Maskapai Penerbangan Diminta Tetap Terbang ke Puncak

Bupati Puncak Willem Wandik, SE., M.Si., saat menemui istri, anak dan keluarga tukang ojek yang jadi korban pembunuhan OTK, di Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak, Rabu (10/2) lalu. Bupati Willem Wandik meminta maskapai penerbangan tetap terbang ke Puncak. (FOTO : Istimewa)

JAYAPURA-Pasca penyerangan anggota KKB terhadap anggota TNI AU yang melakukan pengamanan di Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak, yang mengakibatkan tewasnya satu orang anggota KKB, Jumat (19/2) lalu, situasi di Ilaga ibukota Kabupaten Puncak, dilaporkan aman terkendali.
Hal ini diungkapkan Bupati Puncak, Willem Wandik, SE., M.Si., Minggu (21/2).
Bupati Willem Wandik menyebutkan, pasca kontak tembak yang mengakibatkan tewasnya satu orang dari kelompok penyerang terhadap Pos TNI di Bandara Aminggaru, situasi di Kabupaten Puncak khususnya di Ilaga, sudah kondusif.
Oleh sebab itu, Bupati Willem Wandik meminta maskapai penerbangan untuk tidak perlu takut dan tetap terbang ke wilayah Kabupaten Puncak.
“Kami mengimbau pihak maskapai penerbangan untuk tidak takut dan bimbang dalam melayani pelayanan penerbangan ke Kabupaten Puncak baik itu ke Ilaga, Beoga maupun Sinak. Semua aman, tidak boleh takut. Jangan dengar isu-isu yang ada,” pintanya.
Diakuinya, jalur transportasi pesawat terbang selama ini merupakan satu-satunya untuk kemajuan pembangunan di Kabupaten Puncak. Sebab selama ini, akses ke Kabupaten Puncak termasuk untuk pengiriman bahan kebutuhan pokok hanya bisa dilakukan melalui transportasi pesawat terbang.
“Penerbangan ini merupakan kunci untuk kemajuan daerah maunpun kepentingan masyarakat di Kabupaten Puncak. Contohnya apabila ada warga yang mengalami musibah atau insiden mendadak sehingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut, maka satu-satunya adalah pesawat bawa turun ke Timika,” tandasnya.
“Kalau penerbangan tidak masuk ke Puncak, masyarakat akan sulit mendapatkan barang kebutuhan pokok. Untuk itu saya harap, pesawat tetap masuk,” sambungnya.
Terkait dengan anggota KKB yang tewas tertembak saat melakukan penyerangan, Bupati Willem Wamdik menyebutkan pihak keluarga sudah menerima hal tersebut.
“Siapa pun yang menjadi kelompok TPN-OPM atau kelompok sipil bersenjata maka risiko yang dihadapi seperti itu. Oleh sebab itu orang tua, keluarga dan masyarakat setempat sudah menerima,” ujarnya.
Selama ini menurut Willem Wandik, aparat TNI-Polri yang bertugas di Kabupaten Puncak, tidak pernah mendahului membuat gejolak dengan kelompok sipil bersenjatan yang berkeliaran.
“Aparat TNI-Polri senantiasa menjalankan tugas negara di antaranya mengamankan serta melindungi masyarakat dan pemerintahan. Kerja sama dengan pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lainnya berjalan dengan baik,” jelasnya.
Mengenai gejolak yang terjadi di Kabupaten Puncak akhir-akhir ini, Bupati Willem Wandik mengaku tidak mengetahui apa motif kelompok kriminal bersenjata melakukan gangguan Kamtibmas.
Dirinya mengaku sangat sedih dan menyesalkan aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Sebab aksi yang mereka lakukan sangat mengganggu aktif pembangunan dan masyarakat. Apalagi kelompok tersebut juga merusak dan membakar aset-aset milik pemerintah yang sangat dibutuhkan masyarakat. Termasuk aset milik pihak ketiga yang sedang melaksanakan pekerjaan yang diprogram pemerintah di Kabupaten Puncak. “Kita bangun daerah tidak main-main. Kita diberi kepercayaan negara untuk bangun daerah kita. Ini yang harus dimengerti,” tambahnya.
Terkait dengan kondisi yang terjadi di Kabupaten Puncak akhir-akhir ini, Bupati Willem Wandik mengaku akan melakukan pertemuan dengan TNI-Polri, kepala suku, tokoh masyarakat, gereja, pemuda dan elemen lainnya. (nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *