Banyak Petani Gagal Panen, Harga Sayuran Langsung Naik

Pengunjung di Pasar Youtefa Abepura saat membeli sayur-sayuran yang didatangkan dari Koya, Rabu (17/2)kemarin. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

Mendengar Keluh Kesah Pedagang Sayuran  di Pasar Youtefa Abepura Pasca Banjir di Keerom

Pedagang sayuran  di pasar tradisional banyak mengeluh akibat harga sayuran mengalami kenaikan, karena banyak petani yang gagal panen akibat banjir. Lalu bagaimana cara mereka menyikapinya ?

Laporan : Priyadi_Jayapura

Kejadian banjir yang terjadi di Arso, Kabupaten Keerom dan Koya Timur, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, mengakibatkan harga komoditi pertanian seperti sayur-sayuran mengalami kenaikan yang luar biasa.

Biasanya pedagang sayur di pasar tradisional menjual sayur Rp 5000-6000 per ikat, baik itu sawi, kangkung maupun bayam, namun kini ketiga sayuran yang sangat dibutuhkan masyarakat harganya naik menjadi Rp 10.000 per ikat.

Naiknya harga sayuran tersebut tak lain akibat hujan deras, sehingga menyebabkan ladang petani sebagian besar di Arso dan Koya, maupun Kotaraja  terendam banjir, sehinggastok sayuran menipis dan harga naik.

Ditemui wartawan Cenderawasih Pos penjual sayur-sayuran dari Koya yang berjualan di Pasar Youtefa Abepura Anis mengatakan, harga sayur saat ini masih mahal akibat ladang yang ia garap terendam banjir. Jika masyarakat membeli sayur hargaper ikat sampai Rp 10.000 jangan marah atau tawar lagi, pasti pengunjung tahu karena ladang sayur banyak yang terdampak banjir.

“Rata-rata penjual sayur menaikkan harganya karena ladang petani baik di Arso maupun Koya, Otonom Kotaraja dan Abepura terdampak banjir. Jadi hasil pertanian mereka seperti sayur-sayuran banyak yang rusak dan ini mempengaruhi harga sayur yang di jual saat ini,’’katanya, Rabu (17/2)kemarin.

Diakui Anis , memang ada pembeli yang sudah tahu dan mengerti dalam membeli sayur mereka tidak menawar kadang juga ada yang masih menawar. Untuk itu, jika ada penjual sayur yang menjual sayur dengan harga dari Rp. 5.000 dinaikkan menjadi Rp  7.000 per ikat pasti ikatannya dikurangi. Beda dengan yang harga Rp 10.000 per ikat ini ikatannya besar.

Hal senada juga dikatakan Sila pedagang sayur di Pasar Youtefa Abepura, memang semenjak banjir sampai saat ini harga sayur-sayuran mengalami kenaikkan menjadi Rp 10.000 per ikat. Dulunya hanya Rp 5.000-6.000 per ikat, ada kenaikkan cukup tinggi karena hasil panen di ladang juga tidak banyak.

Dengan harga sayuran naik tentu banyak pedagang yang mengeluh. Pasalnya sayur jika sudah tidak laku dan lewat 1 hari maka akan layu, sehingga jika dijual tidak bisa laku akhirnya pedagang merugi.

Untuk itu, solusinya dalam berjualan sayur pedagang hanya ambil secukupnya saja, mana yang banyak dibeli pengunjung seperti kangkung ini yang paling banyak diambil daripada sayur bayam dan sawi, karena kalau sayur kangkung larinya bisa ke restoran, hotel, café, warung makan untuk cah kangkung dan biasanya dipadukan dengan masakan kuah papeda pasti satu paket ada kangkungnya.

Sementara itu, Edi salah satu petani sayur di Jalan Baru Otonom Kotaraja mengaku, memang tanaman sayur yang ia tanam jika terjadi hujan terus menerus menyebabkan tanaman sayur-sayuran mati akibat busuk karena tanah banyak mengandung air, apalagi di daerah ia menanam sayur daerahnya sering banjir jadi wajar kalau petani sayur seperti dirinya menaikkan harga sayur-sayuran yang ia jual di Pasar Youtefa.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *