Difasilitasi Gratis, Warga Masih Enggan Rapid Antigen

Rapid Antigen gratis yang dilakukan di Terminal Hilux, jalan Pemuda Merauke, belakang  SMPN 2 Merauke, Jumat (12/2) ( FOTO: Sulo/cepos)

MERAUKE- Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Panitia HUT Merauke ke-119 menggelar rapid antigen secara gratis di 2 titik. Pertama di Pasar Wamanggu dan di Terminal Hilux, Pasar Mopah Baru, Jumat (12/2). Hanya saja, rapid antigen secara gratis ini tidak disambut secara antusias oleh masyarakat dengan berbagai alasan.
Bahkan ada yang menghindar karena takut dikarantina ketika hasilnya positif. Ketua Himpunan Pasar Wamanggu Merauke H. Al Syahbana, SE, MM, mengungkapkan bahwa minimnya pedagang Pasar Wamanggu Merauke yang melakukan rapid antigen tersebut karena takut dikarantina ketika hasil rapid antigen positif.
Sebab, ketika mereka dikarantina tidak ada yang harus mencarikan nafkah untuk keluarga mereka. “Dengan kondisi ekonomi di tengah Covid-19 ditambah daya beli masyarakat yang menurun, ketika mereka ikut rapid antigen dan dinyatakan positif akan melemahkan mereka. Karena mereka tidak akan berusaha selama masih dalam masa karantina dan belum negatif ,’’ teragnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas kesehatan Kabupaten Merauke Titik Kartiningsih, SKM, M.Si, mengungkapkan, bahwa rapid antigen yang dilakukan ini sesungguhnya untuk mengetahui secara dini status seseorang terpapar atau tidak secara cepat.
“Ini untuk memperbanyak tracing sesuai dengan anjuran Bapak Presiden sehingga panitia HUT Merauke 119 memberikan kemudahan kepada masyarakat melalui rapid antigen untuk bisa mengetahui terpapar atau tidak Covid-19,’’ katanya.
Menurut Titik Kartiningsih, jika dalam pemeriksaan tersebut ada yang positif akan ditindalanjuti ke RSUD dengan pemeriksaan PCR. Dikatakan, panitia memilih pasar untuk pemeriksaan antigen tersebut karena pasar merupakan tempat pertemuan banyak orang dan tempat kerumuman.
“Faktor tertular sangat tinggi. Kadang-kadang juga orang di pasar tidak pakai masker,’’ terangnya.
Soal banyak warga yang menghindar, Titik Kartiningsih menilai bahwa masyarakat belum siap kalau yang bersangkutan dikatakan terpapar Covid-19. “Untuk itu, kita selalu memberikan edukasi. Edukasi ini bukan tugas dari kesehatan semata, tapi teman-teman pers memiliki peran utama dalam meluaskan informasi kepada masyarakat bagaimaan seseorang itu sedini mungkin mengetahui status kesehatannya.” Jelas Titik yang mengaku dalam kegiatan ini sebanyak 300 alat rapid antigen disiapkan. (ulo/tri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *