Pantang Tebang Pohon, Kadang Ngomong Sendiri Saat Cari Inspirasi

Dedi Darmawan (kiri) berbincang - bincang dgn Cenderawasih Pos di Pantai Holtekam terkait konsep cafe yang ramah lingkungan pada 14 Februari lalu. ( FOTO: Roonie for cepos)

Mengenal Dedi Darmawan, Kreator Cafe Ramah Lingkungan yang Terdampar di Jayapura (Bagian 2- Habis)

Dulu rambutnya gimbal tapi kini dicat kuning. Jenggotnya juga demikian. Sukanya pakai pakaian hitam – hitam dan “alergi” pakai celana panjang. Dedi Darmawan melanjutkan ceritanya.

Laporan : Abdel Gamel Naser

Tulisan edisi kedua ini  masih bercerita tentang perjalanan Dedi Darmawan yang penuh inspirasi dan semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Dari penampilannya telihat jelas ia menyukai kalimat “kebebasan” dan tidak mau terlalu kaku dalam hidup selama tidak merugikan orang lain. Tubuhnya penuh tato dan sukanya pakaian serba hitam namun rambut dan jenggotnya kini diwarnai kuning. Dari prinsip kebebasan ini juga yang akhirnya membawanya untuk mencari jawaban, untuk apa ia berdiri di bumi. Untuk apa ia hidup dan harus seperti apa.

Dedi menceritakan bahwa ia sempat putus asa dengan ketergantungan obat dan akhirnya ia diberi masukan dari salah satu wartawan Republika, Fuji untuk mencari jawaban tadi dengan berkeliling. Mencari tempat baru yang sama sekali tidak pernah ia singgahi. Ini juga sekaligus untuk mengobati ketergantungan obatnya tadi. Soal narkoba ditambahkan Dedi bahwa ia juga pernah menjual Nipam atau sejenis pil BK yang bisa mengurangi ansietas yang umumnya dikonsumsi untuk membantu tidur.

Kemudian dari pil kelas teri ini iapun mencoba yang nama nya Sabu – sabu hingga pil ekstasi. Dan diakui ketika itu efek nagih atau sakau sering ia rasakan. “Kadang efek nagih dan sakau itu ada, sempat bingung dan putus asa bagaimana bisa lepas dari pengaruh narkoba ini dan saya akhirnya memilih jalan keliling tempat – tempat yang belum saya kunjungi,” bebernya.  Itu dimulai dari Sumatera, Bali, Sulawesi hingga Papua dan semua ini tidak menggunakan pesawat. Kalau bisa jalan kaki maka ia akan lakoni dan itu puluhan kilometer. Sedangkan untuk ke Sulawesi dan Papua Dedi mengaku harus menggunakan kapal.

“Teman wartawan itu sampaikan untuk saya buatkan cerita perjalanan hidup menuju perubahan dan saya coba. Ini tanpa meminta duit tapi saya kerja apa yang ada. Saya sempat kerja di Medan, Palembang kemudian ke Bali dan sempat lama disana,”   kenangnya. Dari Bali ia melanjutkan perjalanan ke Lombok, Bima hiingga ke Bajo Makassar dan Kolaka Sulawesi Tenggara. Nah sejak di Bali Dedi sudah membangun cafe namun ia tinggal untuk melanjutkan perjalanan ke Kolaka. Di Kolaka ini ia sempat kaget karena menemukan sebuah kampung yang isinya komunitas under ground.

“Gua kaget cuy sebab disana dari bayi sampai nenek – nenek itu alirannya metal semua. Itu namanya Kampung Sakil, geleng – geleng gua,” ucapnya. Di Kolaka pada 2016 ini Dedi juga menggarap  cafe yang diberi nama Teras Bambu setelah itu ia mendirikan lagi cafe Mr Coffe House  sebelum melanjutkan perjalanan ke Papua dan menggarap cafe Comroft. Di Kolaka inilah Dedi mendapatkan 1 anak yang kini masuk dalam timnya. “Gua ajak saja, yang dulunya suka make (narkoba), gelandangan pokoknya anak jalanan. Gua ajak untuk mengenal dunia luar dan berubah. Soal makan belakangan yang penting mau berpetualang dulu,” ujarnya sambil berseloroh.

Terkait makan ini Dedi juga punya kebiasaan aneh, jika berkunjung ke cafenya disaat ia sedang makan maka siapapun dia terlebih seorang teman maka ia mewajibkan untuk harus ikut makan bersama. Jika jawabannya kenyang maka Dedi biasa menyuruh orang itu untuk pulang dulu. “Ya mau bagaimana, kalau pas kami makan dan ada teman lalu tidak ikut makan itu gua gak bisa nelan. Mending dia pulang dulu ketimbang gua gak bisa nelan,” ceritanya.  Lalu terkait empat anak yang dibawanya,  Dedi menyebut keempat anak ini tidak semua satu daerah, ada yang dari Manggarai dan beberapa daerah lainnya.

Nah selama dalam perjalanan untuk mencari tahu makna hidup ini, Dedi mengaku pernah merasakan sakau atau ketagihan. Ia bahkan pernah tidak tidur selama 6 hari karena efek penggunaan obat – obatan terlarang. “Gua ngakalinnya ketika pas pengen (pakai obat) gua milih jalan. Jaraknya mirip dari Arso ke Sentani, pokoknya jauh. Ini biar gua lupa,” sambungnya. Hingga akhirnya Dedi benar – benar lepas pada 2015 lalu atau setahun setelah ia menikah di tahun 2014.

Menariknya saat menikah ternyata ia masih memberi persyaratan kepada sang istri. “Ia gua inget waktu itu gua bilang, gua siap nikah tapi setelah itu gua tinggalin dulu 2 tahun, eh dianya (istri) setuju ya udah gua merantau dulu,” akunya sambil cekikikan. Sang istri ini juga rupanya tahan banting dan sejalan dengan pemikiran Dedi karena memiliki latar belakang Mahasiswa Pecinta Alam. “Jadi setelah gua benar – benar bersih barulah gua panggil istri gua untuk datang ke Kolaka ketika itu dan sampai sekarang,” kenangnya.

Lalu berkaitan dengan dunianya saat ini, Dedi mencoba  menyalurkan imajinasinya lewat karya  karya seni yang diwujudkan dalam bentuk cafe. Cafe yang digarap saat ini adalah Soetijah Rock di Arso VI. Konsepnya masih tetap menggunakan banyak limbah, baik kayu sabetan, limbah plastik, limbah laut, tali tambang hingga karung goni. Ia mengutarakan bahwa sejak dulu ia tidak tertarik dengan cafe yang konvensional yang dipenuhi dengan dinding dan minim kreativitas. Dedi mengaku banyak yang menawarkan untuk menangani pembangunan cafe namun banyak juga yang ditolak.

“Ya tidak sejalan dengan hati gua saja. Pertama saya pantang tebang pohon, kedua saya lebih menyukai bahan limbah dan tidak harus selalu tembok,” bebernya. Namun ia memiliki kebiasaan tersendiri dimana sebelum menggarap sebuah cafe dengan ornamen lingkungan Dedi biasa berbicara dan mengajak ngobrol objek yang akan digarap. Jika itu di lokasi pinggir laut atau hutan maka ia akan berbicara sendiri dengan laut ataupun hutan. Mendengar apa yang diinginkan lokasi tersebut. “Kadang istri gua ngatain, itu lihat orang gila ngomong sendiri. Ya ini sebenarnya hanya ingin melihat dan menangkap pesan alam itu seperti apa sebab kalau tidak sesuai nanti tidak menarik juga dan saya lebih suka memanfaatkan apa yang bisa digunakan tanpa harus melulu soal uang,” imbuhnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *