Banyak Sampah Aneh Dalam Hutan Perempuan

Para pegiat lingkungan dari Rumah Bakau Jayapura menyisir pinggiran hutan bakau usai mengumpulkan sampah di hutan perempuan Entrop, Minggu Ahad (7/2). Dari pengumpulan sampah selama 1 jam diperoleh 106 Kg sampah. (Gamel Cepos)

JAYAPURA –  Aksi grebek sampah yang dilakukan Rumah Bakau Jayapura di hutan perempuan Hanyaan mendapati sejumlah sampah yang tak biasa. Banyak sampah di luar dugaan ditemukan di lokasi yang harusnya terjaga karena menjadi dapur bagi masyarakat kampung Engros maupun Nafri.  Di lokasi hutan mangrove sering digunakan untuk mencari bia atau kerang dan selanjutnya dijadikan makanan sehari – hari maupun dijual.

Hanya saja hingga kini persoalan sampah masih saja menjadi hal klasik di hutan mangrove dan nyata mengganggu habitat yang hidup dikawasan ekosistem mangrove. Dari grebek selama satu jam ini para penggiat lingkungan mendapati sampah mendapati 106 Kg. “Sudah hampir 3 bulan  kami tak masuk untuk melakukan pembersihan sampah dan hanya 1 jam kami bisa mengumpulkan 106 Kg,” kata Meike Rottie, salah satu koordinator Rumah Bakau Jayapura, Ahad (7/2). Ia menyebut dari 106 Kg sampah ini mereka juga mendapati sampah yang tak biasa, salah satunya adalah bohlam lampu.

“Sebelumnya kami mendapati obat yang dibungkus termasuk helm proyek tapi kemarin kami mendapati bantal maupun bola lampu. Ada lampu neon dan lampu yang berbentuk spiral,” tambahnya. Ditambahkan Ikbal Asra bahwa grebek sampah kali ini sekaligus mengajak  kelompok muda lainnya untuk mengenal kawasan ekosistem mangrove. “Jadi ada puluhan anak muda yang memang penasaran dan tertarik dengan hutan bakau ini sehingga kami coba fasilitasi dan mengajak masuk untuk mengenal langsung bagaimana kondisinya,” beber Ikbal.

Disini juga terungkap jika masih ada warga yang tinggal dikawasan pesisir yang suka “nyampah”. “Kami perhatikan disekitar rumah itu banyak sampah yang dibungkus plastik dan dibuang  begitu saja ke hutan bakau. Ini miris sebenarnya karena jaman sekarang masih banyak orang yang tak paham soal bagaimana menjaga kawasan ini,” imbuh Ikbal. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *