Imlekan sambil Dengar Tangisan Pertama Bayi di Hari Cermin

DEMI SESAMA:Dari kiri, dr I Ketut Ega Purnayasa Bandem, dr Syahjihan Amrullah, dr Vincent Anggriant, dan dr Anastasia Dewi Elita A. di ruang OK RSTKA saat bersandar di Mamuju, Sulbar.

Toleransi, Imlek, dan ”Keluarga Baru” Para Dokter Relawan Muda

Datang dari latar belakang etnis dan agama berbeda, keempat dokter ini mencecap indahnya toleransi serta berbagi dengan berada di antara para korban gempa.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Mamuju, Jawa Pos

SUASANA operatie kamer (OK) Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) begitu padat siang itu. Deretan pasien persalinan dan patah tulang sudah mengantre untuk dioperasi.

Empat dokter muda relawan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) tidak kalah sibuk membantu para dokter spesialis dalam tindakan operasi. Mereka adalah dr Syahjihan Amrullah, dr I Ketut Ega Purnayasa Bandem, dr Vincent Anggriant, dan dr Anastasia Dewi Elita A.

Hari itu, Jumat dua pekan lalu (5/2), adalah hari pertama kapal bersandar di Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Hari pertama pula kapal dijadikan tempat tindakan operasi oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Sulawesi Barat. Ruang OK RSTKA pun menjadi paling sibuk saat itu.

Empat dokter muda tersebut lantas saling berbagi tugas. Ada yang membantu operasi persalinan. Ada pula yang membantu operasi patah tulang. Sesekali mereka bergantian istirahat dan memberikan kesempatan kepada rekannya yang beragama Islam untuk beribadah.

Empat dokter relawan itu berasal dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama. Namun, kepedulian kepada sesama yang tengah mengalami kesulitan akibat guncangan gempa menyatukan mereka.

”Saya baru kali ini ikut menjadi relawan bencana,” kata Syahjihan. Total, tiga kali dia ikut menjadi relawan di RSTKA sejak 2019. Setelah lulus menjadi dokter umum, dia mencoba mencari banyak pengalaman dengan menjadi relawan untuk pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil.

”Saya pernah ikut jadi relawan di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Di beberapa daerah terpencil di sana, jadi relawan di RSTKA juga,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Pria 26 tahun itu sangat tertarik menjadi relawan karena dapat menolong banyak orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Selain itu, dia bisa sekaligus menerapkan ilmu yang didapat dari kampus.

”Sampai sekarang, hati saya masih tergerak menjadi relawan. Setelah beberapa kali ikut menjadi relawan di RSTKA, saya juga menjadi relawan dalam penanganan Covid-19 di RS Lapangan Indrapura (Surabaya),” ungkap dia.

Sebelumnya, Jihan mendapat tawaran menjadi relawan RSTKA untuk penanganan bencana Mamuju-Majene, Sulbar. Saat itu RSTKA memang membutuhkan cukup banyak relawan dokter umum untuk menjalankan program-program penanganan bencana.

Jihan pun mengajak Ega, rekan dokter yang juga relawan penanganan Covid-19 di RS Lapangan Kogabwilhan II (RSLK) Indrapura. Memiliki misi sosial yang sama, Ega tergerak untuk ikut menjadi relawan di Mamuju-Majene. ”Karena tujuannya baik, saya langsung izin di RS Indrapura untuk menjadi relawan menangani bencana Mamuju-Majene,” ucapnya.

Begitu juga Ega. Pria 27 tahun itu memberikan warna tersendiri di dalam kapal RSTKA. Kemampuan komunikasinya yang bagus menjadikannya sebagai dokter perayu. Dia bertugas menyisir tenda-tenda pengungsian dan memersuasi korban yang membutuhkan tindakan operasi untuk mau dibawa ke RSTKA. ”Ada banyak pengalaman yang tidak terlupakan selama menjadi relawan bencana Majene-Mamuju,” katanya.

Salah satunya, ditemukan banyak warga yang masih minim pengetahuan terhadap kesehatan. Selain itu, banyak warga yang masih percaya dengan pengobatan tradisional (dukun). ”Ada ibu yang baru melahirkan. Pas saya kunjungi untuk melihat pasiennya, ternyata bayinya mengalami dehidrasi karena dimandikan,” jelasnya.

Pria asal Bali itu merasa senang bisa terlibat dalam penanganan bencana gempa Mamuju-Majene. Apalagi dapat menolong banyak orang. ”Aku pengin bantu orang. Aku belum bisa menyumbangkan materi. Jadi, aku bantu tenaga,” kata alumnus Universitas Wijaya Kusuma (UWK) tersebut.

Selama menjadi relawan, dia bisa belajar banyak hal. Salah satunya, indahnya toleransi beragama. ”Saya orang Bali. Saya beragama Hindu. Teman-teman ada yang Buddhis, muslim, dan Katolik,” papar pria yang juga menjadi relawan di RSLK Indrapura tersebut.

Vincent Anggriant dan Anastasia Dewi Elita juga memilih merayakan Imlek di tengah para korban gempa Sulbar kemarin (12/2). Jika banyak keturunan Tionghoa yang menghabiskan waktu Imlek bersama keluarga, dua relawan dokter umum itu sibuk membantu operasi persalinan Caesar di OK RSTKA.

”Ini tadi habis ada dua operasi persalinan Caesar. Satu cewek, satu cowok, lahir di tanggal cermin (12/02/2021), dibolak-balik sama, Red),” kata Dewi dengan nada bahagia.

Dewi menuturkan, biasanya ada tradisi-tradisi Imlek yang dijalani bersama keluarga. ”Ini kali pertama Imlekan gak kumpul keluarga. Tapi, kan memang lagi Covid-19. Jadi, enggak boleh kumpul-kumpul juga,” ujar alumnus UWK tersebut.

Meski tidak dapat berkumpul bersama keluarga, Dewi tidak merasa kesepian. Sebab, di Mamuju-Majene dia bertemu dengan ”keluarga baru.”

”Saya memang udah kepingin jadi relawan bencana. Kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Imlek setiap tahun pasti masih ada,” ucap perempuan yang berdinas di UPT PMI Surabaya tersebut.

Vincent pun demikian. Dia merasa senang bisa merayakan Imlek sekaligus membantu masyarakat Mamuju tersenyum lagi. Ditambah, dia melewati Imlek dengan mendengar suara tangisan pertama bayi yang baru lahir pada hari spesial. ”Ini pengalaman pertama saya merayakan Imlek dengan masyarakat Mamuju-Majene yang sudah saya anggap seperti keluarga saya,” ujar pria asal Medan tersebut.

Menjadi relawan bencana bukan kali pertama bagi Vincent. Sebelumnya, dia beberapa kali ikut menjadi relawan bencana di Gunung Sinabung, Sumatera Utara. Namun, menjadi relawan bencana Mamuju-Majene adalah pengalaman yang paling berkesan.

”Saya menjadi relawan atas inisiatif sendiri. Saya mencari informasi langsung di Instagram RSTKA. Lalu, saya mendaftarkan diri,” jelas dia.

Vincent mendapatkan pengalaman paling berharga ketika membantu operasi di dalam kapal. Apalagi operasi besar yang membutuhkan waktu tiga jam. ”Ini juga menjadi kesempatan saya untuk belajar. Bisa mengoperasi dengan alat-alat sederhana,” ujarnya. (*/c14/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *