Mau Tahu Mantra Saya? Pleketek Pleketek Ho Ho Ho Ho

GAYA KHAS: Mbah Gimbal di tepi rumah yang diterjang longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Selasa (16/2).

Sisi Lain Pencarian dan Evakuasi Korban Longsor Nganjuk

Bukan klenik atau hal-hal mistis, Mbah Gimbal membantu mencari korban longsor Nganjuk lewat apa yang disebutnya ”tradisi leluhur yang harus dilestarikan.” Dia menyelipkan humor di sana-sini.

ANDHIKA ATTAR, Nganjuk, Jawa Pos

SEORANG pria sepuh dengan dandanan nyentrik duduk santai di teras musala. Kakinya bersila. Tangan kirinya dipenuhi seni rajah. Sambil memegang sebatang rokok keretek, dia berbincang santai dengan relawan Banser.

Yang paling mencuri perhatian adalah gaya rambutnya. Rambutnya panjang sampai pinggang. Tidak panjang tergerai seperti kebanyakan orang. Model rambut yang dipilihnya sesuai dengan julukannya: Mbah Gimbal.

”Sudah 35 tahun saya memeliharanya (rambut gimbal, Red),” ujar pria yang memiliki nama asli Paijo tersebut kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (17/2).

Gaya berbicaranya memiliki daya tarik tersendiri. Kumis dan jenggot panjangnya selalu bergerak-gerak saat dia bertutur. Terlebih, di setiap obrolannya, Mbah Gimbal selalu menimpali dengan candaan. Gurauan yang dia lemparkan juga selalu sukses membuat lawan bicara tertawa lepas. Bahkan sesekali terpingkal-pingkal.

Tapi, Mbah Gimbal hadir di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kemarin bukan hanya untuk menghibur orang. Dia merupakan sesepuh relawan yang berangkat ke Ngetos karena prihatin dengan bencana longsor yang telah menelan belasan korban jiwa tersebut. Dia berusaha membantu sebisanya. Tak ketinggalan, dia juga membawa beberapa bantuan logistik.

Keahliannya terbilang cukup berbeda. Dia sangat memercayai spiritualisme Jawa. Bisa dikatakan dia adalah paranormal atau semacamnya. Meski, dia tidak begitu suka dipanggil dengan istilah tersebut.

”Saya lebih suka dipanggil ’dukun cabul,’” seloroh pria kelahiran Surabaya tersebut. Jangan salah mengartikan terlebih dahulu. ’’Dukun cabul’’ adalah sebuah akronim dari duduk rukun, bercanda, sambil ngebul. Ya, semacam itulah sisi humornya.

Selasa lalu (16/2) Mbah Gimbal memulai ritualnya di tepi rumah yang hancur diterjang material longsor. Bau kemenyan langsung menyeruak. Sesajennya lengkap. Ada kembang tujuh rupa dan dupa. Tak ketinggalan, sebungkus rokok keretek dan segelas kopi hitam.

Dia lantas komat-kamit merapal mantra. Suaranya sangat pelan. Namun, tiba-tiba suaranya membesar. ”Mau tahu apa mantra yang saya ucapkan? Ingat ini baik-baik,” celetuknya. ”Pleketek pleketek ho ho ho ho. Pleketek pleketek ho ho ho ho. Itulah mantra agar hujan tidak turun dulu dan korban yang hilang dapat ditemukan,” jelas Mbah Gimbal sekenanya, lalu tertawa lepas.

Kebetulan, hanya berselang sepuluh menit, dua korban langsung ditemukan. Yang kemudian teridentifikasi sebagai Yatini, 41, dan Dimas Ayub, 5. Tidak hanya sampai di situ. Ada satu korban lagi yang ditemukan berselang kurang dari satu jam kemarin, yakni Muryanto, 55. Total, hingga berita ini selesai ditulis kemarin pukul 22.00, 13 korban meninggal dan 2 korban selamat berhasil dievakuasi serta 6 korban masih dicari.

Selasa lalu itu, sontak para relawan dan petugas yang melihat Mbah Gimbal mengadakan ritual tersebut terheran-heran. Antara percaya dan tidak percaya. ”Itu kebetulan saja. Itu semua tetap atas izin Yang di Atas,” tuturnya santai.

Dia mengaku sama sekali tidak ada niat buruk dengan apa yang dilakukannya tersebut. Ritual yang dilakukannya pun diyakini bukanlah hal yang klenik atau mistis. Menurut Mbah Gimbal, semua itu hanyalah sebuah tradisi leluhur yang patut dilestarikan. Seperti halnya dupa dan kembang tujuh rupa. Menurut dia, itu adalah perlambang semata. ”Pitu (tujuh) adalah pitulungan (pertolongan),” terang pria yang lebih suka berjalan tanpa alas kaki tersebut.

Sebab, dia meyakini bahwa segala pertolongan datang dari Yang Mahakuasa. Sebaliknya, longsor yang melanda tersebut terjadi tak lain akibat ulah manusia itu sendiri. Tidak mau menjaga alam. Menebang pohon secara sembarangan. ”Mari kita hidup berdampingan secara beriringan dengan alam. Jangan seenaknya sendiri,” ajaknya. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *