Tahun ini, Lapas Doyo akan Rehabilitasi 60 Warga Binaan

Proses penandatanganan kerja sama rehabilitasi antara Lapas Narkotika Doyo dengan sejumlah stakeholder di Lapas Narkotika Doyo, Rabu (10/2). (FOTO: Robert Mboik Cepos)

SENTANI- Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Doyo akan melaksanakan program rehabilitasi terhadap 60 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Narkotika Doyo.

Untuk melaksanakan program itu, pihak Lapas telah menjalin kerja sama dengan pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Jayapura, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial. Pembukaan pelayanan rehabilitasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepakatan kerja sama dengan sejumlah pihak di Lapas Narkotika Doyo, Rabu (10/2).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia Provinsi Papua, Anthonius Mathius Ayorbaba, SH, M.Si mengatakan,  program rehabilitasi itu merupakan program yang dilaksanakan secara nasional oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Dan tahun ini, untuk Lapas Narkotika Doyo ada  60 orang yang akan mengikuti program rehabilitasi tersebut.

Program rehabilitasi ini melibatkan sejumlah pihak terkait mulai dari kepolisian, BNN, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial dan Kantor Kementerian Agama.

” Ini sebuah sinergitas yang baik dan saya harap bagi 60 narapi dana ini benar-benar mengikuti program tersebut dengan baik. Karena selama 6 bulan mereka akan dibina dengan pendekatan rehabilitasi sosial,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lapas Narkotika Doyo, Samaludin Bogra mengatakan, tahun ini pihaknya sebenarnya mendapat jatah 100 orang yang akan direhabilitasi, tetapi setelah adanya refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19, akhirnya dikurangi menjadi 60 orang saja.

” Kegiatan ini sudah mulai dilaksanakan sejak Januari tahun ini, bekerjasama dengan BNN dan sejumlah pihak terkait,”ungkapnya.

Menurutnya, kerja sama dengan BNN Kabupaten Jayapura itu dalam bentuk melakukan skrining atau pemeriksaan kesehatan terhadap seluruh warga binaan yang ada di Lapas Narkotika Doyo. Dari skrining itu pihaknya bisa mengetahui dan menentukan tingkat pengaruh dari penggunaan narkoba dari setiap warga binaan tersebut. Mulai dari kategori ringan sedang dan berat.

Kemudian dari hasil skrining itu, pihaknya akan mengambil langkah-langkah untuk penanganan rehabilitasi.

“Kalau yang masuk dalam kategori ringan, cukup dengan edukasi. Kemudian apabila masuk dalam kategori sedang baru ada intervensi medis. Tapi ketika masuk dalam kategori berat, perlu ada rehabilitasi medis. Karena sudah berpengaruh pada saraf dan jaringan tubuh yang lain,”ujarnya.(roy/tho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *