Semakin Dibongkar  Semakin Asik, Waktu 1 Jam Terasa Kurang 

Novalien sedang memilih baju cakar bongkar yang tersedia di Pasar Youtefa, Sabtu (6/2) kemarin. ( FOTO: Yohana/Cepos)

Melihat Usaha Cakar Bongkar di Jayapura

Bicara soal cakar bongkar, hampir tidak ada habisnya. Meski di Indonesia sudah banyak pabrik tekstil yang menyediakan berbagai pakaian baru dan menarik, namun hal tersebut tidak membatasi minat masyarakat Indonesia untuk membeli pakaian bekas seperti Cakar Bongkar!

Laporan: Yohana_Jayapura

Istilah Cakar Bongkar yang identik dengan pakaian  bekas, sangat familier bagi masyarakat dan biasa disingkat dengan sebutan Cabo.

Berburu pakaian bekas, seperti baju dan celana, juga korden dan lain-lain dengan harga relatif terjangkau dan barang yang berkualitas, ternyata banyak diminati masyarakat.

Cakar Bongkar sendiri memiliki segmen pasar yang berbeda, kebanyakan kalangan ibu rumah tanggan serta kalangan mahasiswa dan kalangan millennial yang suka berburu pakaian bekas.

Tidak heran jika sampai di tempat penjualan cakar bongkar, setiap orang bisa menghabiskan waktu lebih dari 1 jam. Hanya untuk memilih baju atau celana baik dewasa maupun anak-anak.

Rasanya waktu 1 jam tidak cukup, jika belum menemukan yang terbaik. Banyak pilihan yang ditawarkan penjual Cabo. Ada yang sudah digantung di hanger. Ada juga yang masih ditumpuk.

Untuk yang di hanger biasanya  untuk jaket dan kemeja. Sementara untuk baju kaos dan celana pendek serta barang yang baru dibongkar, oleh penjual hanya ditumpuk saja dan konsumen memilih sendiri. Tidak hanya fokus memilih pakaian, tawar menawar harga pun selalu terjadi diantara penjual dan pembeli.

Hal ini yang membuat pembelanjaan cakar bongkar semakin seru jika semakin banyak konsumen, semakin dibongkar semakin asik untuk dipilih.

Khusus di Jayapura, cakar bongkar bisa ditemukan di Pasar Hamadi, Pasar Youtefa dan juga Pasar Pharaa Sentani.  Stok pakaian cakar bongkar yang dijual semuanya didatangkan dari Jakarta, biasanya dibeli per koli dan kemudian dikirim ke Jayapura menggunakan kapal laut.

Seperti halnya Indah, penjual Cabo di Pasar Youtefa menjelaskan, dirinya berjualan cakar bongkar atau cabo ini sudah lebih dari 10 tahun. Kala itu baru 1 koli setiap bulan  ia datangkan dari Jakarta.

‘ ’Isi dari 1 koli itu terdiri dari barang campuran seperti baju, celana, jaket dan juga pakaian anak. Sekarang dirinya bisa datangkan 2-3 koli dengan barang yang berbeda beda, seperti pakaian dewasa, pakaian anak dan juga selimut maupun seprei kadang juga gorden,’’jelasnya.

Pihaknya hanya menadah barang dari Jakarta. Sementara asal usul Cabo itu sendiri berasal dari negara mana saja kami kurang paham. Tetapi paling banyak dari Korea dan China,”ujarnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (6/2) lalu.

Lanjutnya, setiap tahun kualitas dan koleksi Cabo semakin baik dan juga semakin banyak.

Setiap harinya pasti ada saja konsumen yang mencari Cabo, mulai dari celana pendek, celana training, baju kaos, kemeja hingga dress dewasa maupun anak-anakl.

  Harga yang ditawarkan juga bervariasi, ada yang Rp 100 ribu 3 untuk celana pendek/baju kaos, ada yang Rp 50 ribu/lembar untuk koleksi switter, jaket, k3meja, blus dan celana pendek, bahkan ada juga yang Rp 100 ribu/lembar.

“Harga yang kami sediakan mulai dari Rp 15 ribu/lembar sampai Rp 100 ribu/lembar untuk koleksi baju, celana. Sementara untuk koleksi jaket dan switter Rp 50 ribu- Rp 120 ribu/lembar dan untuk seprei, selimut, gorden dan bad cover Rp 150 ribu- Rp 250 ribu. Harga tergantung kualitas,” jelasnya lagi.

Permintaan Cabo sendiri tidak hanya penjualan offline tetapi juga online shop juga sudah banyak yang menawarkan cabo. Khusus untuk penjualan online sering dipasarkan melalui media sosial dengan cara siaran langsung.

  Diakuinya, dampak Covid-19, rata-rata aktivitas pembelian cabo secara langsung sempat mengalami penurunan, sehingga pemanfaatan penjualan online pun mulai dilirik oleh penjual cakar bongkar.

Tidak hanya di Youtefa,  untuk Pasar Central Hamadi,  Dian menjelaskan bahwa dirinya usaha cakar bongkar sejak 5 tahun terakhir. Dirinya menilai penjualan cakar bongkar lebih hemat dan menguntungkan khususnya bagi mereka para pemula, dibandingkan menjual pakaian baru.

“Khusus di Jayapura peminat Cabo masih tinggi, hampir semua kalangan masyarakat suka menggunakan pakaian Cabo,. Di Cabo paling banyak menyediakan celana pendek bahan levis yang mana sangat diminati oleh masyarakat di Jayapura,” terangnya.

Sementara, Dewi penjual Cakbo di Pasar Pharaa Sentani, menjelaskan untuk trend Cakbo di sentani, masih paling banyak dicari celena pendek dan baju kaos. Harga yang disediakan relatif terjangkau mulai dari Rp 20 ribu – Rp 100 ribu/lembar dan  ada juga yang 3 buah Rp 100 ribu.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *