukti dengan hadirnya venue-venue megah untuk menopang suksesnya event olahraga empat tahunan tersebut.

Bahkan, hampir seluruh venue yang kini disiapkan, baik APBN, APBD Provinsi dan Kabupaten memiliki standardisasi internasional sesuai dengan standar induk olahraga masing-masing.

Khusus venue yang dibangun baru oleh APBN melalui dua amanat inpres, yakni venue Aquatic, Istora, Cricket, Hockey (indoor/oudoor), Arena Sepatu Roda, Panahan dan Arena Dayung.

Sementara untuk venue yang dibangun baru melalui APBD Provinsi terdiri dari venue utama Stadion Lukas Enembe, Menembak (indoor/outdoor), Baseball/Softball, GOR GIDI, Voli, Tenis, GOR Futsal dan Rugby (proses).

Selain itu, melalui APBD Provinsi juga membiayai beberapa venue yang bersifat renovasi seperti GOR Cenderawasih, GOR Trikora Uncen dan GOR Waringin (APBD Kota Jayapura melalui dana hibah Provinsi.

Tak hanya bangun baru, pemerintah Papua melalui Dinas PUPR Papua juga memiliki tanggungjawab dalam menyediakan venue temprary atau venue sementara, yakni Selam Perairan, Gantole, Layar dan Renang Perairan.

Sementara beberapa venue lainnya dibangun menggunakan APBD Kabupaten Jayapura, Mimika dan Merauke. Seluruhnya merupakan venue yang telah mendapatkan rekomendasi dari TD setiap cabang olahraga.

Tentu deretan venue-venue tersebut telah menghabiskan anggaran yang sangat fantastis. Meski sukses membangun, namun pemerintah Papua masih diperhadapkan dengan pekerjaan berat dalam pemeliharaan dan perawatan.

Untuk biaya perawatan dan pemeliharaan venue-venue PON Papua, baik yang dibangun melalui APBN, APBD Provinsi dan Kabupaten ditaksir mencapai angka Rp85 miliar untuk satu tahun.

Plt Kadisorda Papua, Alexander Kapisa mengatakan, bahwa taksiran angka tersebut sesuai dengan kajian studi di UGM serta vendor-vendor yang memang mengerjakan setiap aspek dalam setiap venue.

Kata Alex sapaan akrabnya, setidaknya ada 18 venue yang akan menjadi tanggungjawab dari Disorda mengenai pemeliharaan dan perawatan.

“Memang benar khusus untuk pemeliharan dan perawatan terhadap venue-venue yang telah dibangun, dari mana kami dapat angka-angka itu, ini semua kami dapat dari vendor yang memang mengerjakan setiap aspek dalam setiap venue. Makanya kedepan, vendor-vendor ini bisa menjadi mitra kami untuk kami libatkan dalam proses perawatan dan pemeliharaan setiap venue-venue,” ungkap Alex kepada Cenderawasih Pos, Rabu (17/2).

“Desain dari penganggaran kita sudah mengetahui berapa besar anggaran yang kita bisa butuhkan untuk sisi pemeliharaan dan perawatan,” sambungnya.

Alex menyebutkan, dari anggaran senilai 85 miliar nantinya akan digunajan untuk pembiayaan teknis terhadap semua objek yang ada di setiap venue untuk perawatan secara berkala dan SDM profesional yang akan digunakan.

“Pemeliharaan dan merawat venue berbeda seperti gedung-gedung biasanya. Karena venue membutuhkan maintenance yang cukup besar. Aspek kedua yang turut dalam sumbangsi besarnya biaya perawatan itu dari SDM, tentu kita membutuhkan SDM yang handal atau profesional karena beberapa objek-objek dari venue itu membutuhkan penanganan yang profesional yang memiliki sensitivitas yang cukup tinggi,” ujar Alex.

“Ketika kita membuat sesuatu yang baik tentu diikuti dengan perawatan dan pemeliharaan yang cukup tinggi. Contohnya macam kita punya mobil mercy tentu membutuhkan pembiayaan atau pemeliharaan yang cukup besar untuk merawatnya. Itu gambaran saja, jadi jangan kaget kenapa biayanya cukup besar, karena memang sudah begitu,” ucap Alex.

Alex membeberkan, dari sekian venue yang memerlukan biaya pemeliharaan dan perawatan paling besar ialah Stadion Lukas Enembe yang butuh Rp. 15 miliar pertahun, kemudian disusul venue Aquatic Rp8 miliar.

“Apa yang kita buat hari ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Papua kedepan, tentunya menjadi aset luar biasa. Karena standardisasinya yang mengikuti standar internasional, tentu diikuti dengan pola pemeliharaan dan perawatan yang cukup besar juga,” pungkasnya. (eri/gin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *