Para Tetangga Beli Mobil Baru, Masak Kami Tidak?

GAYA HIDUP: Ali Sutrisno menggunakan sepeda statis di depan rumahnya di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban (18/2).

Berebut Limpahan Rezeki di Desa Miliarder di Tuban, Provinsi Jawa Timur

Setelah ratusan miliar rupiah uang pembebasan lahan dibayarkan, setelah ratusan mobil baru dibeli warga, Desa Sumurgeneng di Tuban kini jadi ”gula” yang dikelilingi ”semut” dari berbagai penjuru. Mulai perbankan, properti, sampai otomotif.

SITI Nurul Hidayatin menunjuk mobil Toyota Innova Reborn yang terparkir di depan rumahnya. ”Itu sudah dua bulan tidak saya pakai. Mungkin nanti saya lepas saja akinya,” kata dia.

Sama sekali tak ada masalah dengan mobil yang belum genap setahun dimilikinya itu. ”Masalahnya” hanya Nurul, seperti banyak warga Desa Sumurgeneng, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, lainnya, punya banyak pilihan.

Di halaman rumahnya terparkir pula Toyota Rush, Honda HR-V, dan Mitsubishi Pickup L-300. Semuanya masih kinyis-kinyis. HR-V dibeli Desember lalu, Rush dan L-300 malah baru bulan lalu.

”Awal dulu beli mobil kecil, tapi kalau dinaiki orang banyak jungkat (terangkat roda depannya, Red). Langsung saya tukar Honda HR-V yang lebih besar,” kata ketua Fatayat NU Kecamatan Jenu itu.

Mau bagaimana lagi? Dia punya uang. Miliaran. Total Rp 18 miliar hasil pembebasan 2,5 hektare lahannya. Sejak Maret tahun lalu desa di Kecamatan Jenu itu dipenuhi miliarder dadakan. Buntut pembelian tanah mereka oleh PT. Pertamina untuk Grass Root Refinery (GRR) Tuban yang merupakan proyek strategis nasional.

Total tiga desa di Kecamatan Jenu yang sebagian wilayahnya masuk proyek itu. Tapi, Sumurgeneng yang paling luas terkena dan paling banyak pula warganya yang mendapat kucuran ganti rugi.

Pembayaran kompensasi dilakukan dalam tiga termin: Maret dan November 2020 serta Februari 2021. Maka puluhan rumah diperbaiki dan mobil-mobil baru yang semua dibeli secara tunai berdatangan. ”Sejak pembebasan tahun lalu hingga sekarang sudah ada 180 mobil baru yang masuk desa ini. Viralnya saja yang baru sepekan terakhir ini,” ujar Kepala Desa Sumurgeneng Giatno kepada Jawa Pos (Grup Cenderawasih Pos).

Luas lahan di Desa Wadung yang terkena proyek GRR sebenarnya tak beda terlalu jauh dengan desa tetangganya, Sumurgeneng. Tapi, konon warga setempat tak terlalu royal dalam membelanjakan uang.

Luasnya perhatian terhadap Sumurgeneng juga membuat penduduk Wadung jadi lebih tertutup. Tiga harian sejak Kamis (18/2) Jawa Pos dibantu Jawa Pos Radar Tuban menelusuri Sumurgeneng yang berjarak 19 kilometer dari pusat kota Tuban itu.

Mobil-mobil baru terus dibeli. Ada yang memang karena butuh, tapi ada juga yang karena: ”Tetangga membeli, masak saya tidak?”

”Bapak saya ngelihat para tetangga beli, masak kami juga tidak? Ya, sekadar punya saja. Mungkin kalau mau keluar bareng keluarga tidak perlu repot, akhirnya beli Honda HR-V,” ujar Tamam, salah seorang warga Sumurgeneng.

Bahkan, ada yang membeli mobil meski belum bisa menyetir. ”Bisanya baru manasi hehehe,” kata Matrawi yang mengantongi Rp 4 miliar dari pembebasan lahan dan membeli Toyota Rush serta Mitsubishi Expander sekaligus kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Perubahan-perubahan keseharian pun terjadi di sana-sini. Nurul, misalnya, kini merasa wajib sebulan sekali perawatan di salon. Kalau tidak sempat gowes, ada sepeda statis di rumah. Tain, warga lain, ke mana-mana kini tak lepas dari kacamata hitam dan sebuah motor Yamaha XRS keluaran terbaru.

Dia orang pertama se-Tuban yang punya motor itu. ”Sanak saudara sudah banyak yang beli mobil, kalau butuh pinjam saja. Kalau motor berbeda, tidak ada yang beli seperti saya,” kata Tain yang mengantongi Rp 9 miliar untuk 1,5 hektare lahannya kepada Jawa Pos.

Sudah tak ada pula pemandangan seperti di film pendek Tilik: rombongan warga yang bersesakan di bak truk untuk menjenguk saudara atau tetangga yang tengah dirawat di rumah sakit.

Menurut Giatno, dari sekitar 3,3 ribu warga Sumur geneng, 400-an yang tercatat menerima kompensasi. Kalau dipukul rata, per penerima mengantongi Rp 8–9 miliar. Tertinggi, ada yang menerima Rp 26 miliar, tapi tidak tercatat sebagai warga setempat.

”Gula” melimpah itu pun langsung mengundang para ”semut”. Sejak Rabu (17/2) tidak terhitung lagi mobil pelat luar kota yang silih berganti keluar masuk jalan desa yang biasanya lengang.

Orang-orang berseragam membopong map dan lusinan brosur untuk disebarkan ke warga. ”Dari pagi sampai sore tidak henti-hentinya sales itu datang ke kantor desa untuk meminta izin promosi. Saya saja sampai kelelahan,” papar Giatno dengan mata yang tampak merah dan raut muka lelah pada Jumat lalu (19/2).

Perusahaan besar di sektor perbankan dan properti dari Surabaya, Malang, bahkan Jogjakarta mengirim manajer dan sales terbaik mereka ke desa yang sebelumnya bahkan warga Tuban pun belum tentu semuanya tahu itu.

Jawa Pos juga sempat berpapasan dengan sales BMW serta Wuling. Hingga Jumat lalu mereka semua masih tampak jalan kaki keliling desa. Tidak sedikit warga yang akhirnya memilih menutup pintu rapat-rapat sejak pagi.

Mereka merasa lelah dan risi. ”Capek saya didatangi orang terus. Mau kerja dan istirahat tidak bisa,” ujar Mat Rais, salah seorang warga.

Toh, sudah ada ponsel canggih yang bisa menemani selama di rumah. Di tangan Nurul, misalnya, kini ada iPhone 12. Smartphone seri keluaran terbaru yang harganya di atas Rp 20 juta. ”Ini saya beli di Surabaya,” ujarnya sambil menunjukkan gawai barunya tersebut. (gal/yud/ds/c9/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *