Jaga Keluarga dari Ancaman Covid, Wujud  dari Kasih Sayang

Gerhard Ebenheazer. ( FOTO: GRATI/CEPOS )

Makna Hari Kasih Sayang Bagi Anak Sekolah di Tengah Pandemi Covid 19

Valentine’s Day diperingati pada 14 Februari setiap tahunnya. Namun, tahun ini, nampaknya sedikit berbeda, sebab diperingati di tengah pandemi Covid 19. Lantas bagaimana muda-mudi memaknai kasih sayang di tengah pandemi Covid 19? Berikut laporan Cenderawasih Pos.

Laporan: Gratianus Silas

“Sejak pandemi ini, orang tua mulai ketat menasehati untuk tidak keluyuran, dan selalu terapkan protokol kesehatan. Saya sendiri memahami, karena itu bentuk dari rasa sayang orang tua kepada saya. Makanya saya dengar dan lakukan yang orang tua katakan karena saya juga tidak ingin orang tua tertular Covid 19, apalagi di usia mereka yang memang rentan terhadap penularan,” ungkap Glenn Suripatty, seorang siswa kelas XII SMKN 3 Jayapura, yang berbagi kisah perihal makna kasih sayang di tengah pandemi Covid 19.

Sepenggal kisah Glenn menambah warna dari makna kasih sayang, apalagi dalam kaitannya dengan Hari Kasih Sayang, di mana kasih sayang tak melulu soal pasangan, cokelat, bertukar hadiah, mengirim kartu ucapan, hingga berkencan. Kasih sayang datang dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.

“Jadi, orang tua sayang kita dan kita sayang orang tua.  Jadi, ketika kita diminta terapkan protokol kesehatan, maka kita juga harus sadar untuk selalu terapkan protokol kesehatan. Supaya, kita tidak tularkan Covid 19 ke orang tua. Sesederhana itu bagian dari rasa sayang yang kita tunjukkan, tapi punya makna yang besar,” bebernya.

Tidak sampai di situ, Glenn mengaku bahwa kepedulian merupakan wujud dari rasa sayang itu sendiri. Glenn berkisah di mana sejak pandemi Covid 19 mulai merebak di Kota Jayapura khususnya, ada kesenjangan secara sosial yang terjadi, mulai dari keluarga hingga sahabat sekolah.

Apalagi, pembatasan waktu aktivitas yang merupakan bagian dari kebijakan pemerintah perihal protokol kesehatan, sehingga tidak membuatnya luwes seperti biasanya, mulai dari berkumpul, nongkrong, ngobrol, hingga bersenda gurau, yang mana memang menjadi media untuk mempererat hubungan sosial.

“Tapi kita juga pahami bahwa pemerintah buat ini agar kita tidak kena Covid 19. Ini bagian dari kepedulian pemerintah kepada kita masyarakat, karena Covid 19 ini sangat berbahaya,” ujarnya.

Sama halnya juga dengan pembelajaran tatap muka yang hingga kini belum dimulai. Aktivitas sekolah hampir sepenuhnya dilakukan secara daring, mulai dari pertemuan virtual hingga tugas-tugas yang diselesaikan dengan menggunakan komputer. Glenn bahkan sempat mengenang masa-masa sekolah sebelum adanya Covid 19, di mana Ia rela datang lebih awal agar bisa ngobrol santai hingga bersenda gurau bersama teman-temannya, sebelum bel sekolah berbunyi.

“Ya (Covid) ini sangat membuat kita anak-anak sekolah ini susah. Apalagi kita yang SMK ini harus praktek, di mana praktek tidak bisa dilakukan secara online. Tapi kita harus bertahan. Bertahan dengan protokol kesehatan itu, agar mata rantai penularan Covid 19 itu bisa diputuskan,” jelasnya.

Sama halnya pula dengan Alessandro Linggi, seorang mahasiswa semester awal Institut PLN Jakarta. Alessandro memang belum sempat bertolak ke Jakarta untuk melanjutkan studinya karena hingga kini masih ada penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sehingga aktivitas perkuliahan tatap muka belum berjalan, hanya aktivitas perkuliahan online saja yang Ia lakukan dari Kota Jayapura.

“Makna kasih sayang di tengah pandemi ini, yang paling terasa buat saya yaitu waktu mau keluar rumah di tengah pandemi Covid 19 baru masuk di Papua, khususnya Kota Jayapura. Waktu itu ada pembatasan sosial dan saya mau keluar rumah untuk sekadar beli pulsa. Memang tidak jauh dari rumah, tapi saya tidak izin. Jadi pas pulang, mama sudah tunggu, tanya saya dari mana,” terang Alessandro Linggi.

Walaupun menurutnya hal itu sangat sederhana dan mungkin tak harus sampai dipersoalkan, dirinya sadar bahwa situasinya berbeda, yakni di tengah Covid 19 yang merebak.

“Karena mama juga kan di usia yang rentan. Makanya, itu saya rasa menyesal sekali keluar rumah tanpa izin, walaupun sekadar beli pulsa di dekat rumah saja. Tapi dari situ saya merasa bahwa orang tua memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap anaknya, sehingga sebaliknya kitapun harus juga peduli, harus sayang orang tua, untuk tidak membahayakan kesehatan mereka akibat penularan Covid 19,” tambahnya.

Sedangkan untuk Gerhard Ebenheazer, lulusan SMA Kalam Kudus Kota Jayapura tahun 2020, mengaku bahwa protokol kesehatan menjadi hal utama yang selalu dilakukan. Menurutnya, penerapan protokol kesehatan itu sangat sederhana, seperti mengenakan masker, rajin cuci tangan, menjaga jarak, serta tidak berkumpul.

Sesederhana penerapan protokol kesehatan itu memiliki makna yang sangat besar, yakni menunjukkan kepedulian kepada orang lain agar tidak terpapar Covid 19, di samping menjaga diri sendiri untuk tidak terpapar penyakit yang sama.

“Apalagi kan kita tinggal di rumah dengan keluarga, di mana ada orang tua dan oma (nenek). Artinya mereka ini rentan, sehingga kalau kita keluar rumah tanpa prokes, maka kita membahayakan kesehatan mereka. Makanya, kalau ketat terapkan protokol kesehatan, selain kita menjaga diri kita sendiri, kita menjaga orang lain juga, terutama keluarga,” pungkasnya.(*/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *