Waspadai Tanda-tanda Alam

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray (kemeja kotak-kotak) bersama Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring dan kepala BPDAS Mambramo, Dr. Mahendro saat meninjau sungai Nauli di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Kamis (4/2). ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

Tindak Lanjut Pemantauan Sungai – sungai di Cagar Alam Pegunungan Cycloop

JAYAPURA –    Curah hujan yang cukup tinggi dalam sebulan terakhir dimana diprediksi akan berlanjut hingga bulan depan disikapi Balai Besar KSDA Papua dengan melakukan pemetaan potensi banjir maupun longsor.

Pemantauan terfokus pada empat aliran sungai yang berhulu di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Wilayah Kabupaten Jayapura. Tujuannya adalah mengantisipasi terjadinya banjir dan longsor agar tidak berdampak bagi masyarakat yang bermukim disekitar kawasan. Tim yang terdiri dari BBKSDA Papua, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, BPDAS HL Memberamo, dan MMP Resort Sentani menggunakan dua drone untuk memotret dari udara.

Hasilnya yakni pertama, Sungai Makanuay di Kampung Doyo Baru dipantau sejauh 700 meter dari batas kawasan dan diakui kondisi air sedang keruh namun tetap mengalir normal. Tim memastikan tidak terdapat longsoran yang berpotensi menutup sungai. Begitu juga dengan Sungai Taruna di Kelurahan Hinekombe yang dipantau sejauh 800 meter dengan kondisi yang sama termasuk Sungai Sereh (Air Terjun Pos Tujuh) di Kampung Sereh. Tim memantau sejauh 800 meter dari batas kawasan dengan kondisi air yang memangs edang namun mengalir normal.

Sama seperti dua sungai sebelumnya, di sungai ini juga tidak terdapat longsoran yang berpotensi menutup badan sungai. Namun untuk Sungai Eboy di Kelurahan Toladan tim memantau sejauh 300 meter dari luar kawasan dimana  pada anak Sungai Eboy ada yang mengering dan terdapat sedikit longsoran.   “Berdasarkan informasi dari MMP Resort Sentani, longsoran pada anak Sungai Eboy terletak sekitar 2.5 km dari batas kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Selama proses pemantauan ini, kondisi cuaca kurang mendukung. Tim merencakan pemantauan selanjutnya pada Senin (8/2),” kata Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring S.Hut., M.Si dalam rilis yang dikirim, Minggu (7/2).

   “Posisi longsor ini pada ketinggian 300 mdpl, masih di luar kawasan Cagar Alam tetapi bagian dari Pegunungan Cycloop. Jadi ini adalah kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Longsoran ini sebenarnya terjadi setahu lalu, jadi bukan baru. Namun, berpotensi menutup aliran sungai. Ketika debit air meningkat, curah hujan ekstrim, air akan mengalir melalui jalur ini selain jalur utama di Sungai Eboy. Ini berpotensi membawa material ke tempat yang lebih rendah, sehingga perlu diwaspadai.” Katanya.

Edward mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan jeli terhadap tanda-tanda alam. Dengan demikian, tidak terjadi lagi dampak kerugian yang besar seperti banjir bandang tahun 2019 silam. “Kita sama-sama berdoa, semoga tidak akan terjadi lagi banjir bandang. Kalaupun terjadi, kita sudah punya persiapan sehingga bisa meminimalkan dampaknya. Semoga situasi tetap kondusif dan masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa,” pungkas Edward.(ade/wen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *