Sejak Tinggal, Belum Pernah Merasakan Hal yang Aneh

Pak Weki yang telah tinggal di “rumah hantu” sejak tahun 1999 memberi penjelasan kepada wartawan Sabtu (13/2) lalu. ( FOTO: Elfira/Cepos)

Berkunjung ke “ Rumah Hantu” di Kawasan Angkasa

Sejak tahun 70-an hingga tahun 90-an beberapa rumah-rumah mewah nan besar di kawasan Angkasa Jayapura Utara disebut-sebut sebagai rumah hantu. Namun kini kesan melewati daerah tersebut tak lagi seram, Ya, karena telah ditempati sejak tahun 1999-2000-an. Cenderawasih Pos akhir pekan lalu berkunjung ke sana, apa kata penghuni di “rumah hantu” tersebut?

Laporan-Elfira

Memang banyak mitos yang berseliweran soal “rumah hantu” di Angkasa mulai hantu suster Belanda, orang tinggi besar, tiap malam selalu ada suara-suara yang menyeramkan.

Sebagian orang yang melewati jalan sebelum ke lembah sunyi diatas pukul 23.00 WIT ada yang merasakan sesuatu yang berbeda seperti bulu kuduk berdiri dan sebagainya.

Satu persatu kendaraan melintas di jalan Kompleks Lembah Sunyi RT.02/RW III. Kelurahan Angkasa Pura, Distrik Jayapura Utara pada Sabtu (13/2). Bunyi klakson, hingga suara kanalpot yang bising kerap terdengar di depan pekarangan rumah yang orang-orang menyebutnya sebagai Rumah Hantu.

Weki Genongga (43) si penjaga rumah yang mengetahui kedatangan tim Cenderawasih Pos langsung mempersilakan duduk di kursi besi yang ada di teras rumahnya, “Silahkan duduk” kata ayah 4 anak itu sembari mempersilahkan.

Sebelum melanjutkan percakapan lebih jauh, pria asal Tolikara menjelaskan bahwa selama ini orang salah sangka dengan Rumah Hantu yang ia tempati bersama isteri dan empat anaknya sejak tahun 1999 silam.

Hanya karena rumah tersebut pernah kosong bertahun-tahun dan dipenuhi rerumputan, sehingga orang-orang mengira rumah yang ia tempati itu adalah rumah hantu hingga familiar sampai saat ini.

“Dulu tempat ini memang kosong dipenuhi rerumputan tinggi dan menyeramkan, merupakan rumah zaman peninggalan belanda,” beber pria yang kesehariannya sebagai Honorer di Gedung Negara ini.

Sebelum Weki menempati rumah tersebut, Kaka Weki bernama Kipius terlebih dahulu menempatinya. Namun saat ini kakak Weki sudah tak berada di rumah tersebut, Weki tinggal bersama isteri dan empat anaknya serta dua keluarga lainnya yang sedang kos-kosan.

22 tahun sudah Weki menempati rumah yang ia jaga itu, selama itu pula Weki mengaku belum sekalipun mengalami atau merasakan hal yang aneh bahkan bertemu hantu seperti sebagian orang-orang ceritakan. Hanya saja cerita orang-orang terdahulu, Rumah Hantu adalah tempat yang rawan dan menyeramkan.“Dulu tempat ini rawan merupakan hutan gelap. Orang-orang takut melintas, kalau dari arah bawah mau ke angkasa. Mereka lari dan isirahat di Taman Cicak,” kenang Weki.

Agar rumah tersebut tidak terlihat angker dan menyeramkan seperti pemikiran sebagian orang, Weki membuat taman kecil serta pekarangan rumahnya di tananami pohon nangka, pepaya, sayuran serta pohon pinang.

Ia juga memasangkan bola lampu di depan rumahnya agar terlihat terang dan tidak menyeramkan. Bahkan, penghuni kos kerap memutar music.

Kendati rumah yang ia tempati saat ini merupakan miliknya orang cina jaman peninggalan belanda dulu. Namun ia tetap merawatnya, bahkan sebelum Melki yang merawatnya kaka Weki terlebih dahulu yang  merawatnya sejak tahun 1978 silam.

“Hingga saat ini masih ada hubungan komunikasi yang baik sama pemilik rumah, mereka ada di Jakarta ada di Singapore. Mereka juga pernah bertemu dan ngobrol sama saya,” kata Weki.

Memiliki luas 300 meter persegi, Weki mengaku belum memiliki niat untuk meninggalkan rumah yang ia jaga sejak puluhan tahun itu. “Saya akan meninggalkan tempat ini kecuali atas permintaan pak piter si pemilik rumah,” ungkapnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *