Jalur Wisata Air Panas Jadi Pintu Masuk Baru Kurir Ganja

Warga Kampung Moso Distrik Muara Tami berjalan kaki menyisir pinggiran hutan yang menghubungkan langsung dengan akses wisata air panas, Minggu (21/2). Dengan dibukanya akses wisata air panas ini ternyata dimanfaatkan para kurir untuk memasukkan ganja ke Papua lewat jalur darat. (FOTO: Gamel/Cepos)

Bawa 13 Paket Ganja, Seorang Remaja Ditangkap

JAYAPURA-Danrem 172/PWY, Brigjen TNI, Isak Pangemanan tak menampik jika saat ini ada ancaman yang masih sering ditemukan di kawasan atau daerah perbatasan. Bukan menyangkut gangguan keamanan dari kelompok yang berseberangan dengan ideologi melainkan maraknya peredaran ganja yang masuk dari PNG ke Papua.
Jika selama ini akses jalan jalan tikus sudah banyak yang ditutup, ternyata upaya penyelundupan masih terus bermunculan. Satu yang terakhir adalah menjadikan akses lokasi wisata air panas sebagai pintu masuk bagi para kurir ganja.
Tempat yang sedang ramai dikunjungi orang ini selain didatangi oleh warga kota ternyata digunakan juga oleh para kurir ganja sebagai satu akses yang terbilang lebih aman. “Jalur wisata air panas ini kini dijadikan pintu masuk. Itu setelah jalan – jalan tikus ditutup dan terus diawasi sehingga para kurir ini berusaha mencari jalan lain,” kata Isak Pangemanan di sela – sela peresmian taman bermain dan pondok baca di Moso, Distrik Muara Tami, Minggu (21/1).
Meski tak menyebut sudah berapa kasus yang ditangani dari lokasi wisata air panas ini namun dari evaluasi yang dilakukan ternyata lokasi wisata ini menjadi pintu baru. “Masalahnya adalah mereka bisa mendapatkan uang dengan jumlah besar namun dengan pekerjaan yang juga tidak terlalu sulit. Padahal ini menjebak juga dimana jika tertangkap pasti berurusan dengan hukum,” sambungnya. Selain itu diakuinya masyarakat di Moso interaksinya masih terpengaruh dengan interaksi ke Papua New Guinea.
Bahkan terkait transaksi ganja yang lebih banyak melibatkan anak – anak muda yang tak memiliki pekerjaan sehingga mencari jalan pintas demi mendapatkan uang yang jumlahnya cukup besar namun dengan singkat.
Kondisi sosial masyarakat sendiri lanjut Isak di Moso 70 persen masyarakatnya tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga perlu ada upaya agar warga di Moso ini bisa lebih mengenal bangsa Indonesia. “Sebelum kami hadir juga mereka sudah berinteraksi dengan masyarakat PNG sebab ada hubungan kekerabatan dengan warga PNG. Namun untuk memutus mata rantai tadi kami coba secara terpadu berintegrasi dengan berbagai pihak, mulai kepolisian maupun pihak imigrasi dan banyak transaksi yang berhasil diungkap meski masih ada masyarakat yang terpengaruh,” beber Isak.
Lalu dijelaskan bahwa perbatasan sudah diperketat namun kini akses di Kampung Moso lewat permandian air panas yang menjadi satu pilihan. Hanya saja dikatakan tentu sulit jika langsung menghentikan sebab diyakini tidak mudah. “Kalau upaya penghentikan pasti kami lakukan, tapi pertanyaannya adalah sampai kapan? Upaya kurir ganja masuk ke Papua akan selalu ada dan modusnya juga aka berkembang,” imbuhnya.
Untuk itu, lanjut Isak perlu alternatif kehidupan yang lain. Sebab setelah dipelajari ternyata para kurir ini ikut dalam transaksi ganja ini hanya untuk mendapatkan sedikit uang.
Nah pelan – pelan pola itu dirubah dengan mengajarkan pekerjaan kerajinan yang tidak beresiko. “Kami sampaikan bahwa untuk hidup tidak harus dengan menjual ganja. Masih banyak upaya yang bisa dilakukan dan itu yang sedang kami coba. Upaya Satgas Pamtas RI PNG lanjut pria kelahiran Manado 6 Maret ini adalah dengan mengajarkan masyarakat dan tokoh pemuda untuk berkreasi,” sambungnya.
Bentuknya adalah membuat kerajinan tangan pot bunga serta membuat produk olahan makanan getuk goreng termasuk tanaman hybrida. Jenis kecil namun sudah bisa berbuah.
Secara terpisah, Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., menyampaikan bahwa soal peredaran ganja ini, sebagian masyarakat perbatasan sudah dimanja dengan penyelundupan lewat jalan – jalan tikus. Pemerintah sendiri telah bersinergi membangun kerja sama dengan TNI-Polri, bea cukai maupun BNN untuk mencari informasi.
“Kebanyakan mereka tak ada lapangan pekerjaan sehingga memilih menjadi kurir. Dari kehadiran satgas saya pikir bisa dicarikan solusi. Mereka menjadi kurir karena perlu makan dan pendapatan namun tentunya tidak harus melawan hukum dan kita juga tidak mau ganja ini akhirnya merusak generasi muda Papua,” tutupnya.
Sementara itu, seorang remaja dengan inisial MW (14) warga Yeti Arso Timur, Kabupatem Keerom ditangkap Polisi di Jalan Poros Enggros Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Sabtu (20/2).
MW tak berkutik saat ditangkap anggota Opsnal Subdit 3 Dit Resnarkoba Polda Papua. Tim menangkap pelaku usai mendapatkan laporan dari masyarakat bahwa akan ada transaksi narkoba jenis ganja di Jalan Poros Enggros Pasar Youtefa.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal mengatakan, setibanya di TKP anggota melakukan penyelidikan di sekitar TKP dan mencurgai salah seorang laki-laki yang diduga akan melakukan transaksi Narkotika jenis ganja.
“Saat dilakukan penangkapan, anggota mendapatkan narkotika jenis ganja sebanyak 13 bungkus plastik ukuran besar di dalam sebuah tas berwarna orange,” ungkap AM Kamal, Minggu (21/2).
Dikatakan Kamal, pelaku dan barang bukti kini telah diamankan di kantor Direktorat Resnarkoba Polda Papua guna proses lebih lanjut. Dengan barang bukti yakni satu tas warna orange dan 13 bungkus plastik bening ukuran besar yang berisi narkotika jenis ganja
“Penyidik Direktorat Resnarkoba Polda Papua sedang melakukan penyelidikan dan penyidikan. Kasus tersebut telah ditangani oleh Dit Resnarkoba Polda Papua,” kata Kamal.
Atas perbuatannya pelaku dapat dijerat dengan Pasal 111 ayat (1) UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 12 tahun penjara serta denda Rp 8 M. (ade/fia/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *