Tiga Bayi Laki-Laki Lahir dan Semua Diberi Nama Ksatria Airlangga

Ksatria Airlangga, salah satu bayi yang dibantu proses kelahirannya di RSTKA kemarin.

Menyisir Pantai, Naik Turun Gunung, Membantu Korban Gempa Sulbar (2-Habis)

Ada korban gempa yang harus setengah mati dibujuk agar mau dirujuk ke Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. Ada pula yang demikian berterima kasih karena telah ditolong. Berikut catatan penutup wartawan Jawa Pos SEPTINDA AYU PRAMITASARI yang mengikuti langsung kiprah para relawan.

’’SAKIT, Dok,’’ ujar Sri Wahyuni dengan wajah sedikit mengernyit menahan sakit. Di hadapannya, dr Agus Harianto SpB (K) tengah sibuk merawat tangan kanannya.

Seolah-olah tak mendengar keluhan Sri, Agus terus berupaya mengajak ngobrol warga Desa Tubo Puan, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), itu. Mengalihkan perhatiannya dengan obrolan-obrolan yang menenangkan dan meyakinkan.

Saya dan dua relawan apoteker, Brisbane dan Evanda, pun berusaha membantu semampunya. ’’Sebaiknya, Ibu dirontgen dulu. Biar tahu kondisi tulangnya. Kalau ada yang patah, nanti diberi tindakan operasi di RSTKA,’’ bujuk Agus.

Sri terjatuh saat berusaha lari dari rumah ketika gempa menghembalang Majene dan Mamuju pada 14 Januari lalu. Tangan kanannya tertimpa bangunan.

Tahu-tahu perban yang lama telah diganti baru. Sementara itu, tangan kanan Sri yang patah masih dibalut dengan kayu bambu yang biasa digunakan sebagai gips pada pengobatan-pengobatan tradisional di Majene. Agus pun langsung menyangga tangan kanannya dengan kain panjang yang dikalungkan di leher Sri.

’’Kalau disangga seperti ini, tangan tidak akan turun ke bawah. Jadi, tidak sakit. Telapak tangannya jangan lupa sering dibuka tutup, lama-lama bengkaknya berkurang,’’ jelas direktur Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) itu.

Sri yang semula menolak ditangani merasa lebih nyaman. Dia pun mulai percaya akan pengobatan medis.

Agus langsung meminta pegawai puskesmas setempat untuk segera membantu mengantarkan korban ke RSUD Majene esoknya. Kemudian dibawa ke RSTKA untuk dicek kondisi tangan kanannya secara lebih detail.

Tapi, tak semua korban gempa yang butuh penanganan medis lebih lanjut gampang disadarkan seperti Sri.

*

Mobil Avanza milik Ikatan Apoteker Indonesia (IPI) itu langsung melaju ke Puskesmas Malunda di Kecamatan Malunda. Kecamatan tersebut merupakan lokasi gempa terparah di Majene.

Ribuan rumah warga hancur. Bahkan, beberapa korban meninggal dan luka-luka. Lokasinya sekitar 40 menit dari Kecamatan Ulumanda, tujuan pertama dalam penyisiran kami pada Minggu lalu (31/1) itu.

Dokter Ega, dokter kontrak Puskesmas Malunda, mendampingi kami ke lokasi tenda pengungsian di Desa Lombong Timur. Lokasinya berada di sebelah tebing batu padas. Cuaca terik menambah gersang suasana tenda pengungsian. Panas sekali.

Ega mengarahkan kami ke tenda pengungsian terbesar paling ujung. Di dalamnya ada seorang perempuan tua yang hanya bisa duduk selonjoran.

Kaki kanannya ditutup kain jarit. Tangannya sibuk membawa sobekan kardus dan mengipas-ngipaskan ke kakinya agar lalat-lalat yang merubung kaki pergi. Sudah hampir tiga minggu dia duduk seperti itu menahan sakit dan pegal.

Namanya Rosmah. Perempuan 54 tahun itu mengalami patah tulang terbuka pada kaki kanan. Kondisinya cukup parah.

Ega memasuki tenda pengungsian, disusul rombongan kami. Wajah Rosmah terlihat sedikit kurang senang. Sebab, kedatangan kami bukan kali pertama.

Sebelumnya, saya bersama dr. Diar Mia Ardani SpTHT-KL (K) sempat mengunjungi Rosmah. Membujuknya agar mau dibawa ke RSTKA. Namun, dia memilih pengobatan tradisional yang dilakukan sejak awal tertimpa reruntuhan rumah.

Agus berusaha mendekat, melihat kondisi luka di kaki Rosmah. Tampak kakinya sudah membengkak dan infeksi. Selama ini, kaki kanan Rosmah hanya diobati secara tradisional oleh orang yang dianggap pintar dalam pengobatan di daerahnya.

’’Ibu, sebaiknya kakinya difoto (rontgen, Red) biar tahu kondisi patah tulangnya seperti apa,’’ kata Agus membujuk dengan halus.

Rosmah tidak menjawab. Tanda menolak. Anaknya pun mendukung sikap ibunya. ’’Tidak usah, Dokter. Kaki ibu saya tidak boleh digerak-gerakkan,’’ ujar anak Rosmah.

Agus menyatakan, kaki kanan Rosmah mengalami patah tulang terbuka (open fracture). Juga telah terjadi infeksi dan pembengkakan.

Jadi, harus dilakukan tindakan operasi secepatnya agar bisa sembuh. Untuk memastikan kondisi kaki kanan korban, dibutuhkan foto rontgen.

’’Ini kalau tidak segera dioperasi akan bertambah parah dan penyembuhannya semakin lama,’’ jelas Agus kepada Rosmah.

Rosmah bergeming. Dia mengaku sudah mendapat pengobatan tradisional dan penyembuhannya memang membutuhkan proses yang cukup panjang. ’’Sudah, diobati tradisional saja, Dokter,’’ ujarnya.

Bahkan, Rosmah juga menolak perban di kaki kanannya dibuka untuk dicek kondisinya. Berkali-kali dibujuk pun tidak mau. Termasuk oleh petugas Malunda.

Agus pun mengambil cara lain untuk membujuk Rosmah. Dia mendatangi kepala desa Lombong Timur. Bekerja sama untuk membujuk dan merayu warganya yang menjadi korban gempa agar mau diobati secara medis di RSTKA.

Tapi, waktu kami terbatas siang itu. Tak bisa menunggu persuasi kepala desa kepada Rosmah dan warga lain agar mau dirujuk ke RSTKA.

*

Dari Pelabuhan Palipi di Majene, RSTKA langsung berlayar ke Pelabuhan Feri Mamuju setelah mendapat surat resmi dari RSUD Regional Sulbar Kamis lalu (4/2). Perjalanan ditempuh dalam waktu tujuh jam jalur laut.

Kapal yang telah menjelajah berbagai pulau di tanah air tersebut akan dijadikan tempat tindakan operasi oleh RSUD Regional Sulbar hingga terbentuk RS darurat di Mamuju.

Dan, sehari di ibu kota Sulbar itu, ruang Operatie Kamer (OK) RSTKA langsung sibuk kemarin sore (5/2). Ada tujuh pasien yang akan dioperasi persalinan.

Satu di antaranya kasus di luar kandungan dan empat kasus lainnya section Caesar. Operasi tersebut diselesaikan hingga pukul 18.00. Tiga ibu hamil sisanya dilanjutkan setelah isya.

Fahmi mengatakan bahwa semua section Caesar tersebut rujukan dari pedalaman dan pegunungan. Kasus tersebut memang emergency.

Rata-rata mengalami fetal distress atau gawat janin, preeklampsia, atau tekanan darah tinggi saat kehamilan. Juga kasus makrosomia dan pecahnya rahim.

’’Alhamdulillah, semua kasus bisa terselamatkan,’’ katanya.

Tiga Ksatria Airlangga itu masing-masing anak Sawitri, Fatma, dan Ramla. Tiga ibu tersebut berasal dari daerah pegunungan di Mamuju Tengah, sekitar 30 kilometer dari pusat kota.

’’Pasien sendiri ingin menamakan bayinya Ksatria Airlangga. Mereka berterima kasih bahwa Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga menjadi tempat menolong proses kelahiran anak mereka,’’ ujarnya. (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *