Perkumpulan Tionghoa pun Gelar Haul Gus Dur

Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim menunjukan Sin Ci KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Klenteng Boen Hian Tong kawasan Pecinan Semarang--FOTO : MUHAMAD ALI/JAWAPOS

Harmoni di Kawasan-Kawasan Pecinan

Di kawasan Gang Pinggir, kawasan pecinan Semarang, Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong atau Rasa Dharma menyimpan sinci Gus Dur, presiden keempat RI.

BENTUKNYA berbeda dengan sinci yang lain. Sinci punya Gus Dur terlihat lebih besar. Berwarna lebih hitam. Di bagian atasnya terdapat ukiran Masjid Demak.

Aksen Masjid Demak itu usul langsung dari Ahmad Mustofa Bisri atau karib dikenal sebagai Gus Mus. Mulanya pengurus akan mengukir kubah masjid di atas sinci Gus Dur. Setelah replikanya dibawa ke istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, beliau menyarankan untuk menemui Gus Mus. ”Gus Mus yang lebih tahu,” ujar Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) Harjanto Halim menirukan ucapan Sinta kala itu.

Replika sinci tersebut lantas dibawa ke Gus Mus. Lalu, ada yang harus diubah. Ukiran kubah masjid yang biasa diganti dengan kubah Masjid Agung Demak yang memiliki bentuk susun tiga. Gus Dur pasti suka yang lebih lokal, begitu menurut Gus Mus. Saran itu pun dituruti pengurus Boen Hian Tong.

Sinci Gus Dur tersebut merupakan wujud penghormatan kalangan Tionghoa. Menurut Harjanto, Gus Dur merupakan tokoh yang melindungi minoritas. Ketika menjadi presiden, Gus Dur juga yang menerbitkan Keppres Nomor 6 Tahun 2020 yang mematahkan Instruksi Presiden 14/1967 yang mengekang kebebasan etnis Tionghoa. Menurut Harjanto, Gus Dur pernah berujar memiliki keturunan Tionghoa dengan marga Tan.

Pria yang merupakan pengurus Boen Hian Tong itu mengatakan, perkumpulannya juga kerap menggelar kegiatan kebudayaan, diskusi, hingga haul Gus Dur. Mereka menyediakan aula untuk berkumpul para anggota Banser dan Gusdurian mengenang tokoh pluralisme Indonesia itu.

Harjanto lantas menunjukkan video acara haul Gus Dur yang dihelat sebelum pandemi Covid-19 kepada Jawa Pos. Terlihat beberapa orang berkumpul mengenakan sarung dan peci. Khas pesantren. Harjanto dan pengurus Boen Hian Tong tampak akrab berbaur.

Boen Hian Tong memang sudah lama membuka diri antara etnis Tionghoa dan Jawa yang tinggal di Semarang. Dikutip dari buku Pecinan Semarang, dari Boen Hian Tong sampai Kopi Semawis, pendiri hingga pengurusnya merupakan Jawa Tionghoa. Hingga kini pun tetap dipertahankan.

Ketika Jawa Pos berkunjung ke gedung Boen Hian Tong, terlihat beberapa pegawai muslim. Itu terlihat dari kerudung yang dipakai. Perkumpulan yang didirikan pada 9 Februari 1876 tersebut memang tak membatasi ekspresi keagamaan anggotanya. Harjanto menceritakan, Boen Hian Tong juga rutin mengadakan peringatan tragedi Mei 1998. Sudah tiga tahun berjalan. ”Jangan sampai peristiwa itu dilupakan,” tuturnya.

Dalam peringatan itu dibuatkan rujak pare. Sayuran yang rasanya pahit tersebut menjadi simbol untuk mengingatkan kepahitan masa itu. ”Dikasih bunga kecombrang yang merupakan simbol perempuan Tionghoa dan gula jawa sebagai perempuan Jawa. Itu semua diulek,” ungkapnya.

Memadukan simbol Tionghoa dan Jawa memiliki arti. Menurut Harjanto, teror 1998 tidak hanya terjadi pada etnis Tionghoa. Pribumi juga mengalami. CEO PT Marimas Putra Kencana tersebut mengenang, kala itu pegawainya yang perempuan Jawa memilih tinggal di pabrik daripada pulang. Sebab, diisukan ada pemerkosaan. ”Meski yang diisukan diperkosa itu perempuan Tionghoa, ternyata yang takut orang pribumi juga,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, pengurus Boen Hian Tong lainnya, Oei Hui Ling atau Indriani, menceritakan, adanya sinci Gus Dur membuat banyak penyesuaian. Misalnya, ketika ada sesaji untuk para leluhur di altar tempat menyimpan sinci, tidak ada babi. ”Kami gunakan kambing,” ujarnya. Ada juga mendoan dan kopi pahit, penganan yang katanya disukai Gus Dur.

* * *

Di kawasan pecinan di sekitar Kota Lama Semarang, terekam potret hidup harmonis antara etnis Tionghoa dan pribumi. Di Pasar Gang Baru, misalnya, pagi itu (2/2) kesibukan terlihat saat Jawa Pos berkunjung. Di gang tersebut sayur-mayur, daging, hingga baju diperdagangkan. Yang berbeda dengan pasar basah lain, di situ dengan mudah ditemukan makanan untuk keperluan ritual Tionghoa. Sebut saja kue keranjang untuk keperluan perayaan Imlek.

Pedagang dan pembelinya terdiri atas etnis Tionghoa dan Jawa. Dialek Tionghoa beradu dengan medoknya pedagang Jawa dalam merayu pembeli untuk melihat dagangannya. Kios-kios itu diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti kios milik Sia Siok Tjien atau Endang Endrayani.

Perempuan berdarah Tionghoa tersebut mendapatkan kios dari ayahnya. Kata Endang, dirinya merupakan generasi ketiga yang mewarisi kios itu. Saat menjelang Imlek, dia menjual baju congsam (cheongsam). ”Di belakang ada toko sembako,” ucapnya di sela-sela melayani pembeli.

Biasanya pasar itu ramai menjelang Imlek. Apalagi kalau ada pasar malam. Penuh pengunjung. Datang ke pasar malam di Pasar Gang Baru juga bisa mendatangkan jodoh. ”Yang datang anak muda Tionghoa. Kalau pas senggolan terus diajak kenalan, nanti diajak ke rumah saat Imlek,” cerita Endang.

Tokoh masyarakat di Semarang berusaha untuk selalu merekatkan kerukunan yang sudah terjalin. Masih di kawasan pecinan, muncul Kopi Semawis. Itu bukan jenis kopi, melainkan perkumpulan. Semawis sendiri merupakan bahasa Jawa Semarang. Namun kini menjadi akronim dari Semarang untuk Pariwisata.

Harjanto Halim menyatakan, awalnya komunitas itu pada 2004 menggagas Pasar Imlek Semawis. Semula hanya untuk menyediakan kebutuhan sembahyang saat Imlek. Lambat laun pasar tersebut juga didatangi mereka yang bukan orang Tionghoa. ”Ada yang foto di depan kelenteng yang sudah berhias lampion. Ada yang menyimak wayang potehi. Ramai sekali,” ungkapnya.

Melihat respons positif itu, acara kemudian dibuat makin semarak. Bahkan, ada pentas-pentas bernuansa Tionghoa. ”Kenapa acara ini dilaksanakan di jalan? Agar merasa semua sama. Kalau di kelenteng nanti ada yang sungkan untuk masuk,” terangnya.

Menurut Harjanto, potret keberagaman dan toleransi itu harus terus dipupuk. Sebab, nanti secara alami akan lahir akulturasi kebudayaan itu sendiri. ”Etnis dan agama ini kan hanya simbol. Kita sama-sama Indonesia,” tuturnya.

Gunadi Gunawan, seorang warga yang tinggal di kawasan pecinan, menjelaskan, pergaulan di Semarang begitu cair. Masyarakat terbiasa hidup berdampingan. Bahkan, ketika terjadi gelombang isu SARA di Jakarta atau kota lain, Semarang cenderung tenang. ”Dulu waktu kerusuhan 1998 tidak begitu bergejolak,” ungkapnya.

Lurah Kembangsari Erniati juga terbiasa berbaur dengan warga. Kebetulan kelurahannya menaungi kawasan pecinan. Erniati yang berjilbab tak lantas membuatnya berbeda. (lyn/c9/fal/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *