Kejati Tetapkan Dua Tersangka Beras Bulog di Nabire

Nikolaus Kondomo didampingi pejabat Kejati lainnya saat memberikan keterangan persnya, Jumat (19/2) ( foto: Elfira/Cepos)

JAYAPURA – Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Papua menetapkan dua orang tersangka dalam kasus pengadaan beras fiktif oleh Perum Bulog di Kabupaten Nabire pada tahun 2017 dan 2018 lalu. Dua tersangka tersebut berinisial RH selaku mantan Kepala Cabang Nabire tahun 2017-2018, sementara LA selaku Plh. kepala gudang tahun 2017

  Kepala Kejaksaan Tinggi Papua Nikolaus Kondomo mengatakan, akibat tindakan tersebut Bulog yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami kehilangan stok beras sebanyak 1.028 ton.

   “Kasus tersebut terjadi pada 2017 dan 2018 yang mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 10,811 miliar,” terangnya kepada wartawan, Jumat (19/2).

   Lanjutnya, sejauh ini lebih dari 20 orang diperiksa sebagai saksi dalam kasus pengadaan beras fiktif oleh Perum Bulog di Kabupaten Nabire. Dalam kasus ini RH berstatus Kansilog memerintahkan untuk melakukan pengadaan beras lewat jalur satker dan mitra.

  “Uangnya tidak diperuntukkan untuk pembelanjaan, melainkan dipergunakan untuk kepentingan lain,” kata Kondomo didampingi pejabat Kejati lainnya.

   Dijelaskan, RH yang memerintahkan LA untuk memanipulasi dokumen beras masuk gudang. Termasuk membuat kwitansi fiktif pembelian beras di petani. Hal ini dilakukan para tersangka berkali-kali Sehingga merugikan negara mencapai Rp 10,811 miliar. Dalam kasus ini, para tersangka dijerat dengan pasal 2 dan 3 UU tindak pidana korupsi.

    Selain itu, Kejaksaan Tinggi Papua juga sedang melakukan penyidikan terkait adanya indikasi tindak pidana kasus korupsi di kantor Pos Indonesia Cabang Biak Numfor pada tahun 2020.

   Dalam kasus dugaan korupsi di Kantor Pos Indonesia Cabang Biak Numfor tersebut, diduga ada indikasi yang mengakibatkan kerugian negara  hingga Rp 3,6 M. Dalam kasus ini, belum ada penetapan seorang tersangka, mengingat masih dilakukan pendalaman oleh penyidik. “Yang pasti dalam kasus ini sudah mengarah kepada terduga yakni Kepala Cabang,” bebernya.

   Adapun motif yang digunakan dalam kasus ini, yakni diduga untuk memperkaya diri sendiri. Dimana uang kas perusahaan Rp 3.6 m ditransfer ke rekening pribadi milik kepala cabang.

   Indikasi penyalahgunaan wewenang dimana mengeluarkan uang panjar yang tidak sesuai peruntukannya pada April-September 2020. Uang tersebut masuk ke rekening pribadi kepala cabang,” terangnya.

  Dari hasil penyidikan sementara uang tersebut dipakai untuk berjudi. Namun pihaknya masih akan melakukan pendalaman lagi. “Kasus ini sedang kami kembangkan, bakal ada penetapan tersangka dalam waktu dekat ini,” pungkasnya. (fia/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *