Penegakan Hukum, Kapolda Akan Kirim Pasukan ke Intan Jaya

Korban penembakan KKB di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, diturunkan dari pesawat saat tiba di Bandara Moses Kilangin, Timika, Selasa (9/2). ( FOTO: Humas Polda Papua for Cepos)

Korban Penembakan Dievakuasi ke Timika, Ratusan Warga Mengungsi ke Kompleks Pastoran

JAYAPURA- Polda Papua akan melakukan upaya penegakan hukum untuk menghadapi Kelompok Krimimal Bersenjata (KKB) yang terus menyerang aparat keamanan dan warga sipil di Kabupaten Intan Jaya.

Hal ini akan ditindaklanjuti dengan akan mengirim tambahan pasukan ke Intan Jaya.

“Penebalan pasukan sebanyak 200 hingga 300 personel ke Intan Jaya. Namun semua tergantung  sarana akomodasi yang kami minta lewat pemerintah daerah. Kalau itu cukup maka kekuatan akan kami pertebal lebih maksimal lagi,” tegas Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw via sambungan telepon, Selasa (9/2).

Lanjut Waterpauw, untuk pemulihan situasi di Intan Jaya, pihaknya telah berkoordinasi dengan Bupati Intan Jaya. Dimana bupati sendiri mengambil langkah cepat dengan membentuk satuan kerja yang melibatkan tokoh-tokoh yang cukup berpengaruh di Intan Jaya.

 “Kami meminta bupati segera bantu sarana prasarana tempat tinggal anggota untuk perkuatan dan penebalan pasukan di Intan Jaya. Kami menyusun cara bertindak untuk bagaimana melakukan upaya-upaya terkait dengan hukum terhadap pelaku,” jelasnya.

Secara terpisah, pimpinan perwakilan Gereja Katolik di Intan Jaya, Pastor Yustinus Rahangiar mengatakan, ratusan warga mengungsi ke kompleks Pastoran Gereja Katolik di Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya sejak Senin (8/2) malam. Hal ini disebabkan serangan KKB yang sudah memasuki Sugapa.

 “Sekira 300 orang yang mengungsi ke kompleks pastoran gereja di Bilogai. Para pengungsi merasa ketakutan pasca serangan kelompok bersenjata pada Senin sore yang menyebabkan seorang pemilik kios ditembak,” ungkap Pastor Yustinus saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, kemarin (9/2).

Warga yang mengungsi ini berasal dari tiga kampung yaitu Kumbalagupa, Bilogai dan Puyagiay. Mereka merasa sangat ketakutan dengan konflik yang sudah terjadi di Kabupaten Intan Jaya sejak beberapa hari terakhir.

 “Kalau aparat pemerintah kembali ke Intan Jaya dan ada kesepakatan TNI dan TPN-OPM untuk menyudahi kontak senjata dalam ibukota Intan Jaya, maka situasi Intan Jaya aman kondusif. Namun selama mereka masih ada dalam kota maka akan terus terjadi kontak tembak,” tuturnya.

 Ia juga menyebut sekolah dan Puskesmas di beberapa distrik di Intan Jaya tidak beroperasi. Pastor Yustinus menyebutkan yang beroperasi hanay di pusat kabupaten. Bahkan menurutnya, para guru memilih keluar dari Intan Jaya. “Ada juga sebagian warga yang mengungsi ke Nabire dan Timika,” tambahnya.

Sementara itu, warga sipil berinsial RNR (32) korban penembakan KKB di Kampung Bilogai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, sudah dievakuasi ke Timika, Selasa (9/2).

Korban mengalami luka tembak di bawah hidung kiri tembus rahang leher tembus bahu kanan. Saat ini korban dalam keadaan sadar, setelah sebelumnya mendapat perawatan di Puskesmas Bilogai.

 Pria 32 tahun itu dievakuasi ke RSUD Timika menggunakan pesawat Smart Air Aviation PK – SNK dari Bandara Bilogai Sugapa, Kabupaten Intan Jaya.

Kapolres Intan Jaya AKBP I Wayan G Antara mengatakan, korban sedang mendapat perawatan medis lebih lanjut dari tim dokter RSUD Timika. Sedang pasca kejadian penembakan di Sugapa, saat ini aparat gabungan TNI-Polri terus meningkatkan patroli di sekitaran TKP dan di Sugapa ibukota Kabupaten Intan Jaya.  “Intan Jaya masih siaga 1, kewaspadaan anggota 24 jam,” ucap Kapolres Wayan Antara saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos.

Ditambahkan, anggota selain berada di pos untuk berjaga-jaga, juga melakukan patroli gabungan menggunakan sepeda motor, berjalan kaki dan ada yang menggunakan mobil.

Sementara itu, Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni mengaku sudah menggelar pertemuan dengan Forkopimda Intan Jaya di antaranya dengan Kapolres dan Dandim, Senin (8/2).

Dalam pertemuan itu, ada beberapa keputusan penting yang diambil. Di antaranya, akan melakukan pertemuan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat dan pemuda di Sugapa. Nantinya, para tokoh adat, pemuda dan masyarakat akan melakukan pendekatan kekeluargaan dengan pimpinan KKB yang selama ini membuat terror di Intan Jaya.

“Pendekatan kekeluargaan ini paling tidak bisa melihat isi hati mereka, dengan harapan pemerintah bisa ajak mereka kembali baik-baik untuk menjadi masyarakat,” ungkap Bupati Natalis Tabuni saat dihubungi Cenderawasih Pos, kemarin.

Langkah lain yang akan dilakukan yaitu sesuai arahan Kapolda Papua melalui Wakapolda Papua dan Irwasda Papua bahwa ASN dan bupati, Rabu (10/2) hari ini bisa kembali ke Kabupaten Intan Jaya untuk melaksanakan tugas pelayanan pemerintahan. Nantinya juga akan dibentuk tim khusus adhoc untuk penanganan percepatan pemulihan kamtibmas di Intan Jaya.

Hal lainnya yaitu memfasilitasi keluarga korban penembakan untuk melakukan autopsi jenazah Pdt. Yeremia Zanambani, dimana Kapolres dan Dandim sudah siap membantunya. ‘Pemkab Intan Jaya siapkan anggaran tahun 2021 ini dalam melakukan autopsi. Termasuk dibahas terkait dokternya, Sarpras penunjang, keamanan dan lainnya,” ucapnya.

Selama ini keluarga korban penembakan Pdt Yeremia menolak dilakukan autopsi. Namun saat ini menurut Bupati Natalis Tabuni, ada sinyal dari keluarga almarhum. Mereka bersedia dilakukan autopsi. “Karena itu sekarang disiapkan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Diakui, dalam menjaga dan mendukung kamtibmas di Intan Jaya, diharapkan  TNI-Polri, Pemkab Intan Jaya dan semua stakeholder, harus bisa saling sinergi. “Jujur saja, dimana selama 5 tahun lalu di Kabupaten Intan Jaya tidak ada konflik senjata. Karena setelah dipelajari saat ini ternyata sudah ada oknum masyarakat yang memiliki senjata. Mereka berani melakukan tindakan kekerasan di mana-mana dan yang menjadi pertanyaan saat ini kenapa KKB di Intan Jaya sudah memiliki senjata lagi dan amunisi  yang dipakai tidak habis-habis. Jadi pemasoknya dari mana? Karena kalaupun ada senjata, kalau tidak ada amunisi tentu tidak bisa dipakai dan menjadi besi tua,” bebernya.

Kondisi ini menurut Natalis Tabuni, harus menjadi atensi aparat keamanan. Dalam hal ini Kepolisian untuk bisa melakukan pencegahan maupun memutus mata rantai pasokan amunisi tersebut.

“Termasuk masalah keamanan di Kabupaten Intan Jaya tentu ini Tupoksinya aparat keamanan sehingga harus ada pengamanan yang melekat kepada masyarakat, sehingga jangan sampai terus terjadi teror penembakan ke warga sipil,” pungkasnya. (fia/dil/nat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *