Mereka Meyakini Terunyan Dilindungi Kekuatan Niskala

Suasana pemakaman adat di desa Terunyan, Bangli, Bali, Kamis (29/1/2021). Pesona Desa Trunyan di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, memang berbeda dari daerah lainnya di Bali. Desa yang terdiri dari enam banjar ini terletak di dekat Danau Batur dan memiliki sejarah yang panjang. Desa ini terkenal dengan sistem penguburan mayat yang unik, berbeda dengan desa lainnya. Jenazah hanya diletakan di pohon besar, tanpa dikubur kedalam tanah. FOTO: HENDRA EKA/JAWA POS

Tradisi Pemakaman di Terunyan, Bali, dan Kesiapan Melakukan ’’Modifikasi’’

Terunyan sejauh ini aman dari paparan Covid-19. Tapi, bila kelak ada yang menjadi korban pandemi, para tokoh di desa yang dikenal dengan pemakaman tanpa dikubur itu sudah menyiapkan jalan tengah.

Agus Dwi Prasetyo, Bangli, Jawa Pos

I WAYAN Arjana menunjuk ke sudut terpencil desa yang dipimpinnya. Sebuah pemakaman yang hanya bisa diakses lewat jalur air.

’’Kepercayaan masyarakat di sini (Desa Terunyan, Red) itu (jasad) sangat penting dimakamkan di sana,’’ kata kepala desa Terunyan I, Bangli, Bali, itu saat ditemui Jawa Pos Kamis dua pekan lalu (28/1).

Pemakaman yang dimaksud dikenal dengan nama Setra (Kuburan) Wayah. Kebanyakan orang mengenalnya dengan Kuburan Terunyan. Tempat pemakaman tanpa menguburkan jenazah.

Letaknya 10–15 menit dari permukiman. Jawa Pos mengunjungi pemakaman khas itu dengan menyewa perahu boat milik warga setempat.

Dari dermaga Desa Terunyan, perahu tersebut melintasi Danau Batur menuju ke dermaga Kuburan Terunyan yang sedang direnovasi. Selama perjalanan singkat itu, pemandangan Gunung Batur yang amat indah meski diselimuti awan mendung menjadi sajian utama.

Setiba di dermaga Kuburan Terunyan, papan imbauan setinggi sekitar 2 meter menjulang di samping gerbang makam. Di plang itu tertulis beberapa larangan. Di antaranya, berkata-kata kasar, mengambil barang-barang di sekitar kuburan, melakukan hal-hal tidak sopan, dan membuang sampah sembarangan. Aturan lainnya, pengunjung wajib menggunakan pakaian sopan.

Suasana sakral terasa ketika Jawa Pos melangkahkan kaki di gerbang Setra Wayah. Dua tengkorak manusia berjejer di sisi luar gerbang.

Di sisi sebaliknya, terdapat patung mirip manusia mengenakan selendang merah di bagian pinggang. Matanya membelalak menghadap lurus ke depan.

Tengkorak dan patung itu seolah-olah menyambut pengunjung yang datang ke makam tersebut. Tak jauh dari situ, tampak ratusan tengkorak manusia berjejer rapi di undakan bertingkat.

Dari gerbang tersebut, lokasi pemakaman jasad manusia tanpa dikubur sekilas terlihat. Jasad yang baru dimakamkan diletakkan dalam sangkar bambu berbentuk kerucut.

Dari kejauhan, bau anyir sesekali menyeruak. Semakin dekat, bau itu kian terasa. Sebab, ada beberapa jasad yang belum lama dimakamkan.

Sandal karet, sepatu, bungkus rokok, botol parfum, pasta gigi, panci, wajan, dan beberapa perkakas dapur lain terlihat berserakan di sekitar sangkar bambu. Ada pula keranjang berisi koin dan uang lusuh. Benda-benda itu sengaja ditinggalkan pelayat seusai upacara pemakaman. Benda-benda itulah yang dilarang untuk diambil. Konon, belum ada yang pernah berani mengambil benda-benda tersebut.

Tak jauh dari sangkar bambu, pohon tinggi besar tumbuh rimbun menjulang dan menutupi pohon-pohon lainnya. Warga setempat menyebutnya pohon taru menyan.

Sejak ratusan tahun masyarakat Terunyan yang tergolong penduduk Bali Aga (Bali pegunungan) itu percaya bahwa pohon tersebut mengeluarkan aroma wangi. Keharuman itulah yang menjadi alasan utama lokasi tersebut dijadikan pemakaman tanpa perlu repot-repot menggali tanah.

’’Pemimpin desa (dulu) mengarahkan masyarakatnya yang meninggal harus dimakamkan dekat pohon itu (taru menyan, Red),’’ ungkap Arjana.

Hingga sekarang, masyarakat Terunyan percaya bahwa roh orang yang meninggal akan menjadi suci jika dimakamkan di kuburan tersebut. Keyakinan itu berbeda dengan kepercayaan umat Hindu di Bali pada umumnya yang menyucikan roh manusia yang meninggal melalui upacara pembakaran jasad atau ngaben.

Arjana menyatakan, ritual penyucian roh manusia meninggal di kuburan Terunyan masih berlangsung hingga sekarang meski di masa pandemi Covid-19 sekalipun. Namun, tidak perlu khawatir. Sebab, sampai saat ini belum ada jasad manusia meninggal akibat Covid-19 yang dikuburkan di makam itu. ’’Di sini (Desa Terunyan) belum ada yang kena Covid,’’ ujar pria 37 tahun tersebut.

Lantas, bagaimana jika ada warga yang meninggal akibat Covid-19? Sebagaimana diketahui, aturan protokol kesehatan (prokes) mensyaratkan jenazah Covid-19 dikubur di dalam tanah untuk mencegah persebaran virus. Arjana mengatakan, hal itu sempat menjadi perdebatan dan perhatian pemerintah daerah (pemda), khususnya dinas kesehatan (dinkes) setempat.

’’Karena mereka (pemerintah) tahu ada tradisi seperti itu (pemakaman tanpa dikubur) di sini (Terunyan, Red),’’ ungkapnya.

Untuk mencari solusi, rapat besar dengan melibatkan tokoh adat dan tokoh desa pun dilakukan. Mereka mencari jalan tengah untuk menyiasati pemakaman jasad yang meninggal akibat Covid-19. Dengan berbagai pertimbangan, para tokoh yang hadir dalam musyawarah akhirnya sepakat untuk mengubur jasad Covid-19. ’’Tapi, mudah-mudahan itu (warga meninggal akibat Covid-19, Red) tidak terjadi,’’ jelas kepala desa yang menjabat sejak 2014 itu.

Lokasi penguburan nanti, kata Arjana, tidak berada di kawasan Setra Wayah. Arjana menjelaskan, di desa tersebut terdapat tiga lokasi pemakaman.

Selain Kuburan Terunyan, masih ada dua tempat pemakaman lain. Yakni, Setra Alit dan Setra Bantas. Setra Alit diperuntukkan jasad usia anak-anak. Kemudian, Setra Bantas dikhususkan bagi penduduk yang meninggal karena kecelakaan, pembunuhan, atau luka keras. ’’Kalau di Setra Bantas, itu (jasad) dikubur,’’ tuturnya.

Arjana berharap tidak ada warga yang terpapar Covid-19. Meski, dia menyadari sebagian besar warga di desanya tidak menerapkan protokol kesehatan ketat seperti daerah-daerah lain.

Sebab, penduduk setempat meyakini bahwa Terunyan ’’dilindungi’’ kekuatan niskala, sesuatu yang tidak terlihat. ’’Niskalanya sangat besar di sini,’’ ujarnya. ’’Setiap kegiatan sembahyang ke pura, semua masyarakat hadir,’’ imbuhnya.

Di Terunyan, terdapat pura besar yang dikeramatkan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan penduduk setempat. Namanya Pura Pancering Jagat. Di pura itu, pementasan tari barong brutuk dilaksanakan setiap purnama kapat.

Konon, pementasan itu menjadi pertanda turunnya Tuhan dalam manifestasi Ratu Gede Pancering Jagat, Ratu Ayu Dalem Pingit, dan Ratu Sakti Maduwegama. Sosok sakral itulah yang dikaitkan dengan niskala yang melindungi Terunyan dari mara bahaya. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *