Boleh Dicoba dengan Suhu Normal tapi Waspadai Iritasi pada Pencernaan 

BERI TIPS: Aristiyan Luthfi, dokter spesialis THT-KL di RS Pertamina Balikpapan. (FOTO DINA ANGELINA/KP )

Jangan Salah Kaprah Menelan Mentah-Mentah Terapi Uap yang Konon Membunuh Covid-19

Uap atau air yang berada dalam suhu panas memang benar bisa membuat virus mati total. Namun, bukan berarti bisa diterapkan apa adanya dan begitu saja. Jika terlalu panas, kenyataannya justru berbahaya. Bahkan bisa membuat kerusakan sel pada hidung dan saluran tenggorokan.

DINA ANGELINA, Balikpapan

RAMAI broadcast yang beredar tentang pencegahan Covid-19, kabarnya bahkan tidak perlu dilakukan dengan cara sulit. Melainkan cukup memanfaatkan uap panas. Berikut isi pesan yang berada dalam broadcast tersebut.

“Air panas yang Anda minum baik untuk tenggorokan Anda. Namun virus corona ini tersembunyi di balik sinus paranasal hidung Anda selama 3–4 hari. Air panas yang kami minum tidak sampai di sana. Setelah 4–5 hari, virus yang tersembunyi di balik sinus paranasal ini mencapai paru-paru Anda.”

“Kemudian Anda kesulitan bernapas. Itulah mengapa sangat penting menghirup uap air panas, yang mencapai bagian belakang sinus paranasal Anda. Anda harus membunuh virus di hidung dengan uap. Pada suhu 50 derajat Celsius, virus ini menjadi lumpuh.”

“Pada suhu 60 derajat Celsius virus ini menjadi sangat lemah sehingga sistem kekebalan manusia mana pun dapat melawannya. Pada suhu 70 derajat Celsius virus ini mati total. Inilah yang dilakukan steam.”

“Seluruh departemen kesehatan masyarakat mengetahui hal ini tetapi banyak yang ingin memanfaatkan pandemi ini. Sehingga mereka tidak membagikan informasi ini secara terbuka. Orang yang tinggal di rumah harus melakukan menghirup uap panas sekali sehari.”

“Jika Anda pergi ke pasar atau keluar rumah untuk berbelanja, menghirup uap panas dua kali sehari. Siapa pun yang bertemu dengan beberapa orang atau pergi ke kantor harus menghirup uap panas uap tiga kali sehari.”

“Ajakan seminggu beruap. Menurut dokter, Covid-19 bisa dibunuh dengan menghirup uap dari hidung dan mulut, menghilangkan virus corona. Jika semua orang memulai Kampanye Drive Uap selama seminggu, pandemi segera berakhir.”

“Jadi inilah sarannya: mulai prosesnya selama seminggu dari 9–16 Januari 2021, pagi dan sore, selama 5 menit saja, untuk menghirup uap. Jika semua mengadopsi praktik ini selama seminggu, Covid-19 yang mematikan akan terhapus.”

Untuk memastikan kebenaran informasi itu, maka perlu mengulasnya dari sisi medis. Dokter spesialis telinga hidung tenggorok bedah kepala leher (THT-KL) RS Pertamina Balikpapan (RSPB) Aristiyan Luthfi menuturkan, baris pertama broadcast tertulis pesan bahwa air panas yang Anda minum baik untuk tenggorokan Anda.

Padahal, penggunaan air panas juga sesungguhnya tidak boleh. Sebab, bisa menimbulkan luka atau iritasi dari mulut hingga saluran pencernaan. “Kalau untuk air hangat diperbolehkan, tapi untuk air panas tidak disarankan karena berbahaya,” bebernya.

Informasi dalam broadcast menyebut, Covid-19 bisa bersembunyi dalam sinus paranasal hingga akhirnya sampai paru-paru. Pria yang akrab disapa Aris itu menjelaskan, sinus paranasal berada di rongga dalam tulang tengkorak. Tepatnya berada di sekitar hidung.

“Kalau kita napas ada beberapa udara yang masuk rongga atau celah sinus,” sebutnya. Namun untuk penyebaran Covid-19, sejauh ini yang utama tetap melalui area nasofaring dan orofaring (hidung dan tenggorokan). Walau dia mengakui memang bisa saja udara masuk ke sinus paranasal.

Tetapi jalur utama masuknya virus tetap melalui nasofaring. “Makanya kalau dilakukan swab PCR (polymerase chain reaction) di area nasofaring dan orofaring, bukan sinus paranasal,” ujarnya. Dia menyebutkan, virus bisa saja tersembunyi di paranasal. Namun tingkat kemungkinan sangat sedikit atau kecil. Sebagian besar tetap nasofaring.

Alumnus spesialis THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta itu menjelaskan, sejauh ini hanya ada beberapa cara untuk membunuh virus. Mulai pemanasan 54 derajat selama 30 menit, alkohol 75 persen, H2O2, dan cuci tangan menggunakan sabun. Belum ada yang menyatakan bisa menggunakan uap panas.

“Apalagi uap di atas 50 derajat Celsius, ini sama seperti kita minum air panas. Uap justru bisa membuat iritasi pada area hidung,” tuturnya. Lebih lanjut, pemanfaatan uap hangat bisa saja dilakukan saat kondisi hidung sedang flu. Namun, dia menegaskan, bukan menggunakan uap panas yang dapat menimbulkan bahaya.

“Bisa membuat trauma dan luka bakar pada permukaan dalam hidung, jadi tidak disarankan. Kemudian belum ada penelitian yang menyarankan terapi uap,” kata pria 35 tahun tersebut.

Dia berpendapat, bukan berarti informasi selama ini hoaks sepenuhnya. Namun bagaimana pun Covid-19 merupakan penyakit baru dan masih perlu berbagai penelitian.

“Boleh terapi uap tapi selama dengan uap yang hangat, bukan uap panas sampai 100 derajat karena bahaya,” ucapnya. Alumnus S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta itu mengungkapkan, terapi uap yang masih bisa diterapkan seperti kebiasaan orang zaman dulu yang melakukan timung.

Itu pun dengan catatan menggunakan air hangat, bukan dengan air yang benar-benar mendidih. Dia mengibaratkan, bagaimana jika wajah diletakkan tepat di atas air mendidih dari panci. Itu saja membuat wajah merah dan tidak enak karena hawa panas tersebut.

“Apalagi kalau sampai masuk ke tubuh bisa luka bakar. Memasukkan uap 70 derajat ke dalam hidung tidak boleh dari sisi medis karena menyebabkan luka bakar,” tuturnya. Aris menegaskan, percuma menggunakan terapi uap panas untuk mematikan virus. Namun justru menimbulkan masalah lain.

Ancamannya tidak main-main seperti rusak permukaan dan anatomis hidung secara permanen, sampai menimbulkan penyakit lain. Bagaimana sel-sel hidung yang normal dan sehat mengalami kerusakan akibat luka bakar. Itu membuat paparan virus jadi lebih mudah masuk.

“Karena permukaan hidung di dalam memiliki sel-sel kekebalan. Kalau sel sudah rusak, penyakit lain malah mudah masuk,” ungkapnya. Selain itu, ancaman lain bisa terjadi perubahan epitel dalam hidung, mengganggu fungsi fisiologi hidung sebagai alat bernapas dan saluran yang mengaliri ke tenggorokan.

Kerusakan ini bisa membuat hidung tersumbat, napas tidak enak, dan tidak bisa mencium bau. Sehingga untuk pemanfaatan uap dan air panas tidak disarankan. Pria asli kelahiran Kota Minyak itu mengatakan, biasanya terapi yang dibolehkan hanya cuci hidung. Fungsinya membersihkan permukaan dan kotoran hidung.

Terapi ini bisa digunakan untuk pasien yang memiliki pilek karena alergi, hidung tersumbat, tidak bisa mencium bau, dan lainnya. Caranya mencuci hidung dengan menggunakan cairan isotonis atau NaCl 0,9 persen. Air steril dan dalam kondisi suhu yang normal, bukan hangat apalagi panas.

“Suhunya pun normal mengikuti suhu air, bukan panas. Intinya harus suhu yang terjaga. Kalau panas tidak baik untuk permukaan hidung,” imbuhnya. Terkait ajakan seminggu beruap seperti yang tertera dalam broadcast, menurutnya boleh saja dengan catatan uap suhu yang benar.

Itu pun tidak boleh dilakukan sering. Sekali lagi dia mengingatkan, titik berat yang diperhatikan pada air atau uap dengan suhu yang terjaga. “Jangan sampai masyarakat menelan informasi mentah-mentah, misalnya berkumur memakai air panas yang dapat membuat luka bakar pada hidung dan tenggorokan,” bebernya.

Dia mengakui sudah banyak video atau broadcast yang membahas tentang manfaat uap. Namun belum ada penelitian lebih lanjut tentang uap dan khasiat terapi tersebut. “Dokter pun belum menyarankan karena belum ada bukti ilmiah manfaat menggunakan uap air,” katanya.

Aris menambahkan, kini cara pencegahan yang bisa dilakukan masyarakat agar tidak terpapar Covid-19 hanya disiplin menjalankan protokol kesehatan. Kuncinya 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilisasi. (rom/k8/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *