Landasan Ahmad Yani Normal, Jalur Kereta Masih Tergenang

Permukiman, jalan di perko taan, kawasan Kota Lama, jalur pan tura, stasiun kereta, hingga landasan pacu bandara di Semarang te rendam banjir. Hujan deras sejak Jumat (5/2).

JAKARTA, Jawa Pos-Hujan deras yang melanda sebagian wilayah Jawa Tengah dan Timur bagian utara menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Kota Semarang adalah salah satu yang terdampak paling parah.

Pada periode Jumat, 5 hingga 6 Februari 2021, Stasiun Klimatologi Kota Semarang mencatat curah hujan tinggi hingga ekstrem di wilayah Kota Semarang. Wilayah Semarang bagian barat yakni Kecamatan Tugu, Ngaliyan, Mijen sebelah utara hingga sebagian besar Kecamatan Semarang Barat mengalami curah hujan ekstrim yakni diatas 150 mm per hari.

Sementara wilayah lain seperti Semarang Selatan, Utara dan Timur, serta beberapa kecamatan seperti Mijen, Candisari, Gajahmungkur, Genuk dan Pedurungan juga mengalami curah hujan intensitas sangat lebat yakni 100-150 mm per hari. Sementara Kecamatan Banyumanik dan Tembalang mengalami curah hujan lebat di kisaran 50-100 mm per hari.

Hujan lebat hingga sangat lebat disertai kilat/petir terjadi pada Sabtu, 6 Februari 2021 pukul 02.00 hingga 05.30 WIB menyebabkan genangan di beberapa titik di wilayah Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah.

Stasiun Klimatologi Kota Semarang mencatat, peta sebaran curah hujan harian Kota Semarang pada 6 Februari 2021 pukul 07.00 WIB menunjukkan sebaran curah hujan dengan intensitas lebat-ekstrem.  Bahkan curah hujan pukul 07.00 WIB di Stasiun Meteorologi Ahmad Yani tercatat sebesar 171 mm.

Curah hujan tertinggi terukur di Pos Hujan Beringin Kecamatan Ngaliyan dengan curah hujan 183 mm, sementara curah hujan terendah di Pos Hujan Meteseh Kecamatan Tembalang yang tercatat 69 mm.

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Sukasno pada Sabtu lalu menyatakan bahwa pihaknya telah telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrim pada tanggal 6 Februari dari Pukul 01.30 WIB dan telah di update pukul 05.20 WIB. ”Kota Semarang termasuk salah satu wilayah yang masuk dalam Peringatan Dini tersebut, “  katanya.

Berdasarkan data AWS Stasiun Klimatologi Semarang, hujan terukur sejak jam 00.10 WIB.  Intensitas hujan mulai meningkat menjadi lebat – sangat lebat sejak pukul 02.10 WIB. Periode intensitas lebat – sangat lebat  berlangsung sampai dengan pukul 05.30 WIB.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Fachry Radjab mengungkapkan, bahwa curah hujan ekstrem bisa saja terjadi pada puncak musim hujan. Di wilayah langit Jawa sendiri BMKG belum melihat adanya fenomena atmosfir yang khusus. ”Tapi dalam skala lokal memang kondisi udaranya labil, banyak pertumbuhan awan konvektif (cumulonimbus,Red),” kata Fachry kemarin (7/2).

Menurut Fachry, faktor dinamika atmosfier sejauh ini yang berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan di Jateng sejauh ini adalah aktifnya angin monsun Asia  dan daerah pertemuan angin.   

Berdasarkan pengamatan pada citra satelit Himawari, awan konventif sudah mulai tumbuh pada dini hari tanggal 6 Februari 2021 pukul 02.00 WIB dan semakin bertambah hingga menjelang pukul 07.00 WIB.

Pertumbuhan awan tersebut memicu hujan yang terjadi di Kota Semarang dengan intensitas lebat sejak pukul 02.00 WIB. Hujan kemudian meningkat  intensitasnya menjadi hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem pada pukul 05:00 sampai 06.00 WIB, dan kemudian mulai menurun intensitasnya hingga pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan analisis terbaru , BMKG memperpanjang Peringatan Dini Hujan lebat hingga sepekan ke depan untuk wilayah Jawa Tengah. Setidaknya hingga 9 Februari, empat wilayah yakni Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Pemalang dan Batang berstatus siaga Sementara wilayah lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta berstatus waspada.

Sementara itu banjir menyebabkan sejumlah simpul-simpul transportasi di Semarang seperti Bandara, Stasiun, dan Pelabuhan tidak dapat beroperasi karena tergenang air.

Meski sempat tergenang pada hari Sabtu, Bandara Ahmad Yani Semarang sudah dibuka pada Minggu pagi kemarin. “Mulai Minggu pagi ini sudah bisa digunakan dengan catatan tertentu. Oleh karena itu saya ingin mengecek kondisi terkini di Bandara dan juga di Stasiun dan Pelabuhan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang langsung bertolak ke Semarang.

Terminal penumpang di Pelabuhan Tanjung Emas juga dikabarkan sempat terendam pada Sabtu pagi.  Namun Berdasarkan laporan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas pelabuhan KSOP Semarang, kondisi terminal penumpang di Pelabuhan Tanjung Emas pada hari Minggu berangsur-angsur mulai surut. KSOP Semarang telah menyiagakan pompa untuk menyedot genangan air.

Jalur Kereta Api juga sempat terganggu pada hari Sabtu karena genangan Banjir. Kondisi Stasiun Tawang dan jalur kereta api di sejumlah titik hingga Minggu pagi ini masih tergenang air sehingga perjalanan kereta api pagi masih belum bisa beroperasi. Sedangkan di Stasiun Poncol genangan air dilaporkan sudah surut.

PT KAI telah melakukan perubahan pola operasi pada perjalanan kereta api jarak jauh, dengan mengalihkan perjalanan ke jalur selatan dan juga melakukan pengalihan kepada penumpang ka dengan menggunakan transportasi bus.

Menhub Budi Karya Sumadi langsung menggelar pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Bandara Ahmad Yani, Semarang pada Minggu (7/2) untuk membahas rencana aksi penanggulangan musibah banjir di Semarang yang berdampak terhadap terganggunya operasional di simpul-simpul transportasi khususnya di Bandara dan Stasiun Kereta Api.

Menhub menjelaskan PT Angkasa Pura I juga akan melakukan langkah-langkah konkrit seperti menginventarisasi sistem pengendalian air, mengoptimalkan saluran pipa, menambah kapasitas pompa air untuk menyedot genangan air dengan cepat dan mengoptimalkan tanggul yang ada di bandara.

Sehari sebelumnya Menteri PUPR Basuki Hadimuljono telah memerintahkan semua Pompa untuk beroperasi.  Menurut Basuki, ada limpahan air ke Kota Semarang akibat luapan Kali Beringin Mangkang dan Kali Plumbon Kaligawe. Limpasan ini merupakan dampak siklus hujan lebat 50 tahunan. “Pada saat yang bersamaan, air pasang pun tingginya mencapai 1.4 meter,” ujar Menteri Basuki.

Untuk itu Menteri Basuki mengatakan akan memaksimalkan seluruh pompa air yang dikelola Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana.

Pemali Juana telah melakukan beberapa upaya penanganan untuk  mengatasi banjir di Kota Semarang diantaranya berupa pengoperasian pompa banjir dan pengiriman kantong pasir (sandbag). Pompa-pompa banjir tersebut diantaranya adalah Pompa Kali Sringin, Pompa Kali Tenggang, Pompa Tawang, dan Pompa Kali Banger.

Tiga pompa yang digunakan untuk mengeringkan kawasan Kota Lama Semarang yang terdampak banjir, pompa-pompa tersebut sudah beroperasi sejak Sabtu dini hari.

Kementerian PUPR secara bertahap dan terpadu juga telah melakukan berbagai upaya penanganan banjir Kota Semarang mulai dari hulu seperti pembangunan Bendungan Jatibarang hingga ke hilir seperti pembangunan kanal banjir, normalisasi sungai, tanggul rob, stasiun pompa, kolam retensi, termasuk Bendung Gerak di Kanal Banjir Barat (KBB).

Bendung Gerak tersebut berfungsi sebagai penahan intrusi air laut dan menjaga debit air, serta penggelontoran (flushing) sedimen sungai untuk pengendalian banjir di wilayah barat Kota Semarang. Pada saat musim hujan, bendung ini akan berfungsi menahan aliran air sungai yang masuk KBB dan pada saat elevasi 2,5 meter, kemudian akan dialirkan ke laut. Sementara saat musim kemarau, bendung sepanjang 155,5 meter tersebut berfungsi sebagai penampungan air atau long storage berkapasitas 700.000 meter kubik.

Sementara untuk penanganan banjir rob yang kerap terjadi di utara kota Semarang, telah dibangun sejumlah infrastruktur pengendali banjir dan rob yang dilakukan Kementerian PUPR bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Kota Semarang. Untuk menahan limpasan rob, dibangun tanggul rob yang membentang sepanjang 2,17 km dari Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), melingkari kawasan industri Terboyo hingga Kali Sringin.(tau/JPG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *