Moment HPSN Penggiat Lingkungan Sampaikan 5 Poin

Para penggiat lingkungan di Kota Jayapura ketika melakukan street campaign memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Taman Imbi Jayapura, Sabtu (20/2). Pemerintah diberi masukan untuk menegakkan berbagai regulasi terkait sampah di Jayapura. (FOTO:Gamel Cepos)

JAYAPURA – Puluhan penggiat lingkungan di Kota Jayapura , Sabtu (20/2) menggelar aksi street campaign dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap 21 Februari. Hampir 100 papan edukasi yang dipajang untuk menjadi koreksi bagi masyarakat kota terkait kondisi persampahan di Jayapura. Street Campaign ini tidak hanya dilakukan oleh komunitas lingkungan tetapi juga melibatkan dinas kehutanan provinsi Papua.
Dari moment tersebut tercatat ada 5 poin yang disampaikan untuk dijadikan perhatian pemerintah. Pertama meminta pemerintah secara maksimal menegakkan Perda Nomor 15 tahun 2011 tentang penyelenggaraan kebersihan, kedua, mendorong pemerintah Kota Jayapura untuk lebih serius dalam penegakan Perwal nomor 5 tahun 2019 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik khususnya di kios, toko dan pasar tradisional yang ditindaklanjuti dengan instruksi wali kota nomor 1 tahun 2019 tentang penerapan penggunaan kantong belanja alternatif pengganti kantong plastik, ketiga bagi para pedagang yang tidak mematuhi regulasi di atas untuk diberi sanksi, keempat meminta bank – bank sampah di Jayapura lebih diaktifkan dan ikut mensosialisasikan terkait sampah yang memiliki nilai ekonomis dan kelima meminta masyarakat ikut berpartisipasi, bertanggungjawab terhadap sampah terlebih sampah yang dihasilkan oleh diri sendiri.
“Ini catatan dari evaluasi kami selama ini. Ada regulasi atau instrumen yang disahkan namun kami menganggap masih lemah alias belum sepenuhnya ditegakkan aturannya,” beber koordinator Rumah Bakau Jayapura, Muhammad Ikbal usai kegiatan. Tak hanya kepada pemerintah tetapi publik juga harus paham bahwa kondisi sampah tidak melulu ditangani oleh pemerintah dalam hal ini dinas lingkungan tetapi setiap orang memiliki tanggungjawab untuk itu.
Aksi Sabtu kemarin juga terlihat berbeda sebab ada tiga sosok manusia plastik menggunakan topeng Salvador Dali, sosok pelukis asal Spanyol yang suka mengkritisi. Salvador Dali kerap dianggap sebagai bentuk perlawanan untuk mengoreksi hal – hal yang dianggap kurang. “Kami akan terus bergerak dengan cara – cara kami, mengingatkan pemerintah dan publik tentang kondisi yang perlu diperbaiki. Ada banyak soal tekait lingkungan dan sampah dan kami minta pemerintah tegas untuk ini,” imbuh Ikbal. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *