Sedih Jika Tak Ada Tokoh Agama yang Mendoakan,  Jenazah Tiba Langsung Dikubur

Suasana pemakaman jenazah Covid-19  tetap menggunakan APD lengkap di TPU Muslim Buper Waena, baru-baru ini. ( FOTO: Hasan  For Cepos)

Mendengar Cerita Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 di TPU Muslim Buper Waena

Adanya pandemi Covid-19 membuat tatanan kehidupan manusia sangat berubah, termasuk orang yang meninggal dunia akibat Covid-19, saat dimakamkan pun harus sesuai aturan Prokes. Lalu bagaimana cerita petugas pemakaman jenazah Covid-19 di TPU Muslim Buper Waena?

Laporan: Priyadi

Semenjak bulan Maret 2020 masyarakat Kota Jayapura sudah dikagetkan dengan “penyakit baru” yang berasal dari Tiongkok. Tak lama berselang sudah ada warga yang meninggal akibat terpapar Covid-19 baik dari Timika, Merauke, dan Jayapura.

Setelah ada yang terppar dan meninggal  merupah semua tatanan kehidupan saat itu sudah berubah drastis karena masyarakat diwajibkan menerapkan protokol kesehatan dan parahnya lagi jika ada masyarakat yang meninggal karena terpapar Covid-19, maka dalam  pemulasaran jenazah maupun pemakaman juga harus dilakukan secara ketat untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Ya,  termasuk  kebanyakan jenazah Covid-19 tidak bisa di taruh di rumah duka sehingga untuk mendoakan jenazah tidak bisa maksimal, termasuk saat dimakamkan yang datang dibatasi parahnya lagi yang mendoakan saat diturunkan di lihat lahat juga jarang, karena biasanya harus menggunakan APD lengkap karena petugas pemakaman di sana gunakan APD lengkap jika pemuka agama yang mendoakan di atas makam tidak menggunakan APD lengkap tentu mereka juga pasti takut-takut juga.

Oleh karena itu, saat ini jasa dari petugas pemakaman di TPU Muslim Buper Waena dalam memakamkan jenazah Covid-19 sangat luar biasa, karena sebagian lahannya di sana dijadikan sebagai tempat pemakaman jenazah Covid-19 Kota Jayapura.

Koordinator pemakaman di TPU Muslim Buper Waena Hasan menceritakan, adanya wabah Covid-19 Kota Jayapura sejak bulan Maret sampai saat sudah ada lebih 141 orang pasien meninggal dunia terpapar Covid-19 yang dimakamkan di TPU Muslim Buper Waena, sebagai petugas di sana, tentu Hasan bersama teman-temannya masih ada rasa takut karena virus Corona ini bisa menular jika tidak hati-hati dan waspada kalau tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

  Ia mengaku selama ini dalam memakamkan jenazah Covid-19 tetap masih-was-was karena ia memiliki keluarga di rumah. Setiap kali memakamkan pasien Covid-19 yang meninggal dunia tetap memakai Alat Pelindung Diri (APD) Lengkap supaya tidak terkena Covid-19.

Hasan  menjelaskan, pasien Covid-19 yang dimakamkan memang beda dengan orang yang meninggal karena tidak Covid-19, orang yang meninggal dunia karena Covid-19 diperlakukan sama apakah kaya miskin, punya jabatan atau tidak karena dalam memakamkannya petinya sama, tidak bisa diantar banyak orang bahkan yang mendoakan di pemakaman juga jarang karena harus dimakamkan dengan standar protokol kesehatan.

“Jenazah  harus ditaruh di peti jenazah yang tertutup rapat, keluarga yang datang sedikit, bahkan yang lebih parah terkadang tidak ada pemuka agama yang mendoakan jenazah langsung di masukan di liang lahat. Saya sangat sedih ketika dimasukan peti jenazah di liang lahat tidak ada yang mendoakan apakah itu dari agama islam, Kristen dan lainnya, saya juga tidak tahu namanya jadi kalau saya agama Islam saya bantu bacakan surat alfatihah saja, kalau ia Nasrani palingan teman saya yang membantu mendoakan, ini yang saya katakan sangat kasihan jika meninggal secara terkena Covid-19, bahkan dari pihak keluarga juga sedikit yang datang,’’katanya, Sabtu (13/2)lalu.

Kata Hasan, perbedaan lainnya jika meninggal secara Covid-19 juga merepotkan petugas pemakaman karena jika sudah meninggal dunia jenazah mau tidak mau harus dimakamkan saat itu juga, pernah ia memakamkan jenazah pasien Covid-19 pukul 01.00 dini hari padahal di Kota Jayapura tidak pernah ia memakamkan jenazah pada malam hari, karena tidak ada fasilitas lampu dan lainnya dengan kondisi di Buper seperti itu tentu masyarakat bisa menilainya, namun karena tugas dan tanggung jawab ia tetap menjalankannya.

Hal lainnya, Hasan berharap untuk jenazah yang meninggal karena Covid-19 diharapkan bisa dimakamkan di tempat lain supaya di TPU Muslim Buper Waena khusus bagi umat muslim saja, karena jika dicampur seperti ini tentu sudah tidak bisa dikatakan lagi TPU Muslim Buper Waena.

“Saya harap pemerintah bisa membeli tanah di dekat Buper Waena karena di sana juga masih ada tanah banyak dan ini bisa digunakan khusus untuk pemakaman Covid-19 Kota Jayapura. Karena dari 141 jenazah Covid-19 yang sudah dimakamkan di sana ada dari agama islam, kristen/ katolik dan hindu, sehingga lebih nyaman dan tertib lagi kalau TPU Muslim Buper Waena hanya untuk umat muslim saja, jangan dijadikan tempat pemakaman umum semua agama,’’jelasnya.

Hasan juga memberikan ucapan terimakasih kepada pemerintah dengan  risiko kerja seperti ini dalam memakamkan jenazah Covid-19 ia bersama teman tetap diperhitungkan resikonya dengan diberikan insentif walaupun tidak seberapa namun ini tetap disyukuri.

Hasan mengingatkan kepada masyarakat bahwa Covid-19 ini memang benar adanya, ia pun juga takut jika terus memakamkan pasien Covid-19 seperti ini, karena ia melihat sangatlah sedih dari sisi pemakaman umum sudah beda, tidak ada yang datang melihat seperti keluarga, saudara, dan lainnya, untuk pembaca doa juga tidak ada sehingga ia meminta kepada masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan jangan sampai meninggal dunia akibat Covid-19 kalau ini terjadi kasihan yang meninggal walaupun sekaya apapun, setinggi jabatan dan pangkatnya kalau sudah meninggal karena Covid-19 sangat disayangkan meninggalnya tidak bisa didoakan orang banyak, yang mengantar banyak, jadi hargai kesehatan anda selagi hidup ikuti aturan pemerintah dan jangan keras kepala, kasihan keluarga yang ditinggalkan.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *