Sound Man yang Pernah Masuk Dalam Tim Jokowi Namun Sempat Kelaparan

Dedi Darmawan berfoto  di depan panggung cafenya  (Gamel Cepos)

Mengenal Dedi Darmawan, Kreator Cafe Ramah Lingkungan yang Terdampar di Jayapura (Bagian 1)

Nasib dan takdir seseorang siapa yang tahu,  niat ingin mensukseskan acara konser Band Noah di Jayapura pada Desember 2019, sosok Dedi Darmawan justru terdampar di Jayapura hingga kini. Ketimbang nganggur, iapun mendirikan cafe dengan modal “sampah”.

Laporan : Abdel Gamel Naser

Sebuah bangunan dari potong – potongan papan dan kayu berdiri  persis di ujung jalan di Jalan Umsini Arso VI Kabupaten Keerom. Bangunan ini membelakangi jalan dan menghadap matahari.  Jika dilihat sekilas memang sedikit unik karena pintu masuknya  berwarna pink dan ada kayu sabetan yang ditumpuk namun berpola. Jika melangkah masuk ke bagian dalamnya kita akan disajikan bentuk abstrak lainnya yang dikombinasikan dengan beberapa lampu teplok dan suasana perkebunan pinang.

Suasana semakin nyaman karena banyak pohon yang merambat dan sejumlah kayu – kayu kering yang dihias sedemikian rupa. Ujung dari bangunan ini ternyata berbentuk lancip dan dikonsep layaknya sebuah perahu. Menariknya di lokasi ini juga ada live musik dengan orang – orang yang berseliweran menggunakan atribut serba hitam. Tak hanya itu ada juga meja-meja kecil dengan atap langit. Bangunan di tengah kebun pinang ini ternyata sebuah cafe dan siapa sangka di tengah perkampungan warga ada cafe yang tak kalah keren dengan yang ada di Kota Jayapura.

Cenderawasih Pos sendiri sempat diundang pada Jumat (12/2) untuk menghadiri grand opening cafe tersebut. Nah dibalik menariknya cafe yang diberi nama Soetijah Rock ini ada sosok bernama Dedi Darmawan. Pria kelahiran Bandung 1982 inilah yang menjadi kreator cafe tersebut.  Namun pria yang akrab disapa Dedi Gimbal ini tidak  sendiri, ia memiliki empat anak angkat yang dijadikan karyawan. Bersama tim kecilnya inilah Dedi terus melanglang buana mendirikan cafe dari satu daerah ke daerah lain.

Soetijah Rock sendiri mungkin bisa dibilang baru menjadi tempat yang benar-benar bernuansa cafe mengingat di wilayah Keerom lebih banyak warung konvensional yang  menyanyikan makanan rumahan.  Dedi pun mengkisahkan perjalanannya hingga bisa sampai ke Jayapura, Papua. Diawali dengan perjalanan hidup yang kurang  menarik dampak dari lingkungan, Dedi yang juga berprofesi sebagai sound man ini mengaku pernah hidup dalam dunia narkoba. Zat terlarang yang bisa menyebabkan ketergantungan itu sudah dicicipi sejak sekolah dasar.

Ia juga tak tamat SD sehingga tak ada ijazah apapun yang biasa dibanggakan oleh orang lain pada umumnya. Meski demikian pria yang juga pernah terlibat  di beberapa stasiun Tv ini mengaku tak minder, ia bahagia dengan dunianya saat ini yang penuh cerita dan pengalaman. “Kalau ditanya lulusan mana ya gua bingung soalnya gak pernah selesai. Gua hanya sampai SD doang cuy,” ujarnya dengan dialeg Jakartanya yang masih kental.  Ia sendiri memutuskan untuk mengelilingi Indonesia setelah merasa ada pertanyaan yang harus dijawab.

Dedi menyebut dulunya ia bekerja sebagai sound man dan menjadi aktor dibalik suksesnya sebuah event. Ia menyiapkan event dari panggung ke panggung bahkan bertemu dengan banyak artis sehingga banyak kemudahan yang bisa ia diakses. Dari akses dan fasilitas yang melekat dengan pekerjaannya membuat narkoba juga gampang diperoleh. “Sejak SD gua sudah suka BK (Sedatin atau obat tidur, red) sebab saat usia masih kecil banget gua sudah misah dengan orang tua, gua tinggal dengan nenek,” ceritanya.

Dedi sendiri sering dilibatkan dalam pentas artis atau grup band, diantaranya seperti The Virgin, Iwan Fals dan yang terakhir adalah Band Noah di Jayapura. Dedi juga pernah terlibat dalam tim Jokowi jika melakukan kunjungan ke daerah.

Pria bertato ini dijadikan sosok penting yang menyiapkan sound sistem untuk RI 1   sebelum dimulainya diskusi atau sambutan. “Ia dulu dilibatkan disitu juga,” ucapnya.  Nah dari kedatangan grup Band Noah inilah awal dimana ia dan istri akhirnya tertahan di Jayapura. “Gua ketika itu datang dengan tim dan ternyata Jayapura mulai pandemi covid sehingga akses sedikit sulit untuk keluar. Gua akhirnya memilih untuk bertahan sambil nyari kerja,” imbuhnya. Disitulah momentum dimana Dedi dan timnya tertahan dan memilih untuk memulai sesuatu yang baru. Ia kemudian bergabung dalam proyek pembangunan Cafe Komroft di Pantai Hamadi.

Setelah cafe tersebut berdiri dan beroperasi, Dedi kemudian kembali membangun sebuah cafe di Arso yang menggunakan nama neneknya, Soetijah. Hidup di Jayapura dikatakan semua dimulai dari nol, bahkan ia bersama istri dan timnya pernah sama sekali tak memiliki uang dan harus menahan lapar. Namun untungnya ia menyebut ada saja orang yang berbaik hati yang mengajaknya untuk makan sehingga kendala demi kendala bisa diatasi. “Itu pernah cuy, gua pas gak pegang duit sama sekali dan tim gua juga. Kami harus menahan lapar saat itu tapi alhamdulillah semua bisa kami lewati sama- sama, gua bangga sama tim kecil ini,”  ceritanya. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *